Wamendikdasmen Ingatkan Sekolah Muhammadiyah soal Budaya Mutu Berkelanjutan
DEPOK — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mendorong sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk tidak menjadikan akreditasi sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pijakan membangun budaya mutu pendidikan yang berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan Fajar saat menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonfornal (PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Jumat (8/5).
Di hadapan sekitar 120 kepala sekolah Muhammadiyah dari berbagai jenjang pendidikan di DKI Jakarta, Fajar menegaskan bahwa sekolah unggul tidak hanya diukur dari nilai akreditasi atau fasilitas fisik, tetapi juga kualitas pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah, kapasitas guru, layanan pendidikan, dan tingkat kepercayaan masyarakat.
“Sekolah unggul harus kuat dalam pembelajaran, numerasi, budaya mutu, dan layanan kepada peserta didik,” ujarnya.
Menurut Fajar, sekolah Muhammadiyah di Jakarta memiliki peluang besar untuk berkembang karena berada dalam ekosistem pendidikan ibu kota yang relatif maju. Namun, kondisi itu juga menghadirkan tantangan persaingan yang semakin ketat.
“Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir, tetapi harus punya nilai tambah, pembeda, dan keunggulan,” katanya.
Dalam pemaparannya, Fajar juga menyinggung data pendidikan DKI Jakarta. Ia menyebut capaian Standar Pelayanan Minimum Pendidikan di DKI berada pada kategori Tuntas Madya selama periode 2023–2025. Nilainya meningkat dari 80,55 pada 2023 menjadi 84,47 pada 2024, tetapi turun menjadi 82,31 pada 2025.
Selain itu, tingkat kepesertaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di DKI Jakarta tercatat tinggi, yakni 98 persen pada jenjang SD/sederajat, 98,26 persen di SMP/sederajat, dan 98,88 persen di SMA/SMK/sederajat. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris juga berada di atas rata-rata nasional.
Meski demikian, Fajar mengingatkan adanya penurunan capaian numerasi yang perlu menjadi perhatian. Pada jenjang SD/sederajat, numerasi turun dari 81,77 persen pada 2024 menjadi 73,89 persen pada 2025. Sementara pada jenjang SMA/SMK/sederajat, capaian numerasi turun dari 82,73 persen menjadi 76,59 persen.
“Data ini menjadi pengingat bahwa sekolah unggul bukan hanya soal akreditasi atau gedung yang baik,” ujarnya.
Fajar menekankan bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan konsistensi, strategi, dan keberanian melakukan terobosan. Ia juga mengingatkan agar sekolah tidak terjebak pada urusan administratif semata.
Menurutnya, kepala sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya mutu di lingkungan pendidikan. Kepala sekolah dituntut mampu menggerakkan guru, memahami kebutuhan sekolah, dan membawa lembaga pendidikan berkembang sesuai tantangan zaman.
Selain sekolah, Fajar menilai peran keluarga juga penting dalam keberhasilan pendidikan. Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua perlu diperkuat.
Sementara itu, Ketua PWM DKI Jakarta, Akhmad Abu Bakar, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Fajar dalam Rakorwil tersebut. Ia berharap forum itu dapat menghasilkan keputusan strategis untuk memperkuat mutu pendidikan Muhammadiyah di Jakarta.
Menutup arahannya, Fajar meminta Rakorwil dijadikan momentum memperkuat budaya mutu di sekolah Muhammadiyah.
“Sekolah Muhammadiyah hari esok ditentukan oleh keberanian kita mengambil keputusan hari ini,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow