Darurat Dunia Pendidikan, Ikhwan Ahada: Kepala Sekolah Harus Menjadi Servant Leader
SLEMAN — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A., mengingatkan bahwa dunia pendidikan saat ini berada dalam kondisi darurat. Karena itu, kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak cukup hanya berperan sebagai administrator.
"Kepala sekolah dan madrasah harus tampil sebagai servant leader yang mampu melindungi, melayani, mengasuh, sekaligus membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya arus media digital," tegas Ikhwan saat menutup Pendidikan dan Pelatihan Khusus Calon Kepala Sekolah (Diksus Cakep) 2026 yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal PWM DIY, Sabtu (1/8).
Diksus Cakep yang berlangsung selama lima hari di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY, Kalasan, Sleman tersebut diikuti 152 peserta dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA se-DIY. Program tersebut menjadi ikhtiar Muhammadiyah dalam menyiapkan calon kepala sekolah dan madrasah yang unggul, adaptif, serta memiliki daya saing.
Dalam paparannya, Ikhwan menilai tantangan pendidikan saat ini jauh melampaui persoalan akademik. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan besar terhadap perilaku generasi muda, bahkan membuat sebagian anak kehilangan akar budaya dan nilai-nilai kesantunan.
"Kondisi pendidikan kita betul-betul berada pada titik darurat," tegasnya.
Ia mengutip hasil riset global Oxford University Press yang menunjukkan perubahan karakter generasi muda dari tahun ke tahun. Menurutnya, istilah risk generation pada 2023 berkembang menjadi brain rot pada 2024, hingga anger feed pada 2025 sebagai gambaran generasi yang terus dibanjiri informasi tanpa penyaringan sehingga rentan terpapar ujaran kebencian dan konten kekerasan.
Ikhwan juga menyoroti bagaimana internet memudahkan siapa pun memperoleh informasi maupun komponen yang berpotensi disalahgunakan.
"Melalui alat ini, kita bisa membeli komponen dan mendapatkan tutorial membuat sesuatu yang mencelakai orang lain, entah bom atau pistol rakitan. Komponennya mudah didapat, tinggal COD (Cash on Delivery), datang di depan kamar," ujarnya.
Ia mencontohkan kasus di Yogyakarta ketika seorang pelajar SMP diamankan aparat setelah diduga menyiapkan atribut kekerasan serta merakit bahan peledak yang direncanakan akan digunakan di lingkungan sekolah. Baginya, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa ancaman di ruang digital dapat berujung pada tindakan nyata.
Karena itu, menurut Ikhwan, sekolah membutuhkan pemimpin yang mampu menciptakan rasa aman sekaligus menjadi mitra bagi guru dan peserta didik. Kepala sekolah harus hadir sebagai pelindung yang mampu membentengi anak-anak dari berbagai pengaruh negatif dunia digital.
Untuk mewujudkan kepemimpinan tersebut, ia merumuskan empat karakter utama kepala sekolah Muhammadiyah, yakni ngayomi (melindungi), ngayani (melayani), ngesuhi (mengasuh), dan ngeni, yaitu sosok yang kehadirannya selalu dirindukan oleh warga sekolah.
Menurutnya, paradigma kepemimpinan pendidikan saat ini perlu bergeser dari sekadar kepemimpinan transformatif menuju servant leadership, yakni kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan, mendahulukan kepentingan orang lain, dan siap memikul beban terbesar ketika sekolah menghadapi persoalan.
"Peran ngeni menjadi ukuran kualitas kehadiran seorang pemimpin. Jangan sampai ketika kepala sekolah tidak hadir justru semua merasa lega. Sebaliknya, kehadiran pemimpin harus membawa semangat, rasa aman, dan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh warga sekolah," katanya.
Selain membahas kepemimpinan, Ikhwan mengajak para peserta menjaga kebesaran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkarakter kultural dan sosial dengan tetap berpegang pada tiga watak dasar Muhammadiyah, yakni keterbukaan, komitmen dan integritas, serta tasamuh.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola sekolah yang profesional, akuntabel, sekaligus tetap berlandaskan Islam Berkemajuan.
"Muhammadiyah tidak merasa dirinya paling benar, apalagi benar sendiri. Jangan sampai muncul anggapan kalau tidak di Muhammadiyah pasti masuk neraka. Tidak ada yang seperti itu, karena surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah," tegasnya.
Menutup arahannya, Ikhwan berharap seluruh peserta Diksus Cakep membawa semangat pembelajaran selama pelatihan untuk diterapkan di sekolah dan madrasah masing-masing. Menurutnya, di tengah pesatnya modernisasi, pendidikan karakter harus tetap menjadi jantung pendidikan Muhammadiyah.
"Fasilitas sekolah boleh terus berkembang mengikuti zaman, tetapi pembentukan karakter peserta didik tidak boleh ditinggalkan," tandasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow