Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah: Perkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Wujudkan Perdamaian

Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah: Perkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Wujudkan Perdamaian

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyelenggarakan Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah pada Selasa (19/5) di Convention Hall Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Gamping, Sleman. Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, kegiatan ini menjadi momentum peneguhan kembali peran strategis ‘Aisyiyah dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan damai melalui dakwah kemanusiaan.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayyinah, menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan merupakan inti gerakan ‘Aisyiyah sejak awal berdiri.

“Dakwah kemanusiaan adalah dakwah yang mengedepankan prinsip kasih sayang, toleransi, dan perdamaian. Islam hadir membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh manusia dan alam semesta,” ujar Salmah.

Menurutnya, pendekatan dakwah kemanusiaan memiliki peran penting dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman agama, budaya, dan pandangan hidup. Semangat Rahmatan lil ‘Alamin menjadi landasan untuk menghadirkan kehidupan sosial yang saling menghargai serta mampu mengelola perbedaan secara damai.

“Pendekatan dakwah kemanusiaan berperan mewujudkan masyarakat yang harmonis, di mana perbedaan dapat dihargai dan dikelola dengan baik sehingga perdamaian dapat terwujud,” katanya.

Dalam refleksinya, Salmah menyampaikan bahwa sejak berdiri, ‘Aisyiyah telah menunjukkan kiprah nyata di berbagai bidang kehidupan sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang berfungsi sebagai wadah konsolidasi sosial masyarakat.

Ia merujuk pada keputusan Muktamar ke-48 di Surakarta tentang Risalah Perempuan Berkemajuan yang meneguhkan panggilan dakwah perempuan untuk menghadirkan kebaikan dan kemajuan peradaban.

“Barang siapa mengerjakan kebajikan dalam keadaan beriman, maka Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,” kutipnya.

Menurut Salmah, ayat tersebut menjadi spirit perempuan ‘Aisyiyah untuk terus berkontribusi dalam seluruh aspek kehidupan demi mewujudkan bangsa yang damai dan bermartabat.

Ia juga menyoroti situasi Indonesia dan dunia yang tengah menghadapi berbagai krisis kemanusiaan, konflik, hingga dinamika geopolitik global yang berdampak pada manusia dan lingkungan.

“Gerakan ‘Aisyiyah di seluruh tingkatan dituntut semakin tanggap memahami dan memberi solusi atas persoalan kemanusiaan yang berkembang saat ini,” ujarnya.

Salmah menjelaskan bahwa komitmen dakwah kemanusiaan diwujudkan melalui berbagai amal usaha dan pelayanan sosial.

Sejak 2016, ‘Aisyiyah mengembangkan layanan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan di bidang hukum. Hingga kini, sebanyak 116 Posbakum ‘Aisyiyah telah hadir di berbagai daerah di Indonesia untuk memberikan pendampingan hukum bagi masyarakat, khususnya perempuan, secara gratis.

Selain itu, ‘Aisyiyah juga aktif dalam respons cepat kebencanaan, pemberdayaan perempuan, hingga penanganan kekerasan berbasis gender sebagai bagian dari dakwah Islam berkemajuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dalam pidatonya, Salmah menegaskan bahwa perdamaian merupakan agenda penting pembangunan global, termasuk dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), khususnya tujuan ke-16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.

“Isu perempuan dan perdamaian menempatkan perempuan tidak hanya sebagai korban konflik, tetapi juga sebagai aktor penting dalam membangun perdamaian,” tegasnya.

Salmah juga menyinggung implementasi Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE).

Menurutnya, masih terdapat sejumlah tantangan strategis, mulai dari keterlibatan perempuan dalam pencegahan terorisme yang masih terbatas, rendahnya pelibatan perempuan dalam penyelesaian konflik, tantangan ruang digital yang mempromosikan narasi anti-perdamaian, hingga perlunya penguatan kapasitas perempuan dalam pembangunan perdamaian.

Ia menekankan pentingnya promosi perdamaian berbasis keluarga dan pendidikan.

“Lembaga pendidikan dan institusi keluarga memiliki posisi strategis dalam mempromosikan nilai perdamaian yang harus diperkuat untuk menciptakan perdamaian dalam skala bangsa dan dunia,” ungkapnya.

Pidato Refleksi Milad ke-109 ini menjadi peneguhan komitmen ‘Aisyiyah untuk terus memperkokoh dakwah kemanusiaan melalui gerakan perempuan berkemajuan yang menghadirkan nilai keadilan, kesetaraan, dan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

Melalui kerja kolaboratif lintas komunitas, penguatan amal usaha, serta pemberdayaan perempuan di berbagai lini kehidupan, ‘Aisyiyah terus berikhtiar mewujudkan peradaban dunia yang damai, adil, dan bermartabat.

Milad ‘Aisyiyah tahun ini juga dimeriahkan dengan pengukuhan 116 Pos Bantuan Hukum (Posbakum) ‘Aisyiyah yang digerakkan oleh Majelis Hukum dan HAM ‘Aisyiyah serta soft launching TK ABA Semesta.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow