Teruntuk Para Orang Tua, Cobalah untuk Mau Paham Keinginan Anak
YOGYA - Kajian Malam Sabtu (Kamastu) yang dilaksanakan setiap awal bulan, kembali hadir pada Jumat malam (7/6). Kali ini, mengangkat topik penting mengenai perencanaan karir pada anak, dengan pembicara yaitu Dosen Fakultas Psikologi UAD, Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si.
Kamastu berlangsung di Aula lantai 2 Gedung Muhammadiyah DIY (PWM DIY), Jalan Gedongkuning no 130 B, Kota Yogyakarta (selatan Kantor BPJS DIY) dan disiarkan langsung oleh Youtube Channel Kajian PWPM DIY pada pukul 19.30 WIB sampai dengan 21.30 WIB.
Dari sudut pandang orang tua dan sudut pandang anak. Fatwa mengatakan bahwa waktu kecil, banyak orang tua yang mendoktrin, jika berbicara era baby boomers (usia 52-72 tahun) di era ini orang tua sering memperkenalkan profesi pada waktu itu merupakan profesi yang dianggap bagus dan aman yang mempunyai masa depan yang cerah.
"Orang tua saya ketika berada baby boomers ini kalau sudah besar jadi guru ya atau jadi dokter ya atau pilot dan sebagainya pada semua karir yang bagus tapi ternyata ada perubahan pada generasi-generasi selanjutnya," ujarnya.
Dari dara kasus sensus BPS akibat orang tua tidak merencanakan karir anak dengan 5 - 9 tahun hampir 3 juta, hal ini menunjukkan bahwa banyak anak yang tidak merasakan atau mengawali karirnya di perjalanan hidupnya sampai masa selesainya perkembangan karir itu.
Menurutnya, karir merupakan rangkaian peran yang dilakukan seseorang sepanjang hidupnya termasuk pekerjaan, pendidikan, pelatihan, pengalaman, dan aktivitas di luar pekerjaan. Jadi, karir itu berkaitan dengan banyak hal dengan pengalaman yang terbentuk dari kecil.
“Proses karirnya itu berbeda-beda tergantung pola asuh orang tua,” kata Fatwa.
Perencanaan karir merupakan proses untuk menyadari diri sendiri terhadap peluang, kesempatan, kendala, pilihan, konsekuensi, identifikasi tujuan berkaitan dengan karir.
Jadi jika ingin berkarir maka berkaitan dengan peluang. Tujuan jangka panjangnya adalah bagaimana cara mencapai nilai kehidupan yang nilai itu direalisasikan dalam keseharian hidupnya. Kemudian, tujuan pendeknya mencakup tujuan yang mungkin tidak terlalu lama, dimana tujuan ini dipergunakan untuk persiapan tertentu seperti di depan mata kita.
Pihak yang paling membantu dalam perencanaan karir seseorang yaitu orang tua sebagai pihak tertinggi, tokoh karir misal tokoh yang menjadi idola Anda yang bisa diikuti atau prosesnya dapat digunakan di hidup Anda, dan teman juga mempengaruhi.
Sekarang di era 4.0, dituntut untuk menguasai teknologi informasi, terutama sampai pada kecerdasan buatan. Ketika 5 - 14 tahun, masa pertumbuhan itu baru mengenali dan mengikuti bisa saja bertanya mengenai pekerjaan.
"Di masa ini seringkali kita memasukkan apa yang dulu dicita-citakan lalu diberikan ke anak untuk mencapainya. Di masa eksplorasi karir, di sini masa krusial (remaja tengah - remaja akhir - dewasa awal) sudah mulai mempelajari pola-pola yang ada di dirinya dan mengetahui resikonya sehingga dari berbagai pilihan dapat menentukan pilihannya bahkan mulai berdiskusi dengan orang tua," papar Fatwa.
Fatwa lalu mengatakan adanya 10 skill untuk pekerjaan di masa depan meliputi adanya manajemen diri, bekerja dengan orang, keterampilan berbasis teknologi dan pengembangannya, berpikir secara inovatif, aktif learning dan strategis, kreatif inisiatif, teknologi, programing, resilience (kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan), problem solving, dan memberikan ide pada orang lain, adalah hal yang wajib kita sebagai orang tua tanamkan pada anak untuk kebutuhan masa depan.
Orang tua memiliki peran penting dalam merencanakan karir anak dimana paling dasar adalah memotivasi dan juga menyiapkan biaya. disisi lain peran ibu menjadi kunci pada hal ini, karena ibu adalah sosok yang selalu mendampingi anak dari kecil. Nilai dominan ibu akan lebih tertanam pada sang anak, sehingga ibu diwajibkan untuk mengetahui tata cara mendidik anak meliputi, agama, akademik, dan sisi lain.
Usia 1-5 tahun merupakan golden age anak sehingga pada usia ini sebaiknya anak jangan dilepas pada tempat penitipan, namun ornag tua diwajibkan untuk tetap mendampingi tumbuh kembangnya.
Tentunya, sebagai orang tua harus tahu apa yang dimau oleh anak-anak, memberikan penjelasan secara terbuka untuk anak-anak kita. "Ingat kita sebagai orang tua membuka peluang, anak itu akan banyak menyampaikan pendapat dan informasi apabila kita bersifat terbuka," tandas Fatwa. (*)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow