Tak Sekadar Tradisi, Idulfitri Momentum Bangun Solidaritas Global
YOGYAKARTA — Perayaan Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat kepedulian sosial dan membangun persaudaraan lintas batas, baik di tingkat nasional maupun global.
Pesan ini mengemuka dalam refleksi Idulfitri 1447 H yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Kamis (19/3). Ia menekankan bahwa nilai-nilai Ramadan semestinya tidak berhenti pada ritual, melainkan berlanjut dalam aksi nyata di tengah kehidupan sosial.
Menurut Haedar, semangat berbagi dan kepedulian perlu diperluas sebagai bagian dari penguatan “jaring pengaman sosial” yang melintas batas negara. Ia mencontohkan pentingnya solidaritas terhadap masyarakat di berbagai kawasan dunia yang tengah menghadapi krisis, seperti Palestina, Iran, dan wilayah lain yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
“Memberi adalah panggilan dari semangat keislaman kita untuk siapa pun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Nilai ini harus terus hidup setelah Ramadan,” ujarnya.
Selain kepedulian sosial, Haedar juga menyoroti pentingnya pengendalian diri sebagai warisan utama Ramadan. Menahan amarah, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial. Sikap mudah marah hingga berlebihan harus ditekan agar tidak merusak relasi antarmanusia.
Dimensi lain yang tak kalah penting adalah budaya saling memaafkan. Haedar mengingatkan bahwa Idulfitri menjadi ruang untuk membersihkan relasi sosial, baik dengan memberi maaf maupun berani meminta maaf.
“Seorang muslim harus memiliki kelapangan hati untuk memaafkan, sekaligus kerendahan hati untuk meminta maaf. Di situlah makna puasa berdampak pada kehidupan pribadi dan kolektif,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tradisi silaturahmi di bulan Syawal bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi memiliki makna strategis dalam memperbaiki kualitas hubungan kemanusiaan, mulai dari lingkup keluarga hingga antarbangsa.
Menurut Haedar, keretakan kemanusiaan kerap berakar dari rusaknya hubungan lintas kelompok. Karena itu, membangun persaudaraan yang melampaui batas identitas menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang kian terfragmentasi.
“Persaudaraan harus dibangun melintas batas, baik sesama umat beriman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapa pun,” tegasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa persaudaraan tersebut harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan, sebagaimana ajaran dalam Al-Maidah ayat 2, yakni bekerja sama dalam kebajikan, bukan dalam keburukan.
Dengan demikian, Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga momentum transformasi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbaiki relasi, dan membangun peradaban yang lebih berkeadaban.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow