Muhammadiyah DIY dan Aceh Perkuat Ta’awun Kemanusiaan, Dorong Bantuan Terpadu Pasca Bencana
YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menerima kunjungan dan silaturahmi dari Ketua PWM Aceh, A. Malik Musa, S.H., M.Hum., Senin (26/1), di Gedung Muhammadiyah DIY, Jalan Gedongkuning No. 130 B, Rejowinangun, Kota Yogyakarta. Pertemuan ini menjadi momentum penguatan koordinasi dan sinergi kemanusiaan Muhammadiyah pasca bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Ketua PWM Aceh disambut langsung oleh Ketua PWM DIY Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., Sekretaris PWM DIY Arif Jamali Muis, M.Pd., Wakil Ketua PWM DIY, Prof. Dr. Ariswan, M.Si., D.E.A., Wakil Ketua PW ‘Aisyiyah DIY Siti Zulaikha, Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal PWM DIY Achmad Muhamad, M.Ag., Ketua dan Sekretaris MDMC PWM DIY Indrayanto dan Sulistiyo, Sekretaris LAZISMU DIY Eka Yuhendri, S.H.I., M.H., serta jajaran pimpinan terkait lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua PWM DIY menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus doa agar musibah yang menimpa Aceh segera diangkat dan diringankan oleh Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa PWM DIY sejak awal berinisiatif mengirimkan bantuan sesuai arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“DIY berupaya hadir cepat melalui koordinasi MDMC, ‘Aisyiyah, LAZISMU, dan perguruan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah se-DIY yang juga mengirimkan relawan. Ini adalah bagian dari spirit One Muhammadiyah One Response,” ujar Ikhwan.
Ia menegaskan, bantuan yang diberikan merupakan wujud ta’awun Muhammadiyah secara kolektif. Ke depan, koordinasi lanjutan akan terus dilakukan melalui jalur yang telah ditetapkan PP Muhammadiyah, termasuk dengan LAZISMU Pusat.
Ketua PWM Aceh, A. Malik Musa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas respons cepat PWM DIY dan wilayah lain. Menurutnya, kehadiran relawan Muhammadiyah, khususnya dari unsur MDMC dan Tim Medis Rumah Sakit Muhammadiyah – ’Aisyiyah, memberikan dampak positif di tengah masyarakat Aceh.
“Di Aceh, masih ada sebagian masyarakat yang memiliki stigma terhadap Muhammadiyah. Namun, melalui dakwah bil hal MDMC melalui tim kesehatan dan psikososial, tuduhan-tuduhan itu luntur. Ini dakwah paling efektif,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan klinik darurat Muhammadiyah di wilayah terdampak bahkan membuka peluang pengembangan pelayanan kesehatan permanen di Aceh, mengingat PWM Aceh hingga kini belum memiliki rumah sakit.
“Semoga upaya dari para relawan MDMC dari berbagai wilayah, khususnya DIY, meninggalkan kenang-kenangan yang bersejarah bagi Aceh,” harap Malik Musa.
Selain sektor kesehatan, PWM Aceh juga mulai merintis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun demikian, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan sehingga diperlukan dukungan berkelanjutan dari Muhammadiyah secara nasional.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas dua penekanan utama ke depan. Pertama, pentingnya koordinasi erat dengan PP Muhammadiyah agar bantuan, termasuk bantuan khusus untuk warga Muhammadiyah, dapat terencana dengan baik, terlebih menjelang Ramadan. Kedua, pengembangan bantuan yang tidak hanya bersifat logistik, tetapi juga infrastruktur, seperti rehabilitasi sekolah, klinik atau rumah sakit, masjid/musala, dan infrastruktur penting lainnya, berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Pengalaman MDMC dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi di Palu dan Lombok beberapa tahun lalu dinilai dapat menjadi model yang berhasil diterapkan di Aceh, dengan sistem yang efektif dan transparan.
“Setiap program harus terkoordinasi dengan PWM Aceh agar sesuai dengan kondisi dan medan di lapangan,” tegas Malik.
Pada kesempatan ini, MDMC PWM DIY melaporkan bahwa Relawan Muhammadiyah DIY telah bertugas sejak 5 Desember dan ditempatkan di beberapa wilayah, antara lain Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Fokus bantuan meliputi pelayanan kesehatan, logistik, pendidikan darurat, air bersih, serta pendampingan psikososial.
MDMC juga merencanakan perbaikan hunian warga setempat yang rusak berat, pendirian klinik darurat, serta dukungan pendidikan bagi anak-anak di sana. Masa tanggap darurat direncanakan hingga 4 Maret, dilanjutkan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Idulfitri hingga September.
Sementara itu, LAZISMU DIY menyampaikan komitmennya dalam konsolidasi relawan dan distribusi bantuan Ramadan. Dua truk bantuan akan dikirim berisi paket ibadah, sembako (termasuk RendangMu), baby kit, family kit, school kit, dan hygiene kit. Terkait anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan mencapai Rp3 miliar, dengan pelaksanaan mengacu pada asesmen dan rekomendasi MDMC serta PP Muhammadiyah.
Kemudian, PWA DIY menyatakan kesiapan membantu renovasi sejumlah TK di Aceh sebagai bagian dari kontribusi kemanusiaan. Di antaranya rehabilitasi TK di Takengon, serta pengadaan mebel untuk empat TK lainnya di Aceh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow