Tazkiyatun Nafs Jadi Pondasi, Sekolah Ideologi Muhammadiyah Teguhkan Komitmen Kader

Tazkiyatun Nafs Jadi Pondasi, Sekolah Ideologi Muhammadiyah Teguhkan Komitmen Kader

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Sekolah Ideologi Muhammadiyah menyelenggarakan Malam Muhasabah Ideologi sebagai ikhtiar penguatan ruh ideologis dan spiritual kader Muhammadiyah. Berlangsung di Hotel Kanna Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman, pada Sabtu dan Ahad (31/1-1/2).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ust. Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., sebagai narasumber utama, dengan mengusung tema “Tazkiyatun Nafs: Menguatkan Ruhul Jihad dan Ruhul Ikhlas dalam Bermuhammadiyah.”

Tema tersebut menjadi ruang refleksi mendalam bagi kader persyarikatan untuk meneguhkan kembali komitmen ideologis dan spiritual di tengah dinamika dakwah yang kian kompleks.

Dalam pemaparannya, Ust. Fathurrahman Kamal menguraikan tiga esensi utama tazkiyatun nafs. Pertama, kemurnian tauhid yang diwujudkan melalui keberanian untuk jujur kepada diri sendiri dan menjauhi sikap munafik. Tauhid yang murni, menurutnya, menuntut keselarasan antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan, termasuk dalam aktivitas bermuhammadiyah.

Esensi kedua adalah tauhid yang menggerakkan, yakni tauhid yang melahirkan keberanian untuk beramar makruf nahi munkar. Setiap amanah jabatan yang Allah titipkan, baik di ruang publik maupun di internal Muhammadiyah harus menjadi medan perjuangan nilai, bukan sekadar posisi. Tauhid tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus hidup dalam keputusan dan tindakan nyata.

Adapun esensi ketiga yang ditekankan adalah pentingnya kasih sayang terhadap keluarga. Ust. Fathurrahman mengingatkan bahwa kesibukan dakwah dan aktivitas organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk melalaikan keluarga. Keluarga merupakan ruang awal pembentukan keikhlasan dan keutuhan ruh jihad seorang kader.

Kegiatan ini turut didampingi Direktur Sekolah Ideologi Muhammadiyah, Dr. Hardi Santosa, M.Pd., yang memandu sesi refleksi tazkiyatun nafs. Sebagai konselor Islami yang menekuni bidang konseling profetik, Ust. Hardi membawa peserta memasuki suasana hening dan nyaman melalui teknik relaksasi dan self-hypnosis. Peserta diajak berdialog dengan diri sendiri, termasuk dengan anggota tubuh, mulai dari mata hingga anggota tubuh lainnya yang mungkin selama ini belum digunakan secara amanah dan adil sesuai ridha Allah Swt.

Refleksi dilanjutkan dengan sesi berbagi antarpeserta. Mereka diminta menyebutkan tiga orang yang berperan besar dalam kesuksesan hidupnya. Suasana pun menjadi sangat emosional; beberapa peserta tampak terisak dan menitikkan air mata saat menyadari bahwa kesibukan dan aktivitas dakwah kerap membuat mereka lalai terhadap pengorbanan orang-orang terdekat.

Pada dini hari, rangkaian kegiatan ditutup dengan salat tahajud berjamaah, kajian ayat-ayat pilihan, serta tausyiah ideologi oleh Ketua MPKSDI PWM DIY, Andi Putra Wiyaja, S.E., M.S.I. Ia menegaskan bahwa ideologi yang kuat bukan sekadar cara pandang, melainkan harus bersenyawa dalam pola pikir dan perilaku yang konsisten. Ideologi sejati, menurutnya, melahirkan integritas, keberanian memilih kebenaran di persimpangan jalan, serta keteguhan untuk hanya bergantung kepada Allah Swt.

Sementara itu, Ketua PWM DIY Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., saat dihubungi secara terpisah, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Malam Muhasabah Ideologi. Ia menilai persoalan ideologi sebagai persoalan fundamental yang tidak dapat dibangun secara instan.

"Seorang ideolog, menurutnya, akan senantiasa hadir menjaga marwah gerakan dan persyarikatan melalui pola pembinaan yang sistematis serta ekosistem yang sehat," ucap Ikhwan. Kegiatan ini, menurutnya, sebagai ikhtiar strategis dalam merawat ruhul jihad kader Muhammadiyah di tengah tantangan dakwah yang semakin kompleks.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow