Ijtihad Jurnalistik: Refleksi Perjalanan Panjang Mustofa W. Hasyim di Dunia Pers Muhammadiyah

Ijtihad Jurnalistik: Refleksi Perjalanan Panjang Mustofa W. Hasyim di Dunia Pers Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Peringatan Milad ke-111 Suara Muhammadiyah (SM) diwarnai dengan gelaran bedah buku Ijtihad Jurnalistik karya tokoh pers senior Mustofa W. Hasyim. Acara yang berlangsung di Gedung Grha Suara Muhammadiyah Yogyakarta, pada Selasa (11/8) ini menjadi momen refleksi perjalanan panjang pers Muhammadiyah sekaligus pengakuan atas dedikasi para tokoh penggeraknya.

Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja, menegaskan bahwa usia 111 tahun merupakan bukti ketahanan media cetak ini di tengah lanskap industri media yang terus berubah pesat.

“Di saat banyak media cetak berhenti beroperasi, Suara Muhammadiyah meneguhkan komitmennya untuk terus tumbuh, berbenah, dan melangkah lebih jauh. Usia 111 tahun bukan sekadar momentum perayaan, melainkan hal yang sangat patut disyukuri,” ujar Isngadi.

Mengusung tema “Tumbuh Lebih Tangguh, Melangkah Lebih Jauh,” milad tahun ini menekankan pentingnya menjaga ideologi dan nilai pers di tengah tantangan teknologi informasi modern.

Dalam momentum ini, sosok Mustofa W. Hasyim menjadi sorotan utama. Ia dinilai sebagai salah satu figur kunci yang menyaksikan, mendampingi, dan membimbing perjalanan Suara Muhammadiyah melewati berbagai fase jatuh bangun.

“Pak Mustofa adalah jurnalis murni yang berdedikasi dan berideologi. Karakter khasnya terletak di situ. Seorang jurnalis berideologi tidak hanya mengabarkan, tetapi menyeleksi kabar mana yang penting, perlu, dan kapan saatnya disebarkan,” tutur Isngadi.

Isngadi mengenang bagaimana SM pernah mengalami masa-masa keemasan hingga periode tersulit. Pengalaman Mustofa yang tetap bertahan dan membimbing generasi muda di masa-masa sulit tersebut menjadi pemicu semangat bagi para pengelola untuk membawa Suara Muhammadiyah bangkit kembali.

Selain Mustofa, acara ini juga memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh yang turut mewarnai perjalanan pers Muhammadiyah, seperti Immawan Wahyudi yang pernah ikut membesarkan SM sebelum berkarier di dunia politik serta Akhid Widi Rahmanto, sahabat lama Mustofa sejak masa muda di Kotagede.

Buku "Ijtihad Jurnalistik" tidak hanya mengulas teknik perberitaan, tetapi juga merefleksikan proses pembentukan cara pandang seorang jurnalis terhadap realitas dan kebudayaan. Salah satu kisah menarik yang diangkat dalam buku tersebut adalah awal mula persentuhan Mustofa dengan dunia pers.

Perjalanan Mustofa menjadi jurnalis tidak berawal dari ruang redaksi atau bangku kuliah, melainkan dari sobekan kertas di masa balita. Sang ayah kerap menyodorkan koran dan majalah untuk dimainkan. Meski belum bisa membaca, Mustofa kecil senang melihat gambar dan menyobek kertas koran saat bosan.

Rasa ingin tahu tersebut berlanjut hingga masa taman kanak-kanak, di mana ia mulai penasaran dengan barisan huruf di bawah gambar hingga akhirnya mahir membaca. Sang ayah melakukan sebuah "ijtihad" pendidikan yang tidak lazim: memperkenalkan dunia bacaan jauh sebelum anaknya mampu membaca.

Bedah buku Ijtihad Jurnalistik menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang tradisi literasi dan jurnalistik Muhammadiyah. Selama lebih dari satu abad, Suara Muhammadiyah tidak hanya menjadi media penyampai informasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan gagasan, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat. 

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow