PWNA DIY Gelar DANA III dan LINA II, Perkuat Perkaderan Ideologis Nasyiatul ‘Aisyiyah

PWNA DIY Gelar DANA III dan LINA II, Perkuat Perkaderan Ideologis Nasyiatul ‘Aisyiyah

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNA DIY) resmi membuka kegiatan Darul Arqam Nasyiatul ‘Aisyiyah (DANA) III dan Latihan Instruktur Nasyiatul ‘Aisyiyah (LINA) II pada Jumat (19/12), bertempat di Gedung Balai Pemerintahan Desa, Kalasan, Sleman.

Agenda perkaderan ini diikuti puluhan kader Nasyiatul 'Aisyiyah dari seluruh penjuru DIY. Turut hadir Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Iwan Setiawan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DIY Alfia Nuriska, Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan 'Aisyiyah Kalasan, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah Kalasan.

Wakil Ketua PWNA DIY, Nur Ika Pujiastuti, menegaskan bahwa perkaderan merupakan jantung organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah. Menurutnya, DANA dan LINA bukan sekadar pelatihan kepemimpinan biasa, melainkan ruang ideologisasi kader yang akan menentukan masa depan organisasi.

“Ini adalah kawah candradimuka. Bukan hanya melatih kepemimpinan teknis, tetapi juga menggodok sisi ideologis kader,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Ia berharap Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat singgah kader, tetapi menjadi ruang bersejarah lahirnya kader-kader unggul Muhammadiyah, 'Aisyiyah, dan Nasyiatul ‘Aisyiyah yang memiliki kualitas di atas rata-rata dan mampu menjadi pilot gerakan di daerah masing-masing.

“Dari proses ini, kami berharap lahir kader yang militan dan siap tampil sebagai motor penggerak organisasi, sehingga beberapa tahun ke depan Nasyiatul ‘Aisyiyah semakin maju,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Iwan Setiawan, mengapresiasi PWNA DIY atas pelaksanaan perkaderan yang merupakan program wajib organisasi otonom Muhammadiyah.

“Ortom adalah lumbung kader Muhammadiyah, baik kader biologis maupun ideologis. Keberadaan Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah sangat penting, terutama di cabang dan ranting, untuk menghidupkan denyut persyarikatan,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa PWM DIY memiliki program prioritas, salah satunya aktivasi 100 persen cabang dan 60 persen ranting bagi Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah. Target tersebut, menurutnya, hanya dapat tercapai jika kedua ortom aktif berkegiatan dan memperkuat eksistensinya di tingkat akar rumput.

“Harapan kami, ketika aktif di cabang dan ranting, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah kelak benar-benar siap menggantikan peran orang tua saat memimpin Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Iwan menekankan bahwa DIY memiliki karakter kuat sebagai pusat perkaderan dan ideologisasi ortom. Karena itu, ia mengingatkan agar perkaderan tidak berhenti pada formalitas semata, tetapi menjadi ruang ‘kulakan ilmu’ dari para narasumber dan instruktur.

“Peserta harus pulang dengan bekal keilmuan dan kemampuan, sehingga kelak bisa menjadi instruktur atau pemateri yang menggerakkan organisasi di cabang dan ranting, meski tantangan di setiap daerah berbeda,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang sebagian besar telah berkeluarga. Menurutnya, komunikasi yang baik dengan keluarga, khususnya pasangan, menjadi kunci agar peran kader di organisasi dapat berjalan seimbang.

“Urusan keluarga beres, insya Allah urusan organisasi juga beres,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Iwan berharap sinergi antara PWM DIY dan PWA DIY terus diperkuat, mengingat Nasyiatul ‘Aisyiyah merupakan bagian penting dari ‘Aisyiyah dan juga Muhammadiyah secara keseluruhan.

“Hasil perkaderan seperti ini sangat strategis untuk mewujudkan aktivasi cabang dan ranting secara menyeluruh. Inilah investasi kader bagi masa depan persyarikatan,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow