Wamen P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla: Ilmu Harus Diamalkan, Bukan Sekadar Diketahui

Wamen P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla: Ilmu Harus Diamalkan, Bukan Sekadar Diketahui

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Dalam menjalani hidup, manusia bukan sekadar perjalanan untuk keluar dari kesengsaraan. Tetapi juga agar kehidupan jadi jauh lebih baik dan kunci agar mencapai itu adalah ilmu. Hal ini disampaikan oleh Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom., Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia pada Kajian Menjelang Berbuka di Masjid K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (6/3).

Dalam tausiyah-nya, Dzulfikar mengutip Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata, “Belajarlah kalian tentang ilmu”. Dengan ilmu, seseorang menjadi tahu. Tetapi, kata Dzulfikar, tidak cukup berhenti pada mengetahui saja. Apa yang diketahui harus diamalkan dan ketika ilmu itu diamalkan, barulah seseorang dapat menjadi ahli.

"Inilah mengapa Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan ilmu. Karena dalam tradisi Muhammadiyah, istilah alim tidak sekadar dimaknai sebagai orang yang banyak mengetahui, tetapi sebagai orang yang mampu melepaskan dirinya dari kebodohan. Ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berlanjut pada pengamalan," jelas Dzulfikar.

Masih menurut Ali bin Abi Thalib, juga mengingatkan bahwa akan datang suatu zaman setelah beliau, ketika seseorang hanya mengamalkan sekitar sepuluh persen dari apa yang ia ketahui. Artinya, jarak antara pengetahuan dan pengamalan bisa menjadi sangat jauh.

Dzulfikar kemudian mengutip perkataan Imam Syafi’i yang memberikan gambaran menarik tentang tahapan orang dalam menuntut ilmu.

Tahap pertama adalah ketika seseorang baru mulai belajar. Pada tahap ini biasanya muncul perasaan seolah-olah dirinya mengetahui banyak hal. Mahasiswa semester awal sering berada di fase ini: merasa paling benar, berani mendebat dosen, bahkan membantah guru di kampungnya. Kadang baru ikut satu dua kajian sudah merasa paling memahami dalil.

"Ini adalah gejala orang yang sedang berada pada tahap awal belajar," kata Dzulfikar

Tahap kedua, seseorang mulai menyadari bahwa apa yang ia ketahui sebenarnya masih sedikit. Pada fase ini muncul kesadaran untuk terus belajar. Banyak orang yang kemudian terdorong melanjutkan studi atau memperdalam ilmu karena menyadari keterbatasannya.

Tahap ketiga, seseorang bukan hanya sadar bahwa ilmunya sedikit, tetapi juga memahami bahwa dari apa yang ia ketahui itu, yang benar-benar ia pahami ternyata lebih sedikit lagi.

"Contohnya sederhana. Misalnya dalam hal yang sering kita alami saat Ramadan. Kapan sebaiknya membeli gorengan untuk berbuka? Kalau beli pukul empat sore, saat azan magrib gorengannya sudah dingin. Tapi kalau beli pukul setengah enam, biasanya sudah habis. Hal-hal kecil seperti ini saja kadang masih menjadi teka-teki bagi kita setiap tahun," ucap Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Tahap keempat adalah tahap tertinggi. Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak ada orang yang benar-benar sampai pada tahap ini kecuali para nabi. Pada tahap ini seseorang memiliki kesadaran mendalam bahwa sesungguhnya manusia tidak tahu apa-apa.

Kesadaran ini juga tercermin dalam syair Imam Syafi’i. Beliau mengatakan bahwa ia mencintai orang-orang saleh, meskipun ia bukan bagian dari mereka. "Bayangkan, Imam Syafi’i yang sudah menghafal Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun masih merendahkan dirinya seperti itu. Itulah pelajaran penting tentang kerendahan hati dalam ilmu," ungkap Dzulfikar.

Ilmu itu sangat luas. Karena itu, tidak boleh merasa cukup hanya karena menyandang status sebagai mahasiswa S1 di perguruan tinggi. Dzulfikar mengaku sering berkeliling ke berbagai negara dan melihat banyak anak muda Indonesia yang luar biasa. Menurutnya, mereka tidak hanya belajar di luar negeri, tetapi juga bekerja dan berjuang.

"Hal itu menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh terlalu bangga dengan ilmu yang kita miliki saat ini," tuturnya.

Untuk menghadapi kehidupan yang penuh dinamika dan ketidakpastian, Dzulfikar menyampaikan jika mahasiswa membutuhkan dua hal penting. Pertama, memiliki pikiran yang kuat. Pikiran yang lurus dan kokoh. Kedua, memiliki karakter yang kuat. Dan karakter itu lahir dari proses belajar yang benar.

Seorang ulama di Mekah pernah mengatakan sebuah kalimat yang sangat indah: apabila ilmu seseorang luas, maka dadanya juga menjadi lapang. Ia memiliki kebijaksanaan yang luas, mampu mendengar orang lain, dan tidak mudah meremehkan orang yang berbeda pandangan.

"Orang yang benar-benar berilmu tidak mudah merendahkan orang lain. Ia mampu menghargai perbedaan, baik perbedaan pandangan maupun pilihan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang terus belajar, mengamalkan ilmu, dan memiliki hati yang lapang dalam menghadapi perbedaan," pungkas Dzulfikar menutup tausiyah-nya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow