Mahasiswa UNY dan Relawan MPKS PWM DIY Tanamkan Kesadaran Inklusi di PAY Muhammadiyah

Mahasiswa UNY dan Relawan MPKS PWM DIY Tanamkan Kesadaran Inklusi di PAY Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berkolaborasi dengan relawan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (MPKS PWM DIY) untuk menanamkan kesadaran inklusi dan kepedulian terhadap penyandang disabilitas kepada anak asuh Panti Asuhan Yatim (PAY) Putra Muhammadiyah Yogyakarta.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat dalam skema Pembelajaran Luar Kampus (PLK) yang digelar pada Ahad (10/5) di lingkungan PAY Putra Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari tiga program studi berbeda, yakni Administrasi Publik, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan Luar Biasa.

Mengusung tema “Langkah Nyata Mewujudkan Lingkungan Ramah Disabilitas di Sekitar Kita”, kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam sesi tersebut, mahasiswa UNY mengenalkan pentingnya SDGs poin 1 tentang pengentasan kemiskinan serta SDGs poin 4 mengenai pendidikan berkualitas sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Melalui pemaparan itu, peserta diajak memahami bahwa akses pendidikan yang setara memiliki peran penting dalam membuka peluang masa depan sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Antusiasme peserta terlihat saat membahas bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana menciptakan kehidupan sosial yang lebih terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Sebagai lanjutan dari pengenalan nilai-nilai SDGs, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi disability awareness atau kesadaran disabilitas yang menghadirkan Kemal Pasha sebagai narasumber. Ia merupakan pegiat inklusivitas sekaligus relawan program pembelajaran Al-Qur’an bagi santri disabilitas netra dan rungu di TPQ Inklusi Ibnu Ummi Maktum binaan MPKS PWM DIY.

Dalam pemaparannya, Kemal menyoroti masih kuatnya stigma dan cara pandang yang kurang tepat terhadap penyandang disabilitas di tengah masyarakat. Menurutnya, rasa iba yang berlebihan, pengistimewaan yang tidak proporsional, hingga penggunaan istilah tertentu masih kerap muncul dalam interaksi sehari-hari.

“Penyandang disabilitas seharusnya dipandang secara setara sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya. Kemampuan yang dimiliki bukan karena kondisi disabilitasnya, melainkan memang berasal dari kapasitas pribadi yang dimiliki,” ujarnya.

Ia juga mengajak peserta mulai menggunakan istilah yang lebih inklusif, seperti “penyandang disabilitas netra” atau “penyandang disabilitas rungu”, dibandingkan istilah lama yang dinilai kurang tepat dari sisi makna maupun perspektif.

Tidak hanya berupa penyampaian materi, sesi sosialisasi juga dikemas secara interaktif melalui praktik berinteraksi dengan penyandang disabilitas dan pengenalan huruf braille. Dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi fasilitator, peserta tampak antusias mencoba mengenali pola huruf braille untuk pertama kalinya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa UNY menghadirkan edukasi sosial yang tidak hanya menekankan pentingnya pendidikan dan kesejahteraan sebagaimana nilai SDGs, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya lingkungan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Melalui kolaborasi bersama relawan MPKS PWM DIY tersebut, para peserta diharapkan memiliki perspektif yang lebih terbuka terhadap isu disabilitas sekaligus memahami cara bersikap yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow