Edukasi Manajemen Risiko, PWM DIY dan UMY Bangun Budaya Kerja Sadar Risiko

Edukasi Manajemen Risiko, PWM DIY dan UMY Bangun Budaya Kerja Sadar Risiko

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Direktorat Riset dan Pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Skema PKM Reguler bertajuk "Edukasi Manajemen Risiko Staf Administrasi di Kantor PWM DIY". Kegiatan ini berlangsung di Gedung Muhammadiyah DIY, Jalan Gedongkuning no. 130 B, Rejowinangun, Kota Yogyakarta, Kamis (5/2).

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang Ashar ini bertujuan meningkatkan kompetensi serta kesadaran risiko para staf kantor PWM DIY dalam menghadapi tantangan kerja yang semakin kompleks di era modern.

Wakil Sekretaris PWM DIY, Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I., menegaskan bahwa dinamika zaman menuntut perubahan cara pandang dalam mengelola organisasi, termasuk dalam hal manajemen risiko.

“Tantangan yang dihadapi PWM DIY saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan masa awal berdiri. Risiko yang dulu sederhana, kini menjadi jauh lebih kompleks. Karena itu, semangat untuk terus belajar, termasuk belajar manajemen risiko harus terus kita hidupkan,” ujarnya.

Menurut Farid, budaya sadar risiko perlu dibangun secara kolektif karena setiap aktivitas keseharian, khususnya dalam pelayanan umat dan administrasi, tidak pernah lepas dari potensi risiko.

“Kesalahan kecil saja, terutama di bidang administrasi, bisa berdampak besar dan fatal. Bukan hanya bagi kita sebagai pengelola, tetapi juga bagi pihak yang kita layani. Karena itu, risiko bukan untuk dihindari, melainkan dikelola dengan sadar dan terukur,” tambahnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemateri dan pihak UMY yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Farid berharap program edukasi ini dapat berlanjut dengan skala dan dampak yang lebih besar serta berjangka panjang.

Sementara itu, Gita Danu Pranata, S.E., M.M. selaku Dosen Manajemen UMY, mengajak peserta memahami bahwa setiap perkembangan selalu membawa risiko yang harus direspons dengan pengetahuan dan kesiapan.

“Semua hal memiliki risiko. Perkembangan zaman mengharuskan kita untuk terus belajar dan menerapkan prinsip manajemen risiko dalam praktik nyata,” ungkapnya.

Gita mencontohkan penerapan manajemen risiko di rumah sakit dan perguruan tinggi, khususnya terkait aspek keselamatan dan aksesibilitas.

“Saat proses akreditasi rumah sakit, detail seperti pegangan di toilet menjadi penting agar pasien tidak terjatuh. Hal serupa kini juga wajib diterapkan di kampus, misalnya akses bagi pengguna kursi roda. Ini contoh konkret bagaimana risiko dikelola agar kenyamanan dan keselamatan terjamin,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mengidentifikasi dan membahas berbagai jenis risiko, yakni risiko operasional atau fisik, risiko administrasi dan kesekretariatan, serta risiko keuangan dan aset.

Menurut Gita, tidak semua risiko mudah dipahami atau umum di masyarakat. Namun, kunci utamanya adalah konsistensi dalam menjelaskan dan membangun pemahaman secara perlahan.

“Yang terpenting bukan hanya mengenali risikonya, tetapi bagaimana menjelaskannya dengan sabar dan konsisten agar menjadi budaya bersama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, PWM DIY dan UMY berharap dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang lebih profesional, aman, dan berorientasi pada kebermanfaatan, sejalan dengan nilai-nilai Persyarikatan Muhammadiyah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow