News

News

MediaMU.COM

Feb 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang
Breaking
Ikhwan Ahada: Penghafal Al-Quran Adalah Pengusung Misi Langit yang Harus Dibawa Membumi Literasi Digital, Arif Jamali Imbau Muhammadiyah Manfaatkan Data: Bukankah Kita Organisasi Berkemajuan?  MPKS PWM DIY dan LazisMU PKU Muhammadiyah Gamping Tanda Tangan MOU Kerjasama Pembiayaan Operasional RSPM DIY Gelar Rakerwil, MPI PWM DIY Soroti Literasi Digital Warga Muhammadiyah Majelis Dikdasmen-PNF Kota Yogyakarta Gelar Wisuda Akbar untuk Ratusan Murid Penghafal Al-Quran Tindak Lanjuti Hasil Temuan Pemilu 2024, 'Aisyiyah Catatkan Delapan Rekomendasi 'Aisyiyah Catat Pemilu 2024 Belum Sepenuhnya Ramah Kelompok Rentan Dari Pemantauan, Aisyiyah Temukan Berbagai Pelanggaran pada Pemilu 2024 Respons Cepat Angin Puting Beliung di Sumedang, MDMC dan Lazismu Turun Tangan Berdayakan Masyarakat, Muhammadiyah Hadirkan Air Bersih di Desa Tliu NTT MHH PWM DIY Melatih Paralegal, Siap Menyuarakan Keadilan untuk Semua Syamsul Anwar: Munas Tarjih Jadi Forum Tertinggi Muhammadiyah untuk Masalah Kagamaan Melalui AUM Bertaraf Internasional, Haedar Harap Dakwah Muhammadiyah Sentuh Kaum Elit Cetak Kader Profesional, Ini Pesan Agus Taufiqurrahman untuk PP IPM Busyro Muqoddas: Kepemimpinan di Muhammadiyah Tak Dipengaruhi Pemilu PP IPM Resmikan 'Kantor Baru' di Yogyakarta Pemeran dan Sutradara Dirty Vote Kunjungi UMY: Apa Langkah Selanjutnya Setelah Pemilu? Muhammadiyah Seru Seluruh Kader untuk Kawal Suara dalam Pemilu 2024 MJE #3 Sukses, PWM DIY: MJE Adalah Wajah Baru Dakwah Muhammadiyah Pemilu 2024 Usai, Abdul Mu'ti Tulis Catatannya Tentang Demokrasi Hari ini

PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA BISA SEBAGAI ROLE MODEL PERADABAN DUNIA

YOGYAKARTA — Peradaban dunia saat ini banyak disebutkan oleh para pakar sebagai peradaban dunia yang tidak punya kepastian. The world of disorder, the world of uncertainty, bahkan ada pula yang menyebut bahwa tengah terjadi pergeseran besar dari peradaban dunia.

Hal tersebut terjadi karena dunia saat ini menganut sistem yang berpangkal pada liberalisme, humanisme sekuler, ekonomi neo liberal, yang sesungguhnya antituhan dan terlalu menganggap manusia sebagai pusat kehidupan yang serba bisa dan serba kuasa.

Karena itulah, Prof Dr KH Muhammad Sirajudin Syamsudin, MA — yang akrab disapa Prof. Din Syamsudin –memberikan dua solusi untuk menghadapi pergeseran peradaban dunia itu.

Menurutnya, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang dimiliki oleh Indonesia, bisa menjadi acuan atau role model untuk menghadapi dunia yang majemuk saat ini. “Bahkan, banyak tokoh Katolik di luar negeri yang mengapresiasi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” terang Din Syamsudin.

Bagi Din, manusia yang selalu dianggap sebagai pusat kehidupan, serba bisa, serba kuasa, yang menyebabkan terjadinya pergeseran besar dalam peradaban dunia saat ini, memerlukan solusi.

Pertama, perlu ada nilai-nilai pengikat atau kesepakatan untuk hidup bersama. Maka, slogan semacam Bhinneka Tunggal Ika dalam skala global itu perlu dinaikkan. Walaupun kita berbeda-beda bangsa dan agama, namun kita satu. Dan sebenarnya, Islam jauh sejak 1.400 tahun yang lalu, sebelum adanya HAM, telah memberikan solusi melalui Piagam Madinah yang diprakarsai oleh Rasulullah, yaitu agar bisa hidup berdampingan dan bersama.

“Nah, inilah yang diperlukan dunia saat ini,” jelas Din Syamsudin, saat menjadi narasumber orasi kebangsaan dalam Milad Akbar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-54 bertajuk “Meneguhkan Pancasila sebagai Ruh dalam Politik ke-Indonesiaan” pada Rabu (14/3/2018) di Gedung Ibrahim Universitas Muhmmadiyah Yogyakarta (UMY).

Kedua, tidak hanya slogan pengikat seperti Bhinneka Tunggal Ika, lanjut Din lagi, tapi yang bersifat ideologi seperti Pancasila yang dimiliki oleh Indonesia. “Dan kalau kita dalami dengan jernih, maka Pancasila itu sangat mencerminkan nilai-nilai agama,” tandas Din.

Semua agama di Indonesia, menurut Din, bersepakat dan menguatkan kesepakatannya sebagaimana yang telah diberikan oleh para pendiri bangsa, bahwa negara kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila adalah bentuk final dan bentuk terbaik demi Indonesi yang bermajemuk.

“Dan Pancasila itu adalah kristalisasi dari nilai-nilai agama,” papar Din yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010/2010-2015.

Din juga menyampaikan, Pancasila saat ini sudah final. Artinya, dalam aktifitas bernegara Pancasila harus terus dijunjung tinggi sampai kapan pun. “Modal utama dalam berbangsa dan bernegara adalah memiliki landasan seperti Pancasila,” tandas Din.

Karena, dengan berkembangnya peradaban dunia dan menonjolnya egoisme negara, maka landasan seperti Pancasila sangat diperlukan. “Karena itulah mengapa dewasa ini banyak tokoh dunia yang memberikan apresiasi pada Pancasila,” terang Din, yang menambahkan, Pancasila itu sampai kapan pun akan tetap cocok untuk peradaban dunia.

Bahkan, kata Din, tokoh katolik juga mengapresiasi Bhinneka Tunggal Ika dan mengatakan bahwa itu bisa menjadi model dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya. (Affan)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here