Sutardji Calzoum Bachri dan Kredo Kebebasan Kata dalam Sejarah Sastra Indonesia
YOGYAKARTA — Sosok Sutardji Calzoum Bachri menjadi pusat perhatian dalam Acara Bincang Sastra: Bedah Buku dan Pembacaan Puisi "Kecuali", di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (8/10). Bedah buku kali ini menyoroti perjalanan panjang dan pengaruh Sutardji terhadap perkembangan sastra Indonesia. Acara tersebut menghadirkan Guru Besar UAD, Prof. Rina Ratih Sri Sudaryani, M.Hum., dan Pengasuh Pesan-Trend Ilmu Giri, HM. Nashruddin Anshoriy sebagai pembicara yang mengulas kiprah Sutardji sebagai penyair yang membawa gebrakan besar melalui kredo puisi.
Rina menuturkan bahwa kehadiran Sutardji menjadi momen bersejarah dalam dunia sastra. “Waktu mahasiswa saya kaget membaca puisi bisa semenarik itu. Biasanya orang membaca puisi dengan lembut, tapi Sutardji menghadirkannya dengan daya yang lain,” ujarnya.
Ia menilai Sutardji memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, yaitu sebagai tokoh dalam perjalanan sastra Indonesia dan sebagai penyair yang konsisten. Gebrakan kedua dalam sejarah sastra Indonesia setelah Chairil Anwar adalah Sutardji. ia membawa kebaruan yang sangat terasa, katanya.
Menurutnya, kredo puisi Sutardji yang menyatakan “kata harus bebas dari beban ide” menjadi tonggak penting dalam dunia kepenyairan. Ia juga menyoroti konsistensi Sutardji dalam menulis sejak karya legendaris O, Amuk, Kapak hingga buku terbarunya yang terbit pada 2021.
“Dalam karya terbarunya, kita menemukan kerinduan kepada Tuhan. Orang yang semakin sepuh semakin erat hubungannya dengan Sang Pencipta,” tambahnya.
Sastrawan Nasruddin Anshiriy menuturkan pengalaman unik yang menggambarkan kharisma Sutardji. “Cak Nun pernah bilang, beliau akan membayar makan semua penyair di Malioboro, syaratnya cuma satu: Sutardji harus membaca puisi,” kisahnya. Selain itu Sutardji juga pernah membaca dua puisi berjudul Luka dan Kalian di Taman Ismail Marzuki.
"Dua puisi itu singkat saja, tapi menjadi fenomenal” ujarnya.
Menurut Nasruddin, Sutardji memandang kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan entitas mandiri yang memiliki kekuatan intrinsik. Kekuatan itu menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan Sutardji dengan Penyair lainnya.
Sementara itu, dalam sesi refleksinya, Sutardji sendiri menegaskan pentingnya ketulusan dalam berkarya. “Kita tidak usah meminta-minta penghargaan dunia. Semua benda di dunia ini kalau jadi besar, akan jadi simbol,” ucapnya.
Sutardji juga menekankan bahwa menulis tidak pernah lahir dari ruang kosong. Menulis itu berangkat dari budaya, agama, dan tradisi. Baginya juga, puisi bukan sekadar permainan kata, melainkan penambahan makna.
“Puisi mencipta makna baru agar hidup menjadi lebih nikmat. Bulan bukan hanya bulan; ia bisa menjadi cermin budaya, tradisi, dan kehidupan,” tuturnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow