Faris Al Fadhat: Elan Vital Harus Jadi Ruh Gerakan IMM di Era Disrupsi

Faris Al Fadhat: Elan Vital Harus Jadi Ruh Gerakan IMM di Era Disrupsi

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan, Prof. Faris Al Fadhat, M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya menjaga dan memperkuat elan vital sebagai ruh gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pesan tersebut ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) IMM DIY, Sabtu (18/10) di Aula Gedung AR Fachrudin Unit A, UMY.

Menurut Faris, elan vital merupakan semangat hidup dan daya penggerak yang membuat sebuah organisasi tetap dinamis dan berdaya guna. Tanpa elan vital, organisasi hanya akan bergerak secara administratif tanpa ruh perjuangan.

“Kita harus memahami elan vital sebagai ruh dari organisasi. IMM beruntung memiliki elan vital yang kuat. Institusi bisa maju kalau punya ruh itu dan tema Rakorda ini sangat tepat untuk menyegarkan kembali semangat tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak organisasi yang mampu menyusun program dan mengukur capaian, tetapi tidak banyak yang benar-benar memahami bagaimana menjalankan program secara efektif.

"Kita sering fokus pada apa yang dikerjakan, tapi lupa bagaimana cara melaksanakannya. Maka perlu upgrading dan upscaling agar gerakan IMM semakin matang. Muhammadiyah sendiri melakukannya melalui ideopolitor untuk memastikan arah gerakan sesuai nilai dan prinsip,” jelasnya.

Faris yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku itu menilai, memahami dan menjaga elan vital menjadi penting bagi setiap kader IMM, terutama bagi mereka yang kelak akan mengelola organisasi di tingkat daerah maupun nasional.

“Yang akan mengurus DPD nantinya harus memahami elan vital IMM. Tujuannya agar terus melahirkan akademisi dan intelektual yang berakhlakul karimah sebagai bagian dari perjuangan Muhammadiyah,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa IMM harus menyiapkan kader menghadapi tantangan global dan disrupsi teknologi yang semakin kompleks menjelang Indonesia Emas 2045.

“Ada tiga tantangan besar: ledakan populasi dunia, pergeseran pekerjaan ke digitalisasi, dan gangguan fokus anak muda akibat teknologi. Semua ini berdampak langsung pada kehidupan mahasiswa, termasuk kader IMM,” paparnya.

Dalam konteks tersebut, Faris menilai peran IMM sangat strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berjiwa sosial.

“IMM memiliki trilogi (keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan) serta trikompetensi (religiusitas, intelektualitas, dan humanitas) yang menjadi elan vital gerakannya. Artinya, iman sebagai ruh, ilmu sebagai akal, dan amal sebagai tujuan, tiga hal ini harus terus digerakkan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung perkembangan Muhammadiyah yang terus mengalami lompatan besar dalam dua dekade terakhir, baik di bidang pendidikan, filantropi ekonomi, maupun diplomasi kemanusiaan. Namun, kemajuan itu, kata dia, juga menghadirkan tantangan tersendiri.

“Ketika Muhammadiyah semakin besar, tantangan ideologis juga ikut meningkat. Disrupsi bisa mempengaruhi semangat kader. Karena itu, IMM harus menjaga elan vitalnya agar tetap konsisten dalam misi kesejahteraan dan pencerahan umat,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Faris berharap IMM DIY dapat menjadi laboratorium kader yang mampu menjaga semangat intelektual, moral, dan spiritual dalam menghadapi perubahan zaman.

“Mudah-mudahan IMM benar-benar memperkuat elan vital yang menggerakkan kader dalam bekerja dan berkhidmat untuk umat,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow