Gempuran Era Digital Ancam Harmoni Rumah Tangga, Resep “TTM” Jadi Kunci Bentuk Generasi Tangguh
YOGYAKARTA — Malam akhir pekan yang berbeda tersaji di Aula Lantai 2 Gedung Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jalan Gedongkuning no. 130 B, Jumat malam (1/5). Ratusan jamaah yang didominasi kalangan muda tampak khusyuk menyimak realitas rumah tangga masa kini dalam Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) dari Angkatan Muda Muhammadiyah DIY.
Membawa tajuk "Keluarga Seimbang di Era Digital Menumbuhkan Generasi Tangguh", acara ini menghadirkan Hj. Mahsunah Syakir, SE., M.E.K. Beliau menyandang predikat Keluarga Sakinah Teladan Nasional Tahun 2016 sekaligus figur aktif di BP4 DIY.
Dalam kajian, Mahsunah tampil blak-blakan membedah dinamika keluarga modern yang makin kompleks. Baginya, mengarungi bahtera rumah tangga ibarat berlayar di lautan dunia yang dalam dan penuh risiko tenggelam. Jangkar pertamanya harus kokoh, yakni niat semata-mata untuk ibadah.
Namun, niat saja tak cukup. Di hadapan para peserta, perempuan yang usia pernikahannya telah menginjak 56 tahun itu membagikan resep pamungkasnya, yaitu TTM (Teman Tapi Mesra).
"Dalam keluarga itu perlu TTM. Tapi kalau Teman Tapi Mesra itu malah tidak sakinah, ning sakimah, saiki lali omah (sekarang lupa rumah)," kelakarnya yang sontak memecah tawa hadirin.
TTM ala Mahsunah adalah singkatan dari Tafahum (saling memahami), Tasamuh (toleransi), dan Mahabbah (saling mencintai). Tiga pilar kesalingan inilah yang wajib dipegang teguh mulai dari fase pengantin baru hingga rambut memutih. Termasuk pula dalam pembagian peran domestik yang kini harus proporsional; istri tak lagi sekadar konco wingking yang hanya bertugas mengurus dapur, sumur, dan kasur.
Diskusi makin menghangat saat menyinggung realitas keluarga di abad ke-21. Mahsunah tak menampik jika gempuran era digital adalah ujian kelas berat. Gawai atau gadget sering kali merampas interaksi fisik di bawah satu atap. "Makan di meja bareng, Bapak, Ibu, anak, semua bawa gadget. Masing-masing komunikasi sendiri-sendiri," sentilnya memberi gambaran ironis yang kerap terjadi.
Tak sekadar urusan kurang ngobrol, dampak susulannya cukup ngeri. Mahsunah membeberkan fakta pahit dari meja kerjanya saat piket di KUA Depok. Kasus perceraian melonjak bukan hanya dipicu masalah nafkah ekonomi, tapi juga karena hal-hal yang difasilitasi teknologi. Mulai dari istri yang terjerat pinjaman daring (pinjol), perselingkuhan lewat obrolan berbau asusila di WhatsApp, hingga geger rumah tangga akibat CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) setelah sang istri bernostalgia lewat media sosial dengan mantan pacarnya.
Solusinya, orang tua tak boleh kaku dan wajib peka. "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya," pesannya mengingatkan. Alih-alih hanya melarang secara otoriter, orang tua dituntut hadir sebagai pendamping yang melek literasi digital. Terapkan pembatasan screen time, sediakan waktu luang bersama keluarga (family time), dan kenalkan gawai untuk konten-konten yang positif.
Suasana kajian yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Majelis Tabligh PWM DIY ini makin gayeng saat sesi tanya jawab dibuka. Hanif, salah seorang peserta dari IMM, melontarkan keresahannya soal kasus kekerasan seksual yang sempat mencuat di beberapa pondok pesantren. Dengan tenang, Mahsunah menjelaskan bahwa penyimpangan semacam itu kerap berakar dari kelainan atau memori kelam masa kecil pelaku yang pernah menjadi korban. Ia menegaskan pentingnya pengawasan berlapis dan rasio pendamping (musyrif) yang memadai agar selaras dengan jumlah santri yang diasuh.
Pertanyaan tak kalah menggelitik datang dari Syawal Saputra yang menyoroti kontrasnya tren pernikahan beda generasi. Ia menanyakan tentang kenapa kakek-nenek kita dulu berani menikah pasca lulus SMP, sementara anak muda usia 30-an zaman sekarang asyik menunda demi mengejar karier.
"Dulu itu faktor budaya. Semakin anak itu laku cepat, keluarga itu menjadi terangkat," jelas Mahsunah bernostalgia. Namun kini, konteksnya telah berubah drastis. Pernikahan di era modern tak bisa sekadar nekat. Butuh kesiapan paripurna mental, fisik, finansial (skill mencari nafkah), hingga kekuatan iman. Menikah di usia dini tanpa kesiapan justru kini kerap berujung pada tingginya pengajuan dispensasi nikah akibat kehamilan tak dikehendaki (KTD), yang bermuara pada tingginya angka perceraian.
Tepat pukul 21.30 WIB, seiring habisnya alokasi waktu, majelis ilmu pun selesai. Malam itu, ratusan peserta tak sekadar mendapat siraman rohani. Mereka membawa pulang sebuah peta jalan kesadaran: bahwa merawat keutuhan keluarga di pusaran era digital menuntut kolaborasi, komitmen tanpa batas, dan kewarasan ekstra demi mencetak generasi masa depan yang benar-benar tangguh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow