Ikhwan Ahada: Cabang, Ranting, dan Masjid Harus Jadi Jantung Gerakan Muhammadiyah

Ikhwan Ahada: Cabang, Ranting, dan Masjid Harus Jadi Jantung Gerakan Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A. menegaskan bahwa cabang, ranting, dan masjid merupakan jantung utama gerakan Muhammadiyah yang menentukan keberlanjutan persyarikatan. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM DIY di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Jalan Sultan Agung no. 14, Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Dalam amanat dan arahannya, Ikhwan menekankan bahwa Muhammadiyah memiliki karakter khas sebagai perkumpulan, persyarikatan, sekaligus gerakan yang tidak pernah berhenti bergerak. Karakter tersebut, menurutnya, harus terus hidup hingga ke tingkat cabang, ranting, dan masjid sebagai ruang paling nyata pengabdian kepada umat.

“Muhammadiyah itu tidak pernah berhenti. Bahkan Buya Syafii pernah berpesan, jika besok kiamat, hari ini Muhammadiyah masih rapat, masih membangun sekolah, dan terus berdakwah,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa Rakorwil LPCRPM bukan sekadar forum koordinasi rutin, melainkan ruang strategis untuk menerjemahkan agenda besar hasil Muktamar ke dalam kerja-kerja konkret. Dalam konteks tersebut, LPCRPM memegang peran kunci karena bersentuhan langsung dengan jamaah dan umat di tingkat akar rumput.

Pada kesempatan itu, Ikhwan Ahada juga memaparkan hasil survei kepuasan layanan yang dilakukan PWM DIY terhadap 400 responden dari berbagai unsur, mulai dari organisasi otonom, mitra kerja, hingga pemerintah daerah. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi, dengan 97 persen responden menyatakan puas dan sangat puas.

Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat persyarikatan berpuas diri. Sejumlah catatan evaluatif, khususnya terkait kejelasan sistem layanan dan kesiapan fasilitas, dinilai perlu segera ditindaklanjuti sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi.

“Setiap tamu yang datang harus dipersepsikan sebagai tamu Allah. Karena itu, pelayanan harus dibuat sebaik dan semudah mungkin,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa PWM DIY telah merumuskan delapan program prioritas, di mana LPCRPM mendapat mandat khusus dalam pendampingan cabang, ranting, serta pengembangan masjid unggul. Penguatan ini dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya interaksi Muhammadiyah dengan berbagai pihak, termasuk tamu dari luar negeri, yang banyak beraktivitas di tingkat cabang, ranting, dan masjid.

LPCRPM didorong untuk terus melakukan koordinasi dan konsolidasi agar cabang, ranting, dan masjid memiliki kapasitas manajerial yang baik, mandiri dalam mengelola amal usaha, serta mampu memberikan pelayanan umat secara optimal.

Selain penguatan kelembagaan, Ia juga menekankan pentingnya sikap adaptif Muhammadiyah terhadap perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi dinamika ruang digital dan muamalah duniawiyah. Menurutnya, Muhammadiyah perlu terus memperkaya sudut pandang agar tetap relevan dan berkemajuan.

“Muhammadiyah perlu naik kelas dalam segala aspek,” ujarnya.

Dalam konteks internasionalisasi, LPCRPM PWM DIY bersama LPCRPM PDM se-DIY diminta memanfaatkan dua tahun ke depan untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi. Salah satunya melalui pelibatan mahasiswa asing di perguruan tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta dalam berbagai aktivitas persyarikatan di tingkat cabang, ranting, dan masjid.

“Tanamkan bahwa Muhammadiyah hadir untuk melayani manusia dari lahir sampai wafat. Tidak hanya di bidang pendidikan dan kemasjidan, tetapi di seluruh lini kehidupan,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow