Peringati Hari Sungai, Sapardiyono: Menjaga Sungai adalah Wujud Tugas Kekhalifahan Manusia

Peringati Hari Sungai, Sapardiyono: Menjaga Sungai adalah Wujud Tugas Kekhalifahan Manusia

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Sapardiyono, S.Hut., M.H., menegaskan bahwa menjaga kelestarian sungai bukan hanya persoalan lingkungan hidup, tetapi juga bagian dari amanah keagamaan sebagai khalifah di muka bumi.

Hal tersebut disampaikan saat membuka Diskusi Hari Sungai 2026 yang diselenggarakan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM DIY mengusung tema "Sungai Sehat, Lingkungan Lestari: Membangun Kolaborasi untuk Kehidupan Berkelanjutan" di Bhumi Krida Gambiran, Ahad (26/7).

Dalam sambutannya, Sapardiyono mengapresiasi MLH PWM DIY yang terus menghadirkan ruang dialog untuk membangun kepedulian terhadap pelestarian sungai. Menurutnya, sungai memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia sejak dahulu.

"Semua peradaban besar lahir di sekitar sungai. Sungai menjadi sumber air, sumber pangan, sekaligus penyangga kehidupan masyarakat," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi sungai saat ini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari pencemaran, sampah plastik, limbah domestik, penyempitan sempadan sungai, hingga kerusakan daerah tangkapan air. Berbagai persoalan tersebut, menurutnya, tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis.

Dalam perspektif Islam, lanjut Sapardiyono, kerusakan lingkungan berakar pada krisis moral dan spiritual manusia. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia.

"Kerusakan sungai bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral. Ketika orientasi ekonomi menjadi lebih dominan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan, maka kerusakan tidak dapat dihindari," katanya.

Sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki tanggung jawab untuk memelihara alam dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Menurutnya, berbagai disiplin ilmu seperti lingkungan hidup, kehutanan, dan pertanian harus menjadi instrumen untuk menjaga keberlanjutan bumi.

"Makna kemajuan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan," tegasnya.

Sapardiyono juga mengaitkan pelestarian sungai dengan semangat Teologi Al-Ma'un yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari upaya membela kaum lemah.

"Teologi Al-Ma'un tidak hanya diwujudkan melalui santunan kepada anak yatim dan bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga dengan memelihara sungai. Menjaga sungai berarti ikut menyelamatkan kehidupan masyarakat, terutama mereka yang paling bergantung pada kualitas lingkungan," ungkapnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa menjaga sungai bukan sekadar agenda lingkungan hidup, melainkan bagian dari pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia untuk memelihara bumi.

Di akhir sambutannya, Sapardiyono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam upaya penyelamatan sungai. Menurutnya, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak pemerintah, tetapi juga perguruan tinggi, dunia industri, organisasi masyarakat, termasuk Muhammadiyah, serta seluruh lapisan masyarakat.

"Pelestarian sungai adalah tugas kolektif. Dengan sinergi semua pihak, kita dapat mewariskan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow