KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta Perkuat Literasi Regulasi dan Syariat Haji
YOGYAKARTA — Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta kembali menggelar Manasik Haji Klasikal sebagai bagian dari persiapan jemaah menuju musim haji 2027. Memasuki pertemuan kelima, kegiatan yang berlangsung di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4, Ahad (6/9), tersebut berfokus pada penguatan pemahaman syariat ibadah haji serta wawasan mengenai kebijakan dan regulasi penyelenggaraan haji.
Manasik dihadiri pengurus dan pimpinan, para pembimbing, serta jemaah haji KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta untuk keberangkatan 2027 dan 2028.
Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, Ir. H. Rowi Sutaryo, menyampaikan perkembangan rangkaian manasik yang telah dilaksanakan. Menurutnya, manasik klasikal kelima menjadi salah satu tahapan penting sebelum peserta memasuki pendalaman materi dalam kelompok atau regu.
“Manasik klasikal ini merupakan pertemuan kelima. Oktober bulan depan kita akan melaksanakan manasik klasikal terakhir untuk persiapan haji tahun 2027. Selanjutnya akan diteruskan dengan pendalaman materi dalam manasik regu,” jelas Rowi.
Ia menjelaskan, pembentukan regu akan mempertimbangkan kedekatan wilayah atau kemantren untuk memudahkan koordinasi jemaah. Namun, komposisi regu tersebut tidak bersifat permanen dan dapat disesuaikan dengan perkembangan serta kebutuhan jemaah.
Rowi juga mengingatkan jemaah agar mempersiapkan berbagai kebutuhan haji sejak jauh-jauh hari, termasuk aspek pembiayaan. Salah satunya adalah pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Menurutnya, persiapan finansial perlu dilakukan sejak awal untuk mengantisipasi berbagai kendala dalam proses pelunasan.
Dalam kegiatan tersebut, jemaah juga mendapatkan penguatan literasi keuangan dalam berhaji dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Materi ini diarahkan agar jemaah memahami pengelolaan dana dan proses pelunasan Bipih secara aman, nyaman, serta sesuai prinsip syariah.
Penguatan Regulasi dan Kesiapan Kesehatan
Materi pertama disampaikan Hj. Silvia Rosetti, S.E., M.S.I., Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah DIY. Ia membahas kebijakan dan regulasi perhajian, sekaligus menyampaikan berbagai persiapan yang perlu dilakukan jemaah.
Silvia menegaskan komitmen Kementerian Haji dan Umrah DIY untuk terus meningkatkan pelayanan demi memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi jemaah. Ia juga menyampaikan mengenai kesiapan Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai embarkasi haji.
Dalam aspek kesehatan, Silvia mengingatkan jemaah agar memastikan kondisi istithaah kesehatan sebelum melakukan pelunasan Bipih. Pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh dan dipersiapkan sejak masa tunggu, masa pelunasan, hingga keberangkatan melalui embarkasi.
“Diperkirakan pemberangkatan sekitar awal April. Karena itu, kesehatan harus dijaga sejak sekarang, mulai dari kadar gula, Hb darah, tekanan darah, dan parameter kesehatan lainnya agar tetap dalam batas normal,” ujarnya.
Ia juga mendorong jemaah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan jantung dan paru. Perhatian khusus diberikan kepada jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk yang menjalani hemodialisis maupun memiliki riwayat tuberkulosis.
Selain itu, jemaah diingatkan memenuhi persyaratan vaksinasi meningitis dan polio sesuai ketentuan otoritas Arab Saudi.
Silvia memberikan sejumlah tips menjaga kebugaran menjelang keberangkatan, antara lain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih, rutin berolahraga, mencukupi waktu istirahat, serta mengelola stres. Jemaah juga dianjurkan menghindari rokok dan berbagai hal yang dapat mengganggu kesehatan.
Ia mengingatkan jemaah untuk memanfaatkan program pemerintah seperti cek kesehatan gratis (CKG) serta meningkatkan literasi teknologi. Hal ini penting karena berbagai layanan haji kini semakin terintegrasi secara digital.
“Jemaah harus melek teknologi. Minimal memiliki WhatsApp Group dan menyimpan nomor-nomor kontak penting, terutama petugas daerah, pengurus, dan pembimbing KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta,” katanya.
Silvia juga mengajak jemaah menumbuhkan empati dan kepedulian antarsesama, terutama dalam mewujudkan pelayanan haji yang ramah bagi seluruh jemaah.
“Menumbuhkan empati yang mendalam antarsesama, sesuai dengan tagline ‘Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan’,” pesannya.
Pada akhir pemaparannya, Silvia menyampaikan bahwa berdasarkan perspektif Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, penyembelihan dan pendistribusian dam haji diperbolehkan dilakukan di tanah air.
Haji sebagai Wujud Totalitas Penghambaan
Materi kedua bertajuk “Ibadah Haji dalam Perspektif Syariah” disampaikan Dr. H. M. Muhajir, Lc., M.A., pembimbing senior KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta yang akan mendampingi jemaah di Tanah Suci pada musim haji 2027.
Muhajir mengawali materi dengan mengingatkan pentingnya talbiyah dalam ibadah haji dan umrah. Menurutnya, talbiyah bukan sekadar bacaan, tetapi simbol kesiapan seorang muslim memenuhi panggilan Allah SWT.
“Talbiyah harus dihayati, diresapi, dihafalkan, dan sering diamalkan. Diucapkan berulang-ulang menjadi simbol totalitas penghambaan hanya kepada Allah semata,” pesannya.
Ia menjelaskan bahwa haji merupakan syariat yang telah melekat dalam sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS dan diwajibkan kepada umat Rasulullah SAW. Haji juga menjadi penyempurna rukun Islam bagi muslim yang telah memenuhi syarat kemampuan.
Menurut Muhajir, syariat haji memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ia mengajak jemaah tidak hanya memahami tata cara pelaksanaan haji, tetapi juga menghayati nilai tauhid, ketaatan, ketundukan, penghambaan, dan pengabdian yang terkandung di dalamnya.
Secara bahasa, kata haji atau al-hajj memiliki makna al-qashd (menuju), az-ziyarah (mengunjungi), dan al-'amdu (menyengaja). Sementara secara istilah, haji merupakan perjalanan menuju Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan ibadah tertentu pada waktu yang telah ditentukan.
Dengan pemahaman tersebut, Muhajir menekankan bahwa ibadah haji hendaknya tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat kualitas penghambaan.
Kegiatan Manasik Haji Klasikal KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta akan dilanjutkan dengan pertemuan keenam pada Ahad (4/10/) di tempat yang sama.
Bagi masyarakat yang telah memiliki nomor porsi haji dan ingin bergabung dengan KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, informasi dapat diperoleh melalui kantor KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta atau dengan menghubungi narahubung resmi melalui WhatsApp. Kantor beralamat di Gedung Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Jalan Sultan Agung No. 14, Mergangsan, Kota Yogyakarta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow