Haedar Nashir Beberkan Empat Pilar Kepemimpinan Muhammadiyah di UMSU
MEDAN — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya kepemimpinan yang kuat, penguatan nilai organisasi, serta momentum Muktamar sebagai penggerak kemajuan persyarikatan. Pesan itu disampaikan saat Pelantikan Rektor dan Pengukuhan Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) masa jabatan 2026–2030, Selasa (28/4).
Dalam amanatnya, Haedar menyebut Muktamar Muhammadiyah mendatang tidak seharusnya dipandang sekadar agenda seremonial. Menurutnya, forum tertinggi organisasi itu harus menjadi sarana membangkitkan daya gerak internal atau inner dynamic bagi kader dan anggota Muhammadiyah.
Ia menilai setiap individu memiliki potensi, namun keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan mengenali dan menggerakkan potensi tersebut.
“Pada dasarnya setiap orang itu punya potensi. Tapi ada orang yang bisa memobilisasi dan sadar akan potensi itu. Bahwa dari potensinya yang setengah saja, itu bisa menjadi 100 persen,” ujar Haedar.
Sebaliknya, kata dia, ada pula orang yang memiliki potensi besar tetapi tidak mampu mengembangkannya, sehingga kapasitas yang dimiliki tidak berkembang maksimal.
Haedar juga menyinggung karakter Muhammadiyah Sumatra Utara yang dikenal memiliki militansi tinggi. Potensi itu, menurutnya, perlu terus digerakkan hingga ke akar rumput untuk memajukan persyarikatan di berbagai bidang kehidupan.
Ia menambahkan, kehidupan selalu diwarnai persaingan, namun Islam mengajarkan agar persaingan dilakukan dalam kebaikan atau fastabiqul khairat.
“Persaingan itu sunatullah, maka Allah mengajarkan kita untuk berfastabiqul khairat atau berlomba-lomba menjadi manusia yang terbaik,” katanya.
Menjelang akhir pidatonya, Haedar menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah institusi sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang berlandaskan empat pilar utama Muhammadiyah:
- Nilai atau values, yakni Islam yang dipahami dan diamalkan untuk membangun peradaban, yang dikenal sebagai Islam Berkemajuan.
- Sistem organisasi yang tertata baik (well-organized), sehingga Muhammadiyah tetap berjalan stabil siapa pun pemimpinnya.
- Ekosistem organisasi berupa relasi dan kepercayaan publik yang harus dijaga secara bertanggung jawab.
- Kepemimpinan sebagai pengarah utama gerak organisasi.
“Pemimpin memiliki fungsi utama untuk menunjukkan arah, terutama ketika anggota menghadapi kebingungan. Karena itu, pemimpin dituntut memiliki keunggulan dalam ilmu, hikmah, dan pengalaman,” jelasnya.
Selain pilar organisasi, Haedar juga menyampaikan empat karakter utama pemimpin Muhammadiyah.
Pertama, kepemimpinan yang dilandasi keikhlasan dan hikmah. Kedua, kepemimpinan kerja, yakni pemimpin yang terus berkarya dan tidak sekadar simbolik. Ketiga, kepemimpinan yang dinamis dan progresif, yang mendorong perubahan dan kemajuan, terutama dalam pengelolaan amal usaha Muhammadiyah.
Keempat, kepemimpinan profetik, yaitu pemimpin yang mampu memadukan urusan dunia dan akhirat serta menghadirkan nilai agama sebagai pencerah kehidupan.
“Dengan semangat kepemimpinan seperti itu kita akan tetap menjalankan fungsi dakwah dan tajdid kita untuk kemaslahatan dan rahmat bagi semesta alam,” pungkas Haedar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow