Ketua LPO PP Muhammadiyah: Olahraga Investasi Dakwah dan Pilar Penguat Persyarikatan
YOGYAKARTA — Ketua Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H., menegaskan bahwa olahraga harus ditempatkan sebagai instrumen dakwah strategis Muhammadiyah. Hal itu disampaikan dalam keynote speech-nya di Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LPO Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Sabtu (14/2).
Menurut Gatot, dakwah selalu menyesuaikan konteks zamannya. Jika para wali dahulu menggunakan seni sebagai medium dakwah, maka hari ini olahraga bisa menjadi pilar baru untuk memperkokoh bangunan Muhammadiyah di tengah tantangan masyarakat modern.
“Kalau kesehatan adalah harta utama, maka olahraga adalah investasinya,” tegasnya.
Dalam paparannya, Gatot mengingatkan kembali peran besar tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam sejarah olahraga nasional. Seperti Djamiaat Dhalhar, pemain sepak bola asal Kauman, Yogyakarta yang pernah memperkuat Timnas Indonesia pada era awal dan tampil dalam Olimpiade Melbourne tahun 1956.
Djamiaat merupakan pemain binaan PSHW (Persatuan Sepakbola Hizbul Wathan) Yogyakarta. Lapangan Asri di Jalan Cokroaminoto, yang kini menjadi lokasi Asri Medical Center milik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pernah menjadi saksi latihan intensif para pemain PSHW.
Selain itu, ia juga menyebut nama Abdul Hamid, tokoh Muhammadiyah yang menjadi bendahara pertama sekaligus salah satu pendiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Deretan tokoh tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah sejak lama telah berdakwah melalui jalur olahraga.
“Ini bukti bahwa olahraga bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Kita punya jejak sejarah yang kuat,” ujarnya.
Gatot menjelaskan, pengembangan olahraga Muhammadiyah selaras dengan amanat Undang-Undang Keolahragaan Nasional yang membagi olahraga dalam tiga ranah: pendidikan, prestasi, dan masyarakat.
Pertama, olahraga pendidikan. Muhammadiyah saat ini memiliki 164 perguruan tinggi, dengan 28 program studi olahraga yang terus berkembang. Tahun 2025, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membuka Prodi Kepelatihan Olahraga, sementara Universitas Ahmad Dahlan tengah memproses pembukaan Prodi Pendidikan Jasmani.
Selain itu, LPO PP Muhammadiyah telah menyiapkan panduan pembukaan sekolah khusus olahraga, kelas khusus olahraga, dan layanan bakat istimewa bagi atlet berprestasi.
Menurut Gatot, olahraga di sekolah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Sikap sportivitas, disiplin, dan respek terhadap lawan lahir dari pembinaan yang tepat oleh pelatih dan guru olahraga.
Kedua, olahraga prestasi. Ia menegaskan bahwa kompetisi adalah kunci lahirnya prestasi. Pada Mei mendatang, PP Muhammadiyah akan menggelar Muhammadiyah Cup 2026 dengan enam cabang olahraga, antara lain voli, tenis meja, atletik, bulutangkis, Tapak Suci, dan panahan.
Meski membutuhkan anggaran besar, kompetisi harus terus digelar secara rutin agar melahirkan atlet yang mampu bersaing di level regional maupun nasional. Ia mencontohkan skema beasiswa atlet di perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu mengangkat prestasi tim hingga juara Liga Mahasiswa.
“Kalau ada atlet luar biasa, fasilitasi. Koordinasikan dengan amal usaha yang punya peluang memberikan beasiswa. Jangan ragu mendukung yang memang potensial,” pesannya.
Ketiga, olahraga masyarakat. Selain pendidikan dan prestasi, Muhammadiyah juga didorong mengembangkan olahraga masyarakat. Mulai dari senam kebugaran, gerakan literasi fisik, hingga permainan tradisional seperti gobak sodor dan bentengan.
Gatot menyoroti fenomena rendahnya aktivitas fisik akibat ketergantungan pada gawai (gadget). Rata-rata langkah harian masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, sehingga gerakan literasi fisik perlu digencarkan.
“Bangun kebiasaan bergerak sejak dari rumah. Ke masjid untuk salat Subuh berjamaah saja itu sudah investasi langkah yang luar biasa,” ujarnya.
Menurut Gatot, pembentukan gugus tugas olahraga di berbagai wilayah dapat menjadi “sayap dakwah” baru Muhammadiyah. Jika dikelola serius dan terorganisir, olahraga tidak hanya menyehatkan warga persyarikatan, tetapi juga memperluas jejaring kaderisasi.
“Ketika orang mengenal Muhammadiyah bukan hanya dari sekolah dan rumah sakit, tetapi juga dari atlet-atlet berprestasi, maka di situlah olahraga menjadi pilar dakwah,” tandasnya.
Ia berharap LPO di seluruh wilayah, termasuk DIY, mampu menjadi pusat keunggulan (center of excellence) olahraga Muhammadiyah yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi umat serta bangsa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow