Wamendikdasmen: Api Pencerahan Muhammadiyah Jawa Barat Harus Terus Menyala Lewat Pendidikan Bermutu

Wamendikdasmen: Api Pencerahan Muhammadiyah Jawa Barat Harus Terus Menyala Lewat Pendidikan Bermutu

Smallest Font
Largest Font

CIMAHI — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa api pencerahan Muhammadiyah di Jawa Barat harus terus dijaga melalui peningkatan mutu pendidikan, inovasi layanan, serta penguatan ekosistem amal usaha Muhammadiyah.

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Majelis Dikdasmen dan PNF, MPKSDI, serta LP2M PWM Jawa Barat di BBPPMPV BMTI Cimahi, Sabtu (27/6).

Dalam arahannya, Fajar mengingatkan bahwa Muhammadiyah Jawa Barat memiliki peran penting dalam sejarah gerakan Persyarikatan. Ia menyinggung jejak Muhammadiyah di Sukabumi yang sejak awal terhubung dengan tokoh-tokoh besar seperti Haji Rasul, ayah Buya Hamka, dan A.R. Sutan Mansur, hingga perkembangan gerakan di Jasinga dan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah Jawa Barat bukan sekadar menjadi penonton dalam perjalanan Persyarikatan. Jawa Barat juga pernah menjadi tuan rumah Muktamar ke-36 Muhammadiyah di Bandung pada 1965 yang dihadiri Presiden Soekarno.

"Dari refleksi sejarah ini, kita perlu meyakini bahwa Muhammadiyah Jawa Barat sejak awal menjadi bagian dari gerakan pencerahan bangsa. Karena itu, api pencerahan Muhammadiyah Jawa Barat harus terus menyala melalui mutu pendidikan," ujar Fajar.

Ia menilai perkembangan Muhammadiyah di Jawa Barat dalam satu dekade terakhir semakin menggembirakan. Namun, capaian tersebut perlu terus diperkuat dengan meningkatkan kualitas amal usaha, khususnya di bidang pendidikan.

Fajar menekankan pentingnya mengubah orientasi dari memperbanyak jumlah amal usaha menjadi meningkatkan kualitasnya, sebagaimana terus ditekankan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.

"Pak Haedar Nashir juga Pak Abdul Mu'ti selalu mengingatkan bahwa kompetisi pendidikan hari ini semakin ditentukan oleh mutu, inovasi, layanan yang baik, dan kepercayaan masyarakat. Kompetisi pendidikan saat ini adalah kompetisi yang berorientasi pada layanan dan kualitas," tegasnya.

Fajar mengapresiasi capaian sekolah Muhammadiyah di Jawa Barat, khususnya jenjang SMP yang lebih dari 80 persen telah meraih akreditasi A. Meski demikian, ia mengingatkan masih ada pekerjaan rumah pada jenjang SD dan SMA yang perlu terus ditingkatkan.

Ia mendorong terbangunnya budaya mutu mulai dari PAUD hingga SMA/SMK/MA. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya mengejar akreditasi, tetapi juga harus memastikan proses pembelajaran berjalan hidup, guru terus berkembang, kepala sekolah mampu memimpin perubahan, serta layanan pendidikan semakin dipercaya masyarakat.

"Kalau hari ini sekolah unggul di Jawa Barat baru sekitar 12 persen, kita perlu dorong agar meningkat minimal menjadi 30 persen. Ini pekerjaan besar yang membutuhkan ketekunan semua pihak," katanya.

Fajar juga mengusulkan strategi menghadirkan minimal satu sekolah Muhammadiyah unggulan di setiap jenjang pada masing-masing kabupaten dan kota di Jawa Barat. Ia mengingatkan agar pendirian maupun pengembangan sekolah dilakukan melalui perencanaan yang matang.

"Jangan hanya bermodal bismillah lalu membuka sekolah. Sekolah Muhammadiyah harus dibangun dengan perencanaan, mutu, inovasi, dan keberlanjutan," ujarnya.

Selain itu, ia meminta sekolah Muhammadiyah mampu membaca perubahan zaman, mulai dari meningkatnya ekspektasi orang tua, hadirnya generasi digital, hingga semakin ketatnya persaingan layanan pendidikan. Karena itu, sekolah Muhammadiyah perlu membangun ekosistem pembelajaran yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Ke depan, kecakapan sosial, emosional, dan spiritual akan semakin penting. Sekolah Muhammadiyah punya modalitas kuat untuk membangun ekosistem pembelajaran yang sehat, terutama di era kecerdasan buatan," jelasnya.

Fajar menegaskan bahwa sekolah swasta yang dikelola masyarakat, termasuk Muhammadiyah, merupakan mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan nasional.

"Pendidikan nasional tidak bisa dikerjakan pemerintah sendiri. Muhammadiyah adalah salah satu komponen bangsa yang sangat penting dalam kerja-kerja mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945," katanya.

Sementara itu, Ketua PWM Jawa Barat, KH Ahmad Dahlan, menyampaikan bahwa pendidikan merupakan gerakan utama Muhammadiyah sejak awal berdiri. Menurutnya, Muhammadiyah hadir sebagai agen pencerahan bangsa yang menguatkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan.

L

"Kami mengundang Pak Wamendikdasmen Fajar karena sejak awal Muhammadiyah memang dikenal bergerak di bidang pendidikan. Muhammadiyah adalah agen pencerahan bangsa. Maka kolaborasi untuk mewujudkan pendidikan yang unggul harus terus kita kuatkan," ujarnya.

Menutup arahannya, Fajar berharap Rakorwil menjadi momentum untuk memperkuat harmoni ekosistem pendidikan Muhammadiyah di Jawa Barat, memperluas kolaborasi, serta mengonsolidasikan langkah menuju amal usaha pendidikan yang unggul, inovatif, dan berdaya saing.

"Orang menghormati Muhammadiyah karena mutu dan layanannya. Maka pelayanan seluas-luasnya tanpa pandang bulu harus terus menjadi ciri khas Muhammadiyah. Dari situlah peran strategis Muhammadiyah akan terus dihormati," pungkas Fajar.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin, para kepala UPT Kemendikdasmen di Jawa Barat, Kepala BBPMP Jawa Barat Komalasari, Kepala BBGTK Jawa Barat Sugito, serta Kepala BBPPMPV BMTI Baharudin.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow