Workshop Penatalaksanaan Sepsis dan Syok MPKU PWM DIY Tingkatkan Kompetensi Nakes di Lini Gawat Darurat

Workshop Penatalaksanaan Sepsis dan Syok MPKU PWM DIY Tingkatkan Kompetensi Nakes di Lini Gawat Darurat

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam penanganan kasus kegawatdaruratan, terus dilakukan melalui kegiatan edukatif dan kolaboratif. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan workshop bertajuk “Optimalisasi Penatalaksanaan Sepsis dan Syok di Fasilitas Gawat Darurat dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama” yang digelar di Gedung Siti Walidah, Ruang Rapat 3 Lantai 3, RS PKU Muhammadiyah Gamping, Ahad (19/4).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 136 peserta yang terdiri dari dokter umum dan perawat, dengan rincian 66 peserta hadir secara luring dan 70 peserta mengikuti secara daring. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani kasus sepsis dan syok secara cepat dan tepat.

Workshop ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan MPKU PWM DIY, serta bertempat di RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai lokasi pelaksanaan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan, khususnya dokter umum dan perawat, dalam mengenali serta menatalaksana sepsis dan syok sejak tahap awal. Materi yang disampaikan mengacu pada pedoman berbasis evidensi terkini, termasuk pembaruan dalam Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2026. Peserta dibekali pemahaman komprehensif terkait deteksi dini, resusitasi cairan, pemberian antibiotik, hingga penggunaan vasopressor dalam praktik klinis sehari-hari.

Selain peningkatan pengetahuan, workshop ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan klinis. Indikator keberhasilan kegiatan ini diukur melalui peningkatan skor pre-test dan post-test, serta meningkatnya kepatuhan terhadap langkah-langkah awal penatalaksanaan sepsis.

Penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kejadian dan mortalitas sepsis yang sebagian besar dipengaruhi oleh keterlambatan penanganan awal. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan kompetensi tenaga kesehatan, terutama di fasilitas pelayanan primer dan unit gawat darurat, agar mampu melakukan intervensi secara cepat dan tepat sesuai standar terbaru.

Selain itu, keterbatasan pemahaman terkait penatalaksanaan sepsis berbasis evidensi juga menjadi perhatian bersama. Oleh karena itu, sosialisasi dan integrasi pedoman terbaru seperti SSC 2026 menjadi langkah strategis dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan.

Lebih jauh, workshop ini juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi dan sistem rujukan antara fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rumah sakit rujukan. Dengan demikian, penanganan pasien sepsis dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan terintegrasi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta model intervensi peningkatan kapasitas klinis di layanan primer yang tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan, tetapi juga berpotensi untuk dipublikasikan dalam forum ilmiah sebagai praktik baik di bidang kesehatan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow