Muhammadiyah Jadikan Isu Lingkungan sebagai Jembatan Perdamaian Lintas Iman

Muhammadiyah Jadikan Isu Lingkungan sebagai Jembatan Perdamaian Lintas Iman

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Muhammadiyah terus mengembangkan pendekatan baru dalam membangun perdamaian di tengah keberagaman melalui aksi nyata pelestarian lingkungan. Lewat program Eco Bhinneka Muhammadiyah, isu-isu seperti pengelolaan sampah, konservasi, hingga transisi energi dijadikan ruang kolaborasi bagi masyarakat lintas agama untuk saling mengenal, membangun kepercayaan, dan memperkuat kehidupan yang inklusif.

Praktik tersebut dipaparkan dalam dialog bertajuk Building Peace through Interfaith Collaboration yang digelar di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (8/7). Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman kepada Delegasi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda mengenai praktik baik kolaborasi lintas iman yang dikembangkan Muhammadiyah.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menjelaskan bahwa dialog hanyalah langkah awal dalam membangun hubungan antarkelompok. Menurutnya, perdamaian akan lebih bermakna ketika diwujudkan melalui kerja bersama dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia menuturkan, lingkungan dipilih sebagai titik temu karena merupakan kebutuhan bersama yang melampaui perbedaan agama maupun keyakinan.

"Lingkungan menjadi titik temu karena semua orang memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga bumi. Melalui pengelolaan sampah, konservasi, pemberdayaan perempuan, hingga transisi energi, masyarakat dapat bekerja bersama dalam aksi nyata," ujar Hening.

Selama enam tahun terakhir, Eco Bhinneka Muhammadiyah telah mengembangkan berbagai program di sejumlah daerah. Salah satunya melalui pendampingan SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari, Papua Barat, yang melibatkan para siswa dari berbagai latar belakang agama dalam kegiatan pelestarian lingkungan.

Selain itu, program ini juga mengembangkan pendekatan ekofeminisme, mempertemukan tokoh agama dan generasi muda lintas iman, serta menggagas Gerakan 1000 Cahaya untuk mendorong efisiensi dan transisi energi di masjid, sekolah, pesantren, serta berbagai lingkungan Muhammadiyah.

Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar dan Utusan Khusus Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan Kerajaan Belanda, Paul Bekkers, menilai pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah menunjukkan bahwa dialog lintas iman akan lebih efektif ketika diwujudkan melalui aksi bersama yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam mempertemukan masyarakat dari berbagai agama melalui kerja sama konkret menjadi pembelajaran yang berharga bagi dunia.

"Indonesia memiliki pengalaman yang sangat berharga. Ketika orang-orang dari berbagai agama bekerja bersama, mereka tidak hanya saling mengenal, tetapi juga membangun kepercayaan," kata Paul.

Pengalaman serupa juga dirasakan Kristina Damayanti, anggota komunitas Sederek Eco Bhinneka dari Surakarta yang berasal dari Gereja Kristen Indonesia (GKI). Ia mengaku keterlibatannya dalam Eco Bhinneka membuka ruang persahabatan dengan anak muda dari berbagai keyakinan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

"Di Eco Bhinneka saya belajar bahwa merawat lingkungan bisa menjadi cara untuk saling mengenal dan bekerja sama meski berbeda agama," tuturnya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Ghifari Misbahudin dari komunitas anak muda lintas iman. Menurutnya, perubahan iklim merupakan persoalan yang dirasakan semua orang tanpa memandang agama, sehingga dapat menjadi ruang bersama untuk membangun kepercayaan dan memperkuat solidaritas.

Sementara itu, Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU), Fajri Hidayatullah, menekankan bahwa upaya memperkuat kebebasan beragama atau berkeyakinan juga harus memastikan kelompok difabel memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun keagamaan.

Melalui kolaborasi bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah, HIDIMU mendorong terwujudnya rumah ibadah yang ramah difabel sekaligus memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas dalam berbagai aktivitas masyarakat.

Melalui pendekatan berbasis aksi lingkungan tersebut, Muhammadiyah menunjukkan bahwa merawat bumi tidak hanya menjadi bagian dari tanggung jawab ekologis, tetapi juga menjadi jembatan untuk memperkuat perdamaian, membangun kepercayaan, dan merawat keberagaman di tengah masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow