ToT Deep Learning ISMUBA, PWM DIY Tekankan Adaptasi Digital dan Kaderisasi Berkualitas

ToT Deep Learning ISMUBA, PWM DIY Tekankan Adaptasi Digital dan Kaderisasi Berkualitas

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN – Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Training of Trainers (TOT) Deep Learning Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA). Acara berlangsung pada Jum’at – Ahad (29–31/8) di BPMP DI Yogyakarta, Kalasan, Sleman 

Kegiatan yang diikuti 60 guru ISMUBA jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA se-DIY ini bertujuan meningkatkan kapasitas pendidik dalam menerapkan metode deep learning atau pembelajaran mendalam sesuai kebijakan pendidikan nasional.

Selama tiga hari, peserta TOT mendapat beragam materi, meliputi arah kebijakan pembelajaran ISMUBA, konsep deep learning, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan teknik asesmen. Program juga mencakup sesi praktik microteaching untuk mengasah kemampuan mengajar peserta.

Wakil Ketua ISMUBA Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Dr. Mhd. Lailan Arqam, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan respons terhadap perubahan paradigma pendidikan nasional.

“Pelatihan ini adalah upaya kita merespons kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pendekatan deep learning. Tujuannya agar peserta TOT bisa menjadi trainer di daerah masing-masing, sehingga manfaatnya meluas ke seluruh guru ISMUBA,” tuturnya.

Lailan menjelaskan, peserta yang hadir dipilih secara selektif dengan komposisi 50 persen penulis modul dan soal, serta 50 persen guru perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 

“Kami ingin para peserta serius dan totalitas, karena pelatihan ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik penyusunan perangkat ajar dan penerapan pembelajaran mendalam,” tegasnya.

Dengan pelaksanaan deep learning ISMUBA ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY berharap guru ISMUBA semakin siap menghadapi tantangan pendidikan modern. Serta menjaga peran strategis ISMUBA sebagai ruh pendidikan Muhammadiyah dalam melahirkan generasi yang beriman, berpengetahuan, dan berkarakter.

“Perubahan terus berjalan, kalau kita tidak beradaptasi maka akan tertinggal. ISMUBA harus tetap menjadi jantung pendidikan Muhammadiyah. Untuk itu guru-guru wajib meningkatkan kapasitas diri agar pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” Harap Lailan.

Wakil Ketua PWM DIY, H. Gita Danu Pranata dalam arahannya menekankan pentingnya adaptasi guru ISMUBA terhadap perkembangan teknologi digital. Menurutnya, realitas pendidikan saat ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan tantangan global.

“Kita sudah masuk era digital, sehingga guru harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi. Namun, teknologi bukan tujuan utama, melainkan alat untuk menjadikan pembelajaran ISMUBA lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi murid,” ungkap Ketua Dikdasmen PNF PWM DIY itu.

Pihaknya menekankan, pembelajaran ISMUBA harus diarahkan untuk melahirkan generasi emas Muhammadiyah yang tidak hanya religius, tetapi juga berdaya saing.

“Kader yang kita hasilkan harus beriman, berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan mampu menjadi pemimpin perubahan positif di masyarakat. Mereka juga harus berkomitmen memperjuangkan kebenaran dan keadilan,” tegas Gita.

Lebih lanjut, Gita juga menyoroti pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dengan ajaran Islam. Ia mencontohkan bagaimana sosok Nabi Muhammad Saw. dapat dipelajari dari berbagai perspektif kehidupan.

“Seringkali murid hanya melihat Nabi dalam konteks peperangan. Padahal sejak usia muda, Nabi sudah menunjukkan teladan dalam aspek keluarga, ekonomi, hingga kepemimpinan. Jika hari ini beliau hidup, Nabi bisa kita sebut sebagai sosok pemimpin sekaligus CEO visioner,” jelasnya.

Menurut Gita, integrasi ini penting agar pembelajaran ISMUBA tidak berhenti pada aspek ritual ibadah semata, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi, dan muamalah yang lebih luas.

Dalam penutupnya, Gita mengingatkan pentingnya menjaga moderasi beragama (wasathiyah) dalam pembelajaran ISMUBA.

“Muhammadiyah menganut jalan tengah, bukan ekstrem kanan maupun kiri. Tantangan kita adalah bagaimana menyampaikan Islam yang rahmatan lil 'alamin dengan tidak kaku, tetapi tetap tegas dalam prinsip. Guru ISMUBA harus mampu mengawal nilai moderasi ini di sekolah/madrasah Muhammadiyah,” pesannya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow