Haedar Nashir Sampaikan Duka Atas Wafatnya Dyah Siti Nur'aini, Kenang Dedikasi Almarhumah di ‘Aisyiyah

Haedar Nashir Sampaikan Duka Atas Wafatnya Dyah Siti Nur'aini, Kenang Dedikasi Almarhumah di ‘Aisyiyah

Smallest Font
Largest Font

SUKOHARJO — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Dyah Siti Nur’aini, Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah periode 2010–2015 dan 2015–2022 dalam usia 69 tahun. Bagi Haedar, kepergian Dyah merupakan kehilangan bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, sekaligus menjadi momentum untuk mengenang panjangnya pengabdian almarhumah di Persyarikatan.

“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar saat melepas jenazah almarhumah di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (23/8).

Ia mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk menerima kepergian almarhumah dengan ikhlas, sabar, dan tawakal. Menurutnya, ketika ajal telah tiba, tidak ada seorang pun yang mampu menunda maupun mempercepatnya.

Haedar menyebut sakit maupun kondisi kesehatan seseorang hanyalah bagian dari proses yang menyertai ketetapan Allah SWT. Ia kemudian mengingatkan firman Allah dalam QS Yunus ayat 49 tentang kepastian datangnya ajal.

“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” katanya.

Haedar menilai kegigihan dan pengabdian Dyah Siti Nur’aini selama berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan keteladanan yang patut dikenang. Ia berharap seluruh perjuangan almarhumah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” ujarnya.

Haedar juga memiliki kenangan panjang bersama Dyah. Keduanya telah berinteraksi dalam aktivitas organisasi sejak periode 1979–1982, di mana saat itu Haedar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan Dyah Siti Nur’aini berkiprah di Tapak Suci.

Dari perjalanan tersebut, Haedar menyaksikan langsung kegigihan Dyah dalam menjalankan amanah di Nasyiatul ‘Aisyiyah hingga dipercaya menjadi Ketua Umum periode 1995–2000, sebelum melanjutkan pengabdiannya di PP ‘Aisyiyah sebagai Sekretaris Umum. “Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” tutur Haedar.

Menurut Haedar, ketulusan dan kegigihan merupakan kunci dalam menjalankan khidmat. Pengabdian kepada Persyarikatan, kata dia, pada akhirnya harus diarahkan pada ikhtiar yang lebih hakiki, yakni memperoleh ridha Allah SWT. “Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan ridha Allah,” katanya.

Mengakhiri sambutannya, Haedar mengajak seluruh keluarga, kader, dan warga Muhammadiyah yang hadir untuk mengantarkan kepergian Dyah Siti Nur’aini dengan doa dan keikhlasan.

“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insya Allah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan doa. Insya Allah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow