Cahyono Soroti Tantangan Digital dan Penguatan Iman dalam Kaderisasi IPM

Cahyono Soroti Tantangan Digital dan Penguatan Iman dalam Kaderisasi IPM

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Cahyono, S.Ag. menegaskan pentingnya penguatan nilai keimanan dan tanggung jawab kader dalam proses perkaderan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Hal ini disampaikan saat hadir dalam Temu Kader IPM se-DIY, Sabtu (11/4).

Dalam sambutannya, Cahyono mengapresiasi kaderisasi IPM yang dinilai mampu melahirkan kader-kader unggul, tidak hanya berkiprah di lingkungan persyarikatan, tetapi juga hingga ke ranah pemerintahan. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi dan diaspora Muhammadiyah melalui IPM berjalan dengan baik.

“Saya berharap capaian kader saat ini bisa mengikuti bahkan melampaui jenjang seniornya,” ujarnya.

Namun demikian, Cahyono juga menyoroti tantangan generasi pelajar saat ini, khususnya terkait penggunaan gawai yang dinilai cukup tinggi. Ia menyebut, rata-rata penggunaan gawai bisa mencapai tujuh jam per hari, bahkan sebagian pelajar mampu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk aktivitas pasif seperti rebahan atau tidur-tiduran dan terkadang sambil bermain ponsel.

“Berbeda dengan kalian yang hadir di sini, yang memilih berdiskusi tentang perkaderan. Ini kesempatan yang luar biasa dibandingkan generasi sebelumnya,” katanya.

Ia menekankan bahwa setiap proses dalam organisasi, sekecil apa pun perannya, harus dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab agar memberikan dampak di masa depan.

Dalam pesannya, Cahyono juga mengingatkan kembali nilai-nilai kaderisasi Muhammadiyah yang pernah digagas oleh KH Mas Mansur melalui 12 langkah pembinaan kader. Salah satu poinnya adalah memperdalam iman dan memperluas pemahaman agama.

Ia mengajak para kader untuk melakukan refleksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi antara penggunaan gawai dan kedekatan dengan Allah.

“Coba renungkan, lebih cepat mana kita merespons panggilan ponsel atau panggilan Allah. Lebih kuat mana kita membaca Al-Qur’an dibandingkan membaca tulisan di media sosial. Dan lebih banyak mana kita berinfak dibandingkan membeli paket data internet,” ungkapnya.

Menurutnya, refleksi tersebut penting agar kader tidak kehilangan arah di tengah arus digitalisasi yang begitu kuat.

Lebih lanjut, Cahyono mengajak kader IPM untuk kembali memakmurkan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan sosial. Ia juga menekankan pentingnya memperluas pemahaman agama agar tidak terjebak pada sikap sempit dan mudah menyalahkan pihak lain.

“Muhammadiyah memiliki pandangan Islam yang luas, moderat, dan berkemajuan. Fokus pada penguatan akidah serta tajdid, sebagaimana dirumuskan dalam Risalah Islam Berkemajuan,” jelasnya.

Ia berharap kader IPM mampu menjadi benteng nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin sekaligus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

“Semoga kader IPM mampu berdiaspora dan memberikan kontribusi nyata untuk memakmurkan bumi ini,” tutupnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow