Pesan PWM DIY untuk IPM: Perkuat Tradisi Intelektual dan Maknai Kepemimpinan sebagai Amanah Dakwah

Pesan PWM DIY untuk IPM: Perkuat Tradisi Intelektual dan Maknai Kepemimpinan sebagai Amanah Dakwah

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) DIY yang berlangsung lancar dan kondusif. 

Dalam penutupan Musywil XXIV pada Ahad (19/4), Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Andy Putra Wijaya, S.E.I., M.S.I., menilai pelaksanaan Musywil IPM DIY mencerminkan kedewasaan organisasi. 

“Alhamdulillah Musywil berjalan lancar. Saya memantau sejak pagi, mengikuti perkembangan yang ada,” ujarnya dalam sambutan penutupan.

Menurut keyakinannya, tidak adanya konflik yang berlebihan menjadi bukti bahwa IPM DIY tetap menjaga tradisi musyawarah yang beradab sebagaimana yang dilakukan oleh pimpinan Muhammadiyah pada umumnya.

“Atas nama PWM DIY, kami mengucapkan selamat atas terselenggaranya Musywil XXIV IPM DIY yang telah menghasilkan program strategis serta kepemimpinan baru periode 2026–2028,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, Syauqi Marsa Taqiyuddin terpilih sebagai Ketua Umum, didampingi Saskya Physheta Vilaryvantya Tasya Salsabilla sebagai Sekretaris Umum PW IPM DIY periode 2026-2028.

Andy juga memberikan apresiasi kepada kepemimpinan sebelumnya di bawah Ketua Umum Naufal Labiba Wildan dan kawan-kawan yang dinilai berhasil mengawal perjalanan organisasi dengan baik meski diwarnai berbagai dinamika.

“Dinamika itu hal yang wajar dalam organisasi. Secara umum, kepemimpinan sebelumnya telah menjalankan amanah dengan baik,” katanya.

Kepada pimpinan baru, ia menegaskan bahwa jabatan dalam Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang diperebutkan, melainkan amanah yang harus diterima dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Amanah ini bukan beban, tetapi sarana dakwah. Di Muhammadiyah, apa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah, meskipun tidak ada imbalan materi,” tegasnya.

Lebih jauh, Andy menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi intelektual di kalangan pelajar Muhammadiyah. Ia mengaitkan kejayaan peradaban Islam pada masa klasik dengan kuatnya budaya keilmuan, diskusi, dan produktivitas gagasan.

Mengutip semangat ayat Nun wal qalami wa maa yasthurun, ia memaknai “pena” sebagai simbol produktivitas intelektual melahirkan ide, menulis, dan bertanggung jawab atas gagasan yang disampaikan.

“Pelajar Muhammadiyah harus dekat dengan tradisi intelektual. Diskusi, membaca, dan menulis harus menjadi budaya,” ujarnya.

Ia bahkan berbagi pengalaman saat aktif di IPM sebagai Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) tingkat cabang, di mana ia mendorong teman-teman kader pada masanya untuk membaca buku minimal 10–15 menit setiap hari dan melaporkannya dalam forum rutin sebagai bagian dari pembiasaan budaya literasi.

Di akhir sambutannya, Andy berharap IPM tidak hanya melahirkan kader persyarikatan, tetapi juga kader umat dan bangsa yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

“Jadilah kader umat dan kader bangsa, agar kehadiran IPM semakin bermakna,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow