Kader IMM DIY: Main Hakim Sendiri, Kemiskinan, dan Korupsi Harus Disikapi dengan Keadilan dan Amanah
BANTUL — Semua umat manusia, terutama muslim harus menjadikan nilai keadilan, kesabaran, dan amanah sebagai pijakan dalam menyikapi berbagai persoalan sosial yang mengemuka, mulai dari aksi main hakim sendiri, himpitan ekonomi, hingga praktik korupsi.
Pernyataan tegas itu disampaikan Dai Muda Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dafa Isandi Ananto, S.Hum., dalam khutbah Jumat (31/7) di Masjid Al Musannif 50 Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Mengangkat tajuk "Antara Keadilan, Kesabaran, dan Amanah: Menyikapi Main Hakim Sendiri, Himpitan Ekonomi, dan Korupsi", Jumat (31/7/2026), Sekretaris DPD IMM DIY Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat yang juga mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada itu menegaskan bahwa ketiga persoalan di awal saling berkaitan dan harus diselesaikan dengan pendekatan yang berkeadilan.
Menurutnya, aksi main hakim sendiri tidak pernah dibenarkan dalam Islam, sekalipun didorong oleh kemarahan masyarakat terhadap pelaku tindak pidana. Penegakan hukum merupakan kewenangan aparat yang berwenang, bukan individu ataupun massa.
"Islam mengajarkan kesabaran dan proses yang beradab, bukan main hakim sendiri," tegas Dafa.
Ia menjelaskan, kemarahan yang tidak terkendali justru dapat melahirkan kezaliman baru. Karena itu, masyarakat diminta menyerahkan setiap persoalan hukum kepada aparat penegak hukum serta membangun kesadaran hukum di lingkungan masing-masing.
Dafa juga mengingatkan pentingnya memahami akar persoalan di balik berbagai tindak kriminal kecil. Menurutnya, tidak sedikit kasus pencurian dipicu oleh tekanan ekonomi, kehilangan pekerjaan, maupun kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan pembenaran atas tindakan mencuri. Sebaliknya, kondisi itu menjadi pengingat bahwa penyelesaian masalah tidak cukup berhenti pada penghukuman, tetapi juga harus menyentuh penyebab utamanya.
Ia mencontohkan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang pernah menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri ketika terjadi masa paceklik. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam mempertimbangkan konteks sosial dan kondisi darurat sebelum menjatuhkan hukuman.
Karena itu, ia mendorong pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk bersama-sama menghadirkan solusi nyata melalui penciptaan lapangan kerja, pemerataan kesejahteraan, serta penguatan jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, Dafa mengajak jamaah untuk tetap bersabar dan berikhtiar secara halal ketika menghadapi kesulitan ekonomi. Menurutnya, tekanan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk menempuh jalan yang diharamkan, seperti mencuri, menipu, praktik riba, maupun korupsi.
"Ketakwaan bukan berarti berpangku tangan, melainkan tetap berikhtiar secara halal sembari menjaga hati agar tidak putus asa dari rahmat Allah," ujarnya.
Dalam khutbahnya, Dafa juga memberikan perhatian besar terhadap praktik korupsi yang dinilainya menjadi salah satu penyebab utama kesulitan ekonomi masyarakat. Ia menyebut korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum negara, melainkan pengkhianatan terhadap amanah dan kezaliman besar yang merampas hak rakyat.
Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara pencurian yang dipicu kebutuhan hidup dengan korupsi yang lahir dari keserakahan. Jika pencurian sering kali terjadi karena keterpaksaan ekonomi, maka korupsi umumnya dilakukan oleh orang yang telah berkecukupan tetapi tidak mampu menahan nafsu untuk terus memperkaya diri.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa korupsi yang merajalela menyebabkan anggaran pembangunan, bantuan sosial, serta penciptaan lapangan kerja tidak berjalan optimal. Dampaknya adalah meningkatnya kemiskinan dan pengangguran yang pada akhirnya dapat memicu tindak kriminal hingga aksi main hakim sendiri.
"Dengan memberantas korupsi dan menegakkan amanah, kesejahteraan masyarakat dan kesempatan kerja dapat lebih merata sehingga mata rantai persoalan sosial dapat diputus," katanya.
Menutup khutbahnya, Dafa mengajak jamaah untuk menahan diri dari tindakan main hakim sendiri, memperkuat semangat bekerja mencari rezeki halal, saling membantu sesama, menjauhi segala bentuk korupsi, serta mendoakan hadirnya pemimpin-pemimpin yang adil dan amanah.
Ia menegaskan bahwa kekuatan umat terletak pada solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama, terutama di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow