Seperti Inilah Sosok almh. Nahar Miladi di Mata Sahabatnya
BANTUL - Nahar Miladi, S.E., aktivis perempuan Muhammadiyah yang tangguh dan aktif di setiap kegiatan pada hari Ahad (7/7) telah berpulang ke Rahmatullah.
Kepergian dari almarhumah yang merupakan istri dari Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta, Arif Jamali Muis, M.Pd. menimbulkan rasa duka yang mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekat.
Salah satunya, Abidah Muflihati, sahabat terdekat almarhumah. Ketika mendapat kabar bahwa almh. Nahar Miladi wafat, ia tak menyangka kalau sahabatnya itu telah wafat, padahal beberapa waktu sebelumnya sempat bertemu.
“Ini hal yang mengejutkan bagi saya. Saya sebulan sebelumnya sempat bertemu dan tidak tahu bahwa sakitnya parah,” katanya saat hadir secara daring di Takziah almh. Nahar Miladi pada Senin (8/7) malam.
“Insya Allah, kita ikhlas dan mungkin ini cara Allah untuk meringankan rasa sakit hamba-Nya. (Jadi) ini yang terbaik bagi almarhumah,” ucapnya yang saat takziah masih berada di Tanah Suci untuk beribadah Haji.
Saat mengenang perjalanannya almh. Nahar Miladi, Abidah merasa bersyukur mengenalnya sejak awal, tepatnya ketika aktif di PD IRM Kota Yogyakarta. Meskipun almh. Nahar adalah seniornya, tapi sudah menjadi kawan bagi Abidah sampai aktif di PP Nasyiatul ‘Aisyiyah dan PP ‘Aisyiyah.
“Mbak Nahar orang yang mengkader saya di Irmawati, dan saya anggota bidangnya di PD IRM Kota Yogyakarta,” kata Abidah.
Abidah juga mengungkap kalau ia dan almh. Nahar berbeda dari sisi kepribadian. Jika Abidah orang yang serius konservatif, kaku, sementara almh. Nahar dikenal sangat supel, ceria, dan gampang bergaul.
Namun, sekalipun berbeda, Abidah merasakan kalau sahabatnya itu tidak pernah menegur, jadi tetap saja penampilan atau pribadi yang ada. Tak hanya itu, Almarhumah sering mengajak Abidah ke event-event IRM yang majemuk, bergaul dengan banyak orang, dan dari situlah, perspektifnya lebih luas, menjadi lebih memahami banyak hal.
“Dia termasuk berkontribusi kepada saya agar lebih bijak dalam berorganisasi. Tidak harus mengkader, tidak harus diingatkan, dengan perbuatan yang tidak disengaja dan itu yang direncanakan oleh dia,” ujarnya dengan haru.
Usai dari IRM, Abidah dan almh. Nahar lanjut ke PP NA. Ketika itu, Abidah menjadi Ketua PP NA, sedangkan almh. Nahar menjadi Bendahara Umum. Saat di NA, keduanya berbagi tugas. Jika Abidah fokus ke hal-hal terkait konseptual, sementara itu almh. Nahar sangat ahli dalam hal yang teknis, seperti kepanitian, koordinator, dan sejenisnya.
Meski begitu, tak jarang keduanya sering berdiskusi banyak hal, salah satunya soal keuangan. Abidah juga mengungkapkan kalau almarhumah lebih suka di balik layar, merasa tidak penting namanya disebut, ditulis di media, namun yang terpenting kegiatan berjalan lancar dan baginya, kehadiran yang di balik layar itu sangat terasa perannya.
“Kerendahan hatinya bisa ditiru bersama, tidak harus jadi orang yang selalu muncul di panggung, tetapi bagaimana melakukan sesuatu yang terbaik, dan itulah yang menjadi titik temu akrab kami,” lanjut Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Bahkan di PP ‘Aisyiyah, sekalipun beda bidang, Abidah di Majelis Kesejahteraan Sosial sedangkan almh. Nahar di Majelis Tabligh dan Ketarjihan, keduanya tetap sering berdiskusi banyak hal seputar program atau hal-hal lain.
Sebelum menutup, ia berharap apa yang ditinggalkan oleh almh. Nahar menjadi legacy bersama. Abidah juga mengajak semuanya untuk menjaga aib, jadi jika ada yang diketahui, maka dijaga bersama. “Mudah-mudahan dengan itu, aib kita sendiri bisa tertutupi,” tutupnya. (*)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow