Pakar Ekologi: Krisis Lingkungan Mustahil Selesai Jika Ekonomi Tetap Bertumpu pada Kapitalisme

Pakar Ekologi: Krisis Lingkungan Mustahil Selesai Jika Ekonomi Tetap Bertumpu pada Kapitalisme

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Krisis ekologis dinilai mustahil menemukan jalan keluar selama dunia masih terikat pada model ekonomi kapitalistik yang menuntut pertumbuhan tanpa batas. Kritik tajam ini disampaikan oleh Prof. Gerry van Klinken, antropolog terkemuka, yang menilai bahwa percepatan kerusakan lingkungan bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan konsekuensi langsung dari sistem ekonomi global yang dibangun di atas eksploitasi sumber daya alam.

Dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Kamis (20/11) di UMY, Gerry menegaskan bahwa logika pembangunan modern yang memuja ekspansi ekonomi telah menjadi pemicu utama degradasi ekologis. Menurutnya, peringatan para ilmuwan selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar diikuti kebijakan bermakna karena sistem ekonomi global itu sendiri menolak untuk berubah.

“Seluruh sistem produksi dan konsumsi global bergerak jauh melampaui batas kemampuan bumi. Tren peningkatan populasi, produksi industri per kapita, konsumsi energi, dan tingkat polusi terus naik secara eksponensial, sementara daya dukung bumi justru merosot drastis,” ujar Gerry.

Ia menambahkan bahwa Indonesia adalah salah satu wilayah yang telah melewati banyak batas ekologis. Kondisi ini bukan sepenuhnya kesalahan negara berkembang, tetapi akibat struktur ekonomi global yang menempatkan negara-negara Selatan sebagai lokasi produksi, penyedia bahan mentah, sekaligus penampung dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh konsumsi negara-negara maju.

Sebagai editor dan penulis buku tersebut, Gerry mempertanyakan ulang fondasi ekonomi yang selama ini dianggap absolut. Ia menyinggung konsep degrowth sebagai pendekatan alternatif yang tidak berorientasi pada ekspansi tanpa henti, tetapi pada cara hidup yang lebih seimbang, rendah emisi, dan minim eksploitasi.

“Kebahagiaan tidak harus dibangun di atas ekspansi ekonomi. Sebaliknya, manusia bisa hidup baik dengan ritme yang lebih sederhana, lebih rendah emisi, dan lebih menghormati keseimbangan ekologis,” jelasnya.

Dalam konteks Indonesia yang masih sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi, Gerry menekankan bahwa gagasan dalam buku tersebut bukan menawarkan resep tunggal, melainkan mengajak publik untuk bersikap kritis dan tidak larut dalam pola pembangunan yang merusak. Ia mengajak masyarakat menjadi bagian dari penyelesaian, bukan sekadar pengamat.

“Kesadaran diri, memperluas empati ekologis, hingga membangun ruang deliberasi publik adalah langkah awal untuk keluar dari jebakan pembangunan yang menempatkan alam sebagai korban,” pungkasnya. (ID)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow