Cabai Jogja Dipanen, Dibawa ke Luar Daerah, Lalu Kembali Lagi: Dinas Pertanian Soroti Rantai Pasok yang Tidak Efisien
YOGYA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI Yogyakarta menyoroti ironi sekaligus kompleksitas rantai pasokan komoditas pangan di DIY, yang mengalami pola distribusi tidak efisien hingga menyebabkan produk lokal harus “berputar” ke luar daerah sebelum kembali lagi ke konsumen Yogyakarta.
Isu tersebut mengemuka dalam Pertemuan Kelompok Ahli (PKA) yang diselenggarakan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Kamis (11/12) di Ruang Simulasi Sidang HI UMY. Forum tersebut mengangkat tema “Mencari Terobosan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional: Strategi Kemitraan Komprehensif dan Kolaborasi Praktis.”
Dalam paparannya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., mengungkapkan kekhawatiran terhadap rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien. Ia mencontohkan komoditas cabai, sebagai salah satu komoditas unggulan DIY, yang justru mengalami pola distribusi memutar.
“Komoditas cabai kami ini sering mengalami putaran. Cabai yang bagus diambil dari Jogja, dibawa ke luar daerah, lalu balik lagi ke sini. Ini benar-benar terjadi di Jogja,” jelas Aris.
Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk “putus dan sambung” rantai pasok, yang tidak hanya memperpanjang jalur distribusi tetapi juga berpotensi menaikkan harga di tingkat konsumen. Situasi serupa juga diperkirakan terjadi pada sejumlah komoditas lain seperti perikanan dan beberapa produk hortikultura.
_Anomali Swasembada: Surplus di Empat Komoditas, Defisit di Banyak Lainnya_
Aris menjelaskan bahwa permasalahan distribusi ini berlangsung di tengah kondisi unik ketahanan pangan DIY. Yogyakarta hanya mampu swasembada pada empat komoditas, yakni jagung, cabai besar, cabai rawit, dan telur ayam ras.
“Untuk empat komoditas ini, produksinya lebih dari 100%. Bahkan cabai besar ada yang mencapai 500%,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya nilai ekonomi cabai, yang pada musim tertentu bisa mencapai Rp90.000 per kilogram, mendorong masyarakat untuk menanamnya meskipun memiliki risiko gagal panen yang tinggi. Namun, pada komoditas strategis lain seperti beras dan padi, DIY masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah karena produksi lokal tidak mencukupi kebutuhan.
Terkait permasalahan distribusi yang panjang, Aris menekankan perlunya penguatan fasilitas Sentra Logistik untuk memutus rantai pasok yang tidak efisien tersebut. Ia menyebut bahwa kolaborasi lintas sektor, yakni pemerintah, swasta, pelaku usaha, hingga komunitas tani, harus diperkuat agar surplus di satu wilayah dapat memenuhi kekurangan di wilayah lain secara efektif.
Aris juga menyinggung potensi optimalisasi kearifan lokal Lumbung Mataraman, dengan falsafah “_nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur_” (tanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam). Filosofi ini dianggap penting sebagai dasar ketahanan pangan lokal, meskipun implementasinya saat ini masih belum berjalan merata di seluruh wilayah DIY. (FU)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow