Silaturahmi Oktapreneur LP UMKM PWM DIY dan BSI Yogyakarta Wujudkan UMKM Berkelanjutan

Silaturahmi Oktapreneur LP UMKM PWM DIY dan BSI Yogyakarta Wujudkan UMKM Berkelanjutan

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN – Geliat untuk mengembangkan UMKM terus dilakukan. Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada dan Bank Syariah Indonesia Yogyakarta menyelenggarakan Silaturahmi Oktapreneur pada Rabu (26/2), di Balai Kalurahan Widodomartani, Ngemplak, Sleman.

Silaturahmi Oktapreneur ini dibersamai oleh Farid Ma’ruf (Ketua LP UMKM PWM DIY), Muhammad Iskandar (Ketua LP UMKM PDM Sleman), Irsan Islami (BSI Yogyakarta), Taufiq Ainun Ulya (Zendo Area Jogja), Azhar Nasih Ulwan (Jagalaba Marketplace), dan Tetra Budianto (Koordinator Daerah SUMU Sleman). Acara ini dihadiri para pelaku UMKM dan warga Widodomartani.

Para narasumber memaparkan materinya masing-masing. Mulai dari Farid Ma'ruf yang menyampaikan salah satu program utama LP UMKM PWM DIY di periode ini keliling bisnis UMKM dengan tujuan agar dekat dengan UMKM warga se-DIY. 

Tak hanya itu, LP UMKM PWM DIY sebelumnya mengadakan Klinik Halal UMKM dengan 150 produk berhasil dihalalkan. “Harapannya, setelah halal produk lebih laku dan memang isu halal sekarang menjadi sangat dibicarakan. Tidak hanya produk makanan, tetapi juga elektronik macam kulkas, televisi, dan sebagainya,” kata Farid.

Program LP UMKM PWM DIY lainnya ada Pasar Halal, yakni membuka pasar dan harapannya banyak UMKM masuk di situ. Tempatnya harus terjangkau dan menarik, untuk bisa masuk tentu harus halal dulu produknya dan ini jadi harapan agar jauh lebih berkembang. 

Selain mengadakan berbagai pelatihan dan kegiatan, LP UMKM juga membawahi beberapa usaha, seperti Jagalaba (Marketplace), Zendo (ojek daring berbasis WhatsApp), ROPI (Roti Kopi) yang baru saja diluncurkan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Orientasi LP UMKM PWM DIY lebih bergerak di investasi, karena ingin mengembangkan UMKM yang ada. “Kami ingin mendampingi UMKM agar mandiri dan bersaing di global. Tidak usah khawatir soal pemasaran dan sebagainya, dari sini sudah difasilitasi, bahkan siap untuk ditingkatkan ke level daerah hingga nasional,” jelas Farid.

Di samping ekosistem penjualan, LP UMKM PWM DIY dalam bergerak juga menggandeng berbagai komunitas seperti SUMU, G2RTMU, dan komunitas lainnya. Berjejaring banyak ini sangat diperlukan, karena untuk bisa berbisnis harus berkolaborasi dan bersinergi mengingat sekarang banyak pengusaha yang membangun koneksi dengan pihak lain. Tidak ada kompetisi, adanya kolaborasi dan ini sesuai dengan tagline LP UMKM Muhammadiyah, yaitu collaboration connection. 

Selanjutnya, Irsan Ismail mewakili BSI Yogyakarta mengatakan pihaknya sangat peduli perkembangan UMKM. Salah satu wujud dari kepedulian itu dengan adanya BSI UMKM Center yang beralamat di Jl. dr. Soetomo no. 8, Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

“Di sana (BSI UMKM Center) ada banyak sekali aktivitas UMKM. Monggo, kalau mau main ke sana, banyak produk yang ditampilkan ke masyarakat. Bahkan, pelatihan produk halal juga ada di sana, biayanya gratis. Juga, pelatihan perencanaan keuangan dan bisnis bisa diselenggarakan," papar Irsan.

Kemudian, pada silaturahmi ini juga dikenalkan dua produk unggulan LP UMKM PWM DIY. Pertama, adalah Zendo yang memiliki berbagai pelayanan apa saja di mana saja. 

Dari berbagai layanan, ada layanan utama berupa ojek daring yang menyediakan pengemudi motor dan mobil, bagi pelangga perempuan bisa pilih pengemudi khusus perempuan. Pelanggan juga bisa memesan sehari sehari sebelumnya supaya tidak terlambat. Selain mengantar penumpang, ada dua layanan utama lainnya, yaitu pengantaran makanan dan barang.

Bahkan, pada bulan Ramadan 1446H ini, Zendo menyediakan layanan khusus membangunkan sahur dan mengantarkan makanan untuk sahur kepada pelanggan. Sesuai dengan tagline yang diusung, apa saja di mana saja.

Zendo memiliki keunggulan lebih daripada aplikasi lain, salah satunya kemudahan untuk mengakses layanan karena menggunakan WhatsApp.

“Target segmen Zendo adalah orang yang ponselnya bukan hitech. Dari database, lebih banyak orang yang usianya 40 tahun ke atas dan ingin layanan yang mudah, itulah yang jadi target Zendo,” papar Taufiq.

Selain kemudahan akses layanan, Zendo juga terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai instansi. Semua orderan dari instansi akan share profit dari setiap transaksi yang dilakukan. 

Zendo juga membuka diri jika ada warung makanan yang ingin bergabung, nantinya warung tersebut akan dibantu untuk dipromosikan. Tentunya, ada kelebihan yang ditawarkan, yakni tidak ada biaya admin. Artinya harga yang ada di warung dan dibeli lewat Zendo sama persis, hanya menambah ongkir saja.

“Zendo juga membuka peluang untuk driver. Kami tanya punya kelebihan apa, misal bisa pijat, membenarkan genteng bocor, dan sebagainya. Mau bekerja sama sebagai driver, food merchant, pelanggan juga bisa. Apalagi di daerah Sleman Utara ini belum banyak,” lanjut Taufiq.

Produk yang kedua adalah Jagalaba, marketplace atau toko daring 100 persen milik Muhammadiyah. Jagalaba memiliki keunggulan, yaitu potongan biaya admin sebesar 4%, serta teknologinya lebih sederhana, mudah daftar jadi penjual, dan jika ingin beli produk di Jagalaba tidak harus punya akun.

Meskipun belum banyak produk gratis ongkos kirim (ongkir), tetapi Jagalaba sudah kerjasama dengan berbagai platform pengiriman kurir supaya harganya kompetitif lebih murah. Tak seperti marketplace lainnya yang kerap "bakar duit" dengan cara mengeluarkan banyak promo yang menyebabkan mereka belum untung sampai sekarang. 

“Jadi kami tidak membakar uang karena kami inginnya berkelanjutan atau jangka panjang, sehingga tidak bisa memberikan promo ongkir. Tetapi kami bisa menjamin bahwa Jagalaba ini berkelanjutan dan kerja sama dengan kurir supaya terjangkau. Saat ini, Jagalaba sudah ada 84 operator regional di seluruh Indonesia,” kata Azhar.

Semangat dari Jagalaba adalah bagaimana caranya UMKM ini tetap terjaga dan tidak dibohongi oleh pihak-pihak yang merugikan, terutama dalam penentuan harga dan transaksi. “Kita tumbuh secara organik, jadi kita beli antar UMKM. Jangan tergiur barang murah asal beli tapi uangnya tidak berputar di antara kita,” tegas Azhar.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow