Membangun Jiwa Ikhlas Berkurban dalam Iduladha

Membangun Jiwa Ikhlas Berkurban dalam Iduladha

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Ribuan umat Islam memadati Lapangan Nogotirto, Gamping, Sleman, untuk melaksanakan salat Iduladha 1446 H, pada Jumat (6/6). Suasana khidmat dan khusyu mewarnai pelaksanaan salat Id yang juga diiringi dengan lantunan takbir yang menggema dari para jamaah yang hadir.

Pada kesempatan ini, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A. bertindak sebagai imam sekaligus khatib salat Id di Lapangan Nogotirto. Dalam khutbahnya, Ikhwan mengangkat tema penting tentang "Meneguhkan Spirit Pengorbanan dan Keadaban". 

Dalam kitab "Kasful Asrar" oleh Abdul 'Aziz bin Ahmad al-Bukhary, menjelaskan bahwa di antara tujuan Allah SWT mensyariatkan ibadah kepada manusia adalah, untuk memberi perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan juga harta manusia. Demikian halnya dengan syariat Idul Qurban bagi kita orang-orang yang beriman. 

“Sehingga siapapun di antara kita yang menunaikan rangkaian Idul Qurban dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan syarat – rukunnya, pastilah kita akan mencapai tujuan akhir ibadah tersebut, yaitu kedekatan kita dengan Allah SWT,” jelas Ikhwan.

Hal tersebut tercermin pada Jumat pagi ini, di mana kaum muslimin di seluruh Tanah Air, dengan khusyuk dan khidmat menunaikan shalat Iduladha mengikuti sunnah Nabi. Umat Islam di seluruh dunia menunaikan ibadah qurban, dalam rangka menaati perintah Allah dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim adalah wujud kesyukuran akan nikmat Allah yang tak terhingga.

Ketika umat Islam di negeri ini menjalankan shalat Iduladha dan berkurban, saudara-saudara lainnya kaum muslimin sedunia sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Ketiganya merupakan amalan ibadah kepada Allah, dengan tujuan "ber-taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah". 

“Ibadah yang kita tunaikan termasuk salat Iduladha, berkurban, dan berhaji semestinya dapat menyuburkan jiwa ketaqwaan sekaligus meredam atau bahkan mengendalikan nafsu hayawaniyah kita. Menjaga kebersihan jiwa itu merupakan pendakian ruhaniah yang tidak mudah. Kita selaku muslim kadang bertindak lalai diri. Qalbu dan iman yang semestinya dijaga agar tetap bersih, dalam praktiknya terkontaminasi oleh dosa dan fahsya,” tutur Ikhwan. 

Berhaji dan berkurban mengajarkan jiwa ikhlas untuk menyebarkan nilai kebajikan utama dalam hidup setiap Muslim. Ikhlas merupakan jiwa tunduk yang total kepada Allah SWT sehingga melahirkan pribadi yang nir pamrih dalam berbuat kebaikan. Mereka yang hidupnya ikhlas akan mampu membebaskan diri dari hasrat-hasrat sesaat, seraya melintas batas ke peran-peran utama sarat makna seperti toleran, santun, suka menolong, berbagi, dan peduli.

Siapapun yang berhaji dan berkurban dalam ritual Islam sejatinya menambatkan peribadatan itu pada niat ikhlas hanya untuk Allah semata sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ١٦٢

Artinya: "Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An'am: 162).

Ibadah kurban memang menanamkan nilai pengorbanan. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar memberi teladan terbaik tentang praksis berkurban dengan sepenuh ketaqwaan. Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ٣٧

Artinya: "Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Hajj : 37).

Ibadah qurban mengajarkan makna amal shaleh dan ihsan. Setiap insan beriman yang memiliki kelebihan rezeki dan akses kehidupan dia niscaya untuk peduli dan berbagi bagi sesama yang membutuhkan tanpa diskriminasi. Si kaya berbagi rezeki untuk si miskin. Kaum cerdik pandai berbagi ilmu kepada yang awam. Sesama manusia saling menjunjung tinggi martabat.

Selain itu, para elite dan warga di negeri yang mengaku insan beriman di mana pun berada perlu mengambil makna hakiki dari ajaran ketulusan, cinta, dan pengorbanan Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar sebagai model perilaku emas yang menebar keutamaan bagi seluruh umat manusia.

Adanya segelintir orang atau kelompok yang menguasai mayoritas kekayaan negara dan menyebabkan kesenjangan sosial merupakan bukti lemahnya jiwa berkorban di tubuh bangsa ini. Luruhnya jiwa kenegarawanan yang ditandai kian menguatnya kebiasaan mengutamakan kepentingan diri dan kroni di atas kepentingan publik boleh jadi karena makin terkikisnya jiwa ikhlas berkorban sebagai kanopi suci yang diajarkan para Nabi Allah yang kaya mozaik spiritual Ilahiyah itu.

Dalam kehidupan umat dan bangsa sungguh diperlukan jiwa berkorban berbasis iman untuk tegaknya kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan segala keutamaan. Termasuk bagi mereka yang selama ini memiliki amanat kekuasaan dan memiliki kekayaan berlebih untuk berkorban demi kesejahteraan rakyat yang masih dilanda kehidupan yang dhu’afa-mustadh’afin di negeri ini. 

“Tanpa pengorbanan dengan jiwa, pikiran, perasaan, dan perbuatan yang tulus dan utama dari para elite dan warga bangsa maka tidak mungkin tercipta kehidupan yang baik dan maju di tubuh bangsa ini dalam bingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur,” imbuh Ikhwan.

Lebih lanjut, ibadah haji dan qurban juga mengajarkan sifat cinta, yakin kasih sayang atau welas asih yang jernih terhadap sesama sebagai perwujudan cinta kepada Allah. Dalam hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Tidaklah beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Muslim). 

Saat ini, tak sedikit manusia terjangkiti virus egoisme, demi kepentingan golongan sendiri rela mengorbankan kepentingan sesama, bahkan terhadap sesama seiman. Aji mumpung kekuasaan tumbuh di mana-mana dan sifat kasih sayang atau welas asih seolah menjadi mutiara yang hilang untuk ditemukan kembali. 

Kekerasan, konflik, dan bahkan perang terjadi di sejumlah tempat dan kawasan antara lain karena menguatnya egoisme dan luruhnya kasih sayang antar sesama. Sebagian orang beragama pun dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, kebebasan dan kebenaran bahkan agama tidak sedikit menjadi ringan tangan berbuat kekerasan, sehingga kehilangan watak kasih sayangnya terhadap sesama sebagaimana dicontohkan para Nabi. 

Tentunya, bagi Mukmin sejati, ibadah haji, qurban, dan ibadah-ibadah lainnya menjadi momentum untuk semakin dekat dengan Allah dan berbuat kebaikan bagi sesama dalam jalinan hablumminallah dan hablumminannas yang harmonis. 

“Jika setiap muslim memiliki relasi hablumminallah dan hablumminannas yang baik dan seimbang, maka akan melahirkan kehidupan yang utama di dunia dan akhirat. Sebaliknya manakala hablumminallah dan hablumminannas tidak terjalin baik maka terjadi kerusakan dalam kehidupan manusia,” tegas Ikhwan.

Khutbah pun ditutup dengan Ikhwan mengajak seluruh Jamaat untuk berdo'a agar shalat Iduladha, ibadah qurban, serta segenap ibadah kita selaku Muslim melahirkan kehidupan yang khusyuk, baik, dan utama. Begitu juga yang melaksanakan ibadah haji agar menjadi mabrur dan yang mendapatkan musibah semoga diberi kesabaran.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow