Muhadjir: Program Pemenuhan Gizi Muhammadiyah Wujud Nyata Teologi Al-Ma’un
SLEMAN — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam program pemenuhan gizi masyarakat merupakan bentuk nyata pengamalan teologi Al-Ma’un. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Bimbingan Teknis Tata Kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muhammadiyah di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Gamping, Sleman, Sabtu (20/6).
Dalam kegiatan tersebut, Muhadjir menekankan bahwa masalah gizi buruk, kekurangan gizi, dan kelaparan masih menjadi tantangan serius yang memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, menurutnya, program pemenuhan gizi harus dipandang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan.
Muhadjir mengungkapkan, pengalaman saat menangani Program Gizi Anak Sekolah (Progas) pada 2019 di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua menunjukkan bahwa intervensi gizi berdampak positif terhadap konsentrasi belajar, perkembangan kecerdasan, serta ketahanan fisik anak-anak. Temuan tersebut juga diperkuat oleh evaluasi independen yang dilakukan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO).
“Anak-anak harus dipenuhi kebutuhan gizinya terlebih dahulu. Mereka tidak mungkin belajar secara optimal jika tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup, terutama protein yang penting bagi perkembangan otak dan tubuh,” ujar Muhadjir.
Ia menegaskan, keterlibatan Muhammadiyah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan semata-mata bentuk dukungan terhadap program pemerintah, tetapi merupakan implementasi ajaran Islam yang menekankan kepedulian terhadap kelompok rentan sebagaimana terkandung dalam Surah Al-Ma’un.
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan bahwa Muhammadiyah memandang program MBG sebagai pintu masuk untuk membangun sistem pelayanan gizi yang berkelanjutan. Karena itu, organisasi tidak ingin bergantung sepenuhnya pada program pemerintah dalam jangka panjang.
Menurutnya, Muhammadiyah harus mampu mengembangkan layanan pemenuhan gizi secara mandiri agar manfaatnya tetap dirasakan masyarakat meskipun suatu saat program pemerintah berakhir.
“Jika suatu saat program pemerintah selesai, Muhammadiyah harus tetap mampu melanjutkan pelayanan gizi secara mandiri demi mendukung pemenuhan kebutuhan anak-anak Indonesia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir juga mengingatkan para pengelola SPPG Muhammadiyah untuk menjalankan amanah dengan profesional dan menjunjung tinggi integritas.
Ia menegaskan bahwa program ini harus dikelola dengan orientasi pelayanan, bukan semata-mata mencari keuntungan. Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah dalam mengelola program publik akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap persyarikatan.
“Saya sudah mengingatkan agar jangan menjadikan program ini sebagai sarana mencari keuntungan. Tunjukkan bahwa Muhammadiyah mampu menjalankan amanah dengan baik. Soal keuntungan adalah urusan lain, dan tidak selalu harus berbentuk materi,” tegasnya.
Selain membahas pelayanan gizi, Muhadjir yang membidangi ekonomi dan bisnis di PP Muhammadiyah juga menyoroti pentingnya penguatan kemandirian ekonomi organisasi. Ia menilai Muhammadiyah perlu memperluas usaha-usaha produktif agar tidak hanya bergantung pada donasi dan sumbangan.
Menurutnya, tantangan zaman menuntut Muhammadiyah memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menopang berbagai aktivitas dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Saat ini Muhammadiyah tengah mengembangkan sejumlah program ekonomi strategis, antara lain penguatan amal usaha pendidikan dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), pembangunan Pabrik Infus Suryavena Farma, serta pengembangan sektor pertambangan yang dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Muhadjir menegaskan bahwa seluruh pengembangan usaha tersebut diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan umat.
Menutup arahannya, ia berharap Muhammadiyah dapat terus menjaga kepercayaan publik yang selama ini menjadi modal sosial utama organisasi. Dengan penguatan ekonomi dan perluasan pelayanan sosial, Muhammadiyah diharapkan mampu terus berperan sebagai gerakan dakwah yang mandiri, berkemajuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow