Pembinaan PesantrenMu Jawa Tengah: Ikhtiar Menjadi Kawah Candradimuka Kader Ulama-Intelektual

Pembinaan PesantrenMu Jawa Tengah: Ikhtiar Menjadi Kawah Candradimuka Kader Ulama-Intelektual

Smallest Font
Largest Font

PEKALONGAN — Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (PesantrenMu) yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 7–10 Januari 2026 bukan sekadar agenda rutin peningkatan mutu kelembagaan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar ideologis Muhammadiyah untuk meneguhkan kembali pesantren sebagai pusat tajdid pemikiran Islam, ruang kaderisasi kepemimpinan umat, serta episentrum dakwah pencerahan di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.

Di saat pragmatisme pendidikan menguat dan lembaga pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar “pabrik ijazah”, Pesantren Muhammadiyah mengambil posisi yang tegas dan berjarak. Pesantren tidak diposisikan semata sebagai ruang transmisi pengetahuan agama, melainkan sebagai wahana pembentukan manusia seutuhnya—beriman secara mendalam, berakal kritis, berakhlak mulia, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial. Di titik inilah pesantren menemukan makna strategisnya sebagai institusi yang merawat nilai, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi penggerak peradaban.

Pembinaan regional PesantrenMu di Jawa Tengah yang melibatkan pesantren dari Karesidenan Pekalongan, Pati–Semarang, Kedu–Banyumas, dan Surakarta mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kualitas pesantren tidak ditentukan oleh besarnya jumlah santri atau kemegahan bangunan fisik. Mutu sejati justru bertumpu pada tata kelola yang sehat, kurikulum yang terintegrasi, serta nilai-nilai keislaman yang hidup dalam budaya keseharian santri, pendidik, dan pengelolanya. Pesantren hidup bukan karena temboknya, melainkan karena nilai yang mengalir di dalamnya.

Dalam konteks tersebut, Pesantren Muhammadiyah ditantang untuk terus mendialogkan warisan keilmuan Islam klasik dengan ilmu pengetahuan modern. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi dirawat dan diperbarui melalui dialog kreatif dengan realitas kekinian. Inilah hakikat tajdid yang menjadi identitas Muhammadiyah—pembaruan yang tidak memutus masa lalu, tetapi memperbarui cara berpikir, cara mendidik, dan cara mengelola lembaga agar tetap relevan dan mencerahkan masa depan.

Agenda pembaruan ini tidak dapat dilepaskan dari kaderisasi. Pesantren Muhammadiyah diharapkan menjadi ruang lahirnya ulama-intelektual dan pemimpin sosial, generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca zaman. Mereka tidak hanya piawai dalam teks-teks keagamaan, tetapi juga peka terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, serta tantangan kebangsaan yang terus berubah.

Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. KH. Maskuri, M.Ed., dalam arahannya menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah memiliki posisi strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat. Menurutnya, pembinaan berkelanjutan merupakan kunci untuk menjaga mutu sekaligus memastikan pesantren tetap berada dalam koridor nilai dan visi Muhammadiyah. Pesantren, tegasnya, tidak boleh kehilangan arah ideologis dan terjebak dalam rutinitas administratif yang kering dari makna.

Maskuri juga menekankan pentingnya menempatkan Pesantren Muhammadiyah sebagai laboratorium kader ulama-intelektual—ruang bertemunya keilmuan yang mendalam, spiritualitas yang membumi, dan etos pengabdian sosial yang nyata. Integrasi ketiganya, menurutnya, hanya dapat terwujud melalui pengelolaan yang profesional, kepemimpinan yang visioner, serta komitmen ideologis yang kokoh. Profesionalisme di sini bukan teknokratisme yang hampa nilai, melainkan ikhtiar sungguh-sungguh untuk menghadirkan pesantren yang unggul sekaligus berkarakter.

Penegasan tersebut diperkuat oleh pandangan Ketua Dewan Pakar Pesantren Muhammadiyah yang menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan, inovasi, dan kemandirian kelembagaan sebagai prasyarat keberlanjutan pesantren di era modern. Pesantren dituntut adaptif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan tantangan global, namun tidak larut hingga kehilangan jati diri keislaman dan ruh tajdid Muhammadiyah sebagai fondasi gerakannya. Adaptasi harus berjalan seiring dengan keteguhan prinsip, dan inovasi harus bertumpu pada nilai.

Forum dialog antar pimpinan pesantren yang berlangsung dalam pembinaan ini juga mencerminkan watak kolektif dan musyawarah Muhammadiyah. Melalui ruang dialog yang setara, berbagai pengalaman dibagikan, persoalan dirumuskan bersama, dan arah pengembangan pesantren ditentukan secara partisipatif. Budaya musyawarah inilah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan, tumbuh, dan terus relevan lebih dari satu abad.

Ke depan, tantangan pesantren tidak semakin ringan. Disrupsi teknologi, krisis nilai, dan fragmentasi sosial menuntut lembaga pendidikan Islam tampil bukan hanya sebagai tempat belajar agama, tetapi sebagai penyangga moral dan rujukan etika publik. Pesantren dituntut hadir sebagai pusat pencerahan yang memberi arah, bukan sekadar bereaksi terhadap perubahan.

Karena itu, pembinaan Pesantren Muhammadiyah harus dipahami sebagai ikhtiar jangka panjang dan investasi peradaban, bukan sekadar kegiatan seremonial. Dari pesantren inilah diharapkan lahir generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga berdaya secara sosial, matang secara intelektual, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa. Di jalan pembaruan itulah Pesantren Muhammadiyah menemukan relevansi dan perannya—hari ini, esok, dan di masa depan.

(Tarqûm Aziz — JurnalisMu Banyumas Raya)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow