Songsong Ramadan, Guru SD Muhammadiyah Yogyakarta Didorong Jadi Penjaga Mata Rantai Ilmu dan Akhlak
YOGYAKARTA — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, ratusan guru SD Muhammadiyah se-Kota Yogyakarta meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga mata rantai keilmuan dan pembentuk akhlak generasi. Komitmen tersebut mengemuka dalam Pengajian Akbar Songsong Ramadan yang digelar di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kamis (5/2).
Sekitar 800 kepala sekolah, guru, dan karyawan SD Muhammadiyah mengikuti pengajian yang diinisiasi Badan Kerjasama (BKS) SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang persiapan spiritual menjelang Ramadan, tetapi juga wahana konsolidasi ideologis dan moral pendidik Muhammadiyah.
Ketua BKS SD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, H. Saijan, S.Ag., M.S.I., menyampaikan bahwa pengajian ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk menjaga semangat kolektif para guru. Ia juga mengapresiasi capaian sekolah-sekolah Muhammadiyah yang menunjukkan kepercayaan publik tinggi, tercermin dari peningkatan signifikan pendaftaran siswa baru melalui jalur inden SPMB.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta, Drs. H. Akhid Widi Rahmanto, menegaskan pentingnya menjaga ikatan batin antarguru Muhammadiyah. Menurutnya, soliditas pendidik menjadi fondasi utama keberlanjutan gerakan pendidikan Muhammadiyah di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Dalam pengajian tersebut, Ketua PP Muhammadiyah, dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., menempatkan guru pada posisi strategis dalam peradaban. Ia menegaskan bahwa guru adalah mata rantai pertama dalam transmisi ilmu, sehingga keberkahan ilmu sangat ditentukan oleh ketulusan dan niat pendidiknya.
Ia mengingatkan bahwa profesi guru sejatinya adalah ladang ibadah. Setiap nilai kebaikan yang diajarkan akan terus mengalir sebagai pahala jariyah, menjadikan guru sebagai profesi yang “kaya” dalam timbangan amal, meskipun tidak selalu unggul secara material.
Selain penguatan nilai keilmuan, dr. Agus juga menyampaikan perspektif Muhammadiyah dalam skala global, termasuk kiprah pendidikan Muhammadiyah di luar negeri melalui Muhammadiyah Australia College (MAC). Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah juga menggunakan pendekatan Mathla’ Global dalam penetapan awal bulan hijriah, yang menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.
Menjelang Ramadan, jamaah diajak mempersiapkan diri secara fisik dan mental melalui pemahaman empat ibadah istimewa, mulai dari haji mabrur, ibadah berbasis tempat dan waktu, hingga keutamaan Ramadan sebagai bulan pembakaran dosa dan pembentukan pribadi muttaqin. dr. Agus juga menyoroti manfaat ibadah malam, khususnya tahajjud, dari sisi medis yang berdampak pada kesehatan saraf dan daya tahan tubuh.
Pengajian ditutup dengan pesan reflektif agar puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga semata. Para guru diajak menjaga kualitas puasa dengan mengendalikan emosi, memperkuat dzikir, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian diri.
Melalui pengajian ini, para guru SD Muhammadiyah Yogyakarta diharapkan memasuki Ramadan bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai fase penting memperbarui niat, memperkuat akhlak, dan meneguhkan peran strategisnya dalam mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow