Ketua LAZISMU Pusat: Ramadan Momentum Perkuat Solidaritas Sosial Umat

Ketua LAZISMU Pusat: Ramadan Momentum Perkuat Solidaritas Sosial Umat

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Menjelang bulan suci Ramadan, LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan komitmennya menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri sekaligus penguatan ketangguhan dan kesejahteraan umat.

Komitmen tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam agenda ZISKA Talks Tarhib Ramadan bertema “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatra” pada Kamis (12/2).

Imam menegaskan, pesan utama Ramadan yang bermuara pada nilai ketakwaan harus dimaknai secara luas. Ketakwaan tidak hanya berdimensi spiritual dan individual, tetapi juga membentuk etos kerja, integritas, dan tanggung jawab sosial.

“Pesan takwa mengajarkan kita tetap berbuat baik dalam keadaan apa pun, baik ada pengawas maupun tidak. Bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan terus memperbaiki diri. Namun Ramadan tidak berhenti pada dimensi individu, melainkan harus menjadi momentum konsolidasi kekuatan sosial umat,” ujarnya.

Imam menekankan, program-program Ramadan seperti pembagian takjil dan kado Ramadan tidak boleh sekadar seremonial. Program tersebut harus dirancang berbasis pemberdayaan dan berdampak ekonomi.

Menurutnya, pelibatan pelaku UMKM, terutama ibu-ibu yang mengalami penurunan pesanan, dapat menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah.

“Program takjil dan kado Ramadan harus menjadi bagian dari pemberdayaan umat. Kita bisa melibatkan UMKM agar roda ekonomi berputar. Ini wujud nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah memberi dampak berkelanjutan,” katanya.

Lebih jauh, Imam mengingatkan kembali salah satu keputusan penting Muktamar ke-36 Muhammadiyah tahun 1965 di Bandung yang menegaskan zakat sebagai instrumen keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan.

“Zakat tidak boleh dipahami sebatas penyaluran bantuan. Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Sejumlah riset bahkan menunjukkan zakat berkontribusi pada peningkatan Human Development Index dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Artinya, zakat adalah pilar penting pembangunan bangsa,” tegasnya.

Selain penguatan kesejahteraan, LAZISMU juga memberi perhatian serius pada agenda ketangguhan bencana melalui program Indonesia Siaga. Imam menegaskan, respons kebencanaan tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Komitmen Muhammadiyah adalah hadir paling awal saat bencana dan menjadi yang terakhir meninggalkan lokasi. Kita tidak hanya membuka layanan darurat, tetapi juga memastikan ada program rehab dan rekonstruksi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ia mencontohkan penanganan gempa Cianjur, di mana pembangunan fasilitas kesehatan Muhammadiyah tetap dilakukan bertahun-tahun setelah bencana sebagai bentuk komitmen jangka panjang.

Menurut Imam, ketangguhan bangsa Indonesia memiliki fondasi kuat pada nilai spiritual dan modal sosial seperti gotong royong. Namun, fondasi tersebut harus diperkuat dengan sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Nilai gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Tetapi kita juga perlu membangun sistem mitigasi yang terencana, edukasi kebencanaan, serta teknologi pendukung seperti early warning system. Ketangguhan lahir dari perpaduan iman, solidaritas sosial, dan kesiapsiagaan berbasis ilmu,” ujarnya.

Dalam konteks penguatan kelembagaan, Imam memaparkan empat agenda prioritas LAZISMU ke depan.

Pertama, penguatan ekosistem zakat nasional. Zakat harus dikelola dalam kerangka integrasi dan inovasi sosial yang terstruktur agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.

“Penguatan ekosistem zakat nasional dilakukan melalui integrasi antar-lembaga, inovasi program sosial, serta konsolidasi penghimpunan dan pendayagunaan dana. Kita ingin zakat menjadi gerakan kolektif yang saling menguatkan,” ujarnya.

Kedua, digitalisasi tata kelola dan pelaporan. Profesionalisme dan transparansi menjadi fondasi utama filantropi modern. Sistem pengelolaan zakat harus adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tata kelola harus profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan sistem digital, pelaporan bisa diakses lebih luas, cepat, dan akurat,” jelasnya.

Ia menambahkan, digitalisasi juga memperkuat kepercayaan publik dan membuka partisipasi generasi muda dalam gerakan zakat.

Ketiga, pengembangan model resiliensi bencana berbasis masjid dan komunitas Muhammadiyah. Masjid diharapkan menjadi pusat penguatan sosial, ekonomi, sekaligus kebencanaan.

“Kita ingin membangun model disaster resilience berbasis komunitas, sehingga masyarakat tidak hanya siap merespons bencana, tetapi juga memiliki kapasitas mitigasi dan pemulihan yang terencana,” ujarnya.

Keempat, pengarusutamaan zakat dalam kebijakan kesejahteraan nasional. Imam menilai zakat memiliki posisi strategis dalam arsitektur pembangunan nasional.

“Kita perlu mendorong agar zakat semakin diakui sebagai bagian dari kebijakan kesejahteraan nasional. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi instrumen ekonomi yang mampu memperkuat sistem perlindungan sosial dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Melalui penguatan spiritualitas, solidaritas sosial, dan tata kelola yang profesional, LAZISMU berharap Ramadan menjadi momentum kolektif untuk membangun umat yang tangguh, mandiri, dan sejahtera.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow