Generasi Muda Diharapkan Menjadi Penggerak Akselerasi SDGs 2030
MEDIAMU.COM - Generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan seperti bencana alam dan ketimpangan sosial-ekonomi, mahasiswa diharapkan menjadi motor penggerak dalam akselerasi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) 2030.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas, Diah Lenggogeni, S.T., M.Sc., dalam kegiatan Grand Summit Kelompok Penelitian Mahasiswa (KPM) Competition 2025 yang diselenggarakan pada Sabtu (24/5). Kegiatan ini mengusung tema “From Ideas to Action: Akselerasi SDGs 2030 melalui Kolaborasi Holistik Menuju Indonesia Berkelanjutan.”
“Lingkungan alam kita semakin menua, dan Indonesia menghadapi hampir 12 jenis ancaman bencana. Belum lagi tantangan terkait kemiskinan, ketimpangan, dan kepemimpinan. Oleh karena itu, pembangunan nasional harus diarahkan untuk menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat penting,” ujar Diah di hadapan ratusan peserta yang hadir di Gedung AR Fakhruddin B lantai 5.
Dalam pemaparannya, Diah menjelaskan bahwa untuk mendukung akselerasi pencapaian SDGs 2030, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Undang-undang ini menjadi panduan strategis pembangunan nasional jangka panjang dengan pendekatan berkelanjutan guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Terdapat tiga pilar utama dalam RPJPN tersebut, yaitu: pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata, ketahanan lingkungan, serta pembangunan sosial yang berkeadilan.
“Kami menargetkan pada tahun 2045, Indonesia mampu mencapai pendapatan per kapita setara dengan negara-negara maju. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada pada kisaran 5.500 hingga 5.510 USD. Ke depannya, kita harapkan dapat menyamai negara seperti Australia atau Singapura yang pendapatan per kapitanya mencapai sekitar 33.500 USD. Namun, tentu ini bukan hal yang mudah untuk dicapai,” jelasnya.
Diah juga menyinggung laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2025 dari Bank Dunia yang mencatat bahwa pada tahun 2024, sekitar 60,3 persen penduduk Indonesia masih hidup dengan pengeluaran kurang dari 6,85 USD per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2017.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam pemantauan dan evaluasi capaian SDGs. Diah mendorong universitas untuk membentuk sekretariat SDGs, memanfaatkan forum-forum rektor, serta menyediakan basis data yang akurat guna mendukung pelaporan perkembangan implementasi SDGs di tingkat lapangan.
“Sering kali kami tidak memperoleh informasi yang cukup tentang sejauh mana kontribusi di lapangan. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting dalam membangun komunikasi yang efektif dengan pemerintah,” tegasnya.
Selain perguruan tinggi, pemerintah juga terus memperkuat kemitraan dengan organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan seperti Lazismu, BAZNAS, dan Nahdlatul Ulama (NU) yang dinilai sangat aktif dalam menjalankan program-program SDGs di tingkat komunitas.
Menutup materinya, Diah menegaskan bahwa selain peran generasi muda, keberadaan jejaring, platform, dan sistem komunikasi yang efektif menjadi faktor kunci dalam mempercepat pencapaian target SDGs 2030.
“Channeling, platform, dan komunikasi merupakan wadah yang perlu kita bangun bersama, agar seluruh pemangku kepentingan dapat saling terhubung dan memperoleh pembaruan informasi secara menyeluruh,” pungkasnya. (Mut)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow