Diaspora Kader Muhammadiyah: Strategi dan Tantangannya Hari Ini
YOGYA – Diaspora kader Muhammadiyah menjadi salah satu pembahasan penting dalam diskursus persyarikatan, termasuk dalam pengajian Ramadan 1446 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY. Acara yang diselenggarakan di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Sabtu (8/3) ini menghadirkan Diyah Puspitarini, kader diaspora Muhammadiyah yang menjadi komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Membuka materi, Diyah menceritakan perjalanannya dari belajar di TK Muhammadiyah hingga kini menjadi komisioner KPAI. Ia menuturkan bahwa menjadi komisioner adalah sebuah kebetulan, dan justru pekerjaanya kebanyakan masih dalam lingkup Muhammadiyah.
Diyah kemudian menjelaskan bahwa kaderisasi melalui ideopolitor menjadi salah satu strategi penting dalam menyiapkan kader yang tidak hanya aktif dalam persyarikatan, tetapi juga mampu berkiprah di luar lingkungan Muhammadiyah.
"Dulu saat menjadi ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah (PW IRM) DIY tahun 2005, kami dibina dalam Ideopolitor, yang menjadi wawasan pertama saya tentang bagaimana kader Muhammadiyah berdiaspora di berbagai lembaga," ujarnya.
Diaspora kader Muhammadiyah, menurut Diyah, bukanlah hal baru. Sejak awal berdirinya, KH. Ahmad Dahlan telah mendorong kader-kadernya untuk berkiprah di berbagai lembaga lain. Setelah mendirikan Muhammadiyah, Kiai Dahlan langsung membidik Budi Oetomo, sebuah organisasi modern pada masanya. Murid-muridnya pun disebar ke berbagai institusi guna menyebarluaskan pemikiran Muhammadiyah.
"Diaspora kader Muhammadiyah bertujuan untuk memperluas pemikiran Islam Berkemajuan di berbagai bidang, serta memberi kontribusi sesuai dengan bidang keahliannya," jelas Diyah.
Saat ini, kebutuhan kader Muhammadiyah untuk berdiaspora di berbagai sektor strategis sangat tinggi. Sektor-sektor tersebut di antaranya:
- Legislatif – Menjadi bagian dari pembuat kebijakan.
- Eksekutif – Baik dalam struktur pemerintahan maupun lembaga non-struktural.
- Yudikatif – Berkiprah dalam sistem peradilan.
- Keamanan dan Pertahanan – TNI dan Kepolisian.
- Jaringan Global – Memperkuat peran Muhammadiyah di kancah internasional.
Diyah kemudian menyoroti bahwa saat ini tengah terjadi "perang klaim" terhadap figur-figur yang sukses di tingkat nasional maupun global. Banyak individu yang sejatinya memiliki latar belakang Muhammadiyah, tetapi diakui oleh pihak lain karena Muhammadiyah sendiri kurang aktif dalam mengklaim kader-kadernya.
"Kalau kita tidak mengklaim, nantinya ya akan diklaim oleh orang lain," ujarnya menekankan.
Namun, Diyah juga menyoroti tantangan diaspora kader Muhammadiyah, terutama dalam persepsi internal. Di Muhammadiyah, ada anggapan bahwa menerima jabatan di luar persyarikatan bisa dianggap sebagai ambisi pribadi.
"Kadang ada cibiran 'gila jabatan' atau semacamnya. Padahal, kader yang bersedia dan memiliki kapasitas itu juga berat. Perlu kesiapan baik kompetensi maupun mental," jelasnya.
Salah satu isu penting yang disoroti dalam diskusi ini adalah minimnya keterwakilan perempuan dalam diaspora kader Muhammadiyah. Padahal, menurut Diyah, peluang dan kesempatan sangat terbuka lebar, dan kader-kader perempuan Aisyiyah memiliki kapasitas yang mumpuni untuk mengisi berbagai posisi strategis di berbagai bidang.
"Saya yakin kader Aisyiyah sangat mampu untuk mengisi berbagai posisi di ruang diaspora, tetapi hambatan budaya masih menjadi kendala besar. Stigma terhadap perempuan yang berkarier di ranah publik masih cukup kuat," katanya.
Selain faktor budaya, akses informasi yang terbatas juga menjadi penghambat bagi kader perempuan untuk terlibat lebih luas dalam diaspora Muhammadiyah. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolektif untuk membuka lebih banyak ruang bagi kader perempuan, sehingga mereka bisa berkontribusi secara maksimal dalam berbagai sektor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow