Rofiq Muzakkir Soroti Peran Sanad dalam Menjaga Kemurnian Hadis
GARUT — Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menegaskan bahwa hadis memiliki posisi strategis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Karena itu, keaslian hadis harus dijaga melalui proses verifikasi ilmiah yang ketat.
Pernyataan itu disampaikan dalam pengajian yang digelar di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Kamis (16/4). Dalam pemaparannya, Rofiq menjelaskan bahwa hadis tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga menjadi penjelas ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat umum.
Menurutnya, banyak praktik ibadah pokok dalam Islam tidak dapat dipahami secara utuh tanpa merujuk pada hadis, seperti tata cara salat, jumlah rakaat, pelaksanaan haji, hingga ketentuan zakat.
“Tanpa hadis, banyak kewajiban agama tidak mungkin dilaksanakan secara benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pentingnya hadis juga menuntut kehati-hatian umat Islam dalam menerima dan mengamalkannya. Sebab, menganggap sesuatu sebagai sunnah padahal bukan, sama seriusnya dengan meninggalkan sunnah yang benar-benar diajarkan Nabi Muhammad Saw.
Untuk itu, Rofiq memperkenalkan konsep kritik hadis atau Naqd al-Hadits, yakni metode ilmiah untuk meneliti dan menyaring riwayat. Menurutnya, kritik hadis bukan bertujuan mencela hadis, melainkan memastikan kebenaran suatu riwayat agar tidak terjadi penyandaran kebohongan kepada Rasulullah Saw.
Ia mengibaratkan proses itu seperti seorang ahli emas yang meneliti keaslian logam, membedakan mana yang murni dan mana yang campuran. Dengan cara tersebut, hadis-hadis yang beredar dapat diuji sebelum diamalkan.
Rofiq juga menyoroti pentingnya sanad atau rantai periwayatan dalam menjaga validitas hadis. Ia mengutip pernyataan ulama hadis Abdullah ibn al-Mubarak yang menyebut sanad sebagai bagian dari agama. Tanpa sanad, kata dia, siapa pun dapat mengatasnamakan Nabi dengan mudah.
Menurutnya, sejarah mencatat pemalsuan hadis pernah terjadi dengan berbagai motif, mulai dari kepentingan politik, teologis, hingga kepentingan pribadi. Karena itu, sistem sanad menjadi instrumen utama dalam menyeleksi riwayat.
Ia menilai tradisi keilmuan Islam memiliki keunggulan metodologis melalui penelitian terhadap ribuan perawi hadis. Para ulama menilai integritas, kapasitas hafalan, dan ketelitian para perawi, lalu mendokumentasikannya dalam kitab-kitab rijal yang masih menjadi rujukan hingga kini.
Dalam kesempatan itu, Rofiq juga membandingkan sistem sanad dalam Islam dengan tradisi kitab suci lain, seperti Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Menurutnya, kedua tradisi tersebut tidak memiliki sistem transmisi yang seketat sanad dalam hadis.
Ia menyebut proses penulisan dan penyuntingan teks dalam tradisi tersebut berlangsung panjang tanpa rantai periwayatan yang dapat ditelusuri secara rinci.
“Tidak ada rantai perawi bersambung yang bisa memastikan setiap perkataan itu benar-benar berasal dari nabi yang bersangkutan,” katanya.
Di akhir pengajian, Rofiq menegaskan bahwa sistem sanad merupakan pencapaian metodologis penting dalam sejarah peradaban manusia. Sistem itu lahir dari kesadaran religius umat Islam untuk menjaga kemurnian ajaran Nabi Muhammad Saw sekaligus memastikan bahwa setiap ajaran yang diamalkan memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengajian tersebut menjadi pengingat bahwa memahami hadis tidak cukup hanya pada isi teks, tetapi juga pada proses panjang verifikasi yang menjamin keasliannya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow