Tingkatkan Kompetensi Guru : Mahasiswa UAD Lakukan Pelatihan Deep Learning di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta

Tingkatkan Kompetensi Guru : Mahasiswa UAD Lakukan Pelatihan Deep Learning di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta

Smallest Font
Largest Font

Yogyakarta – Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang tergabung dalam program PLP-KKN Alternatif 100 Unit I.B.5 dan I.B.6 tahun 2025 mengadakan Pelatihan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Deep Learning di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, Jumat (19/9/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari seluruh guru dan tenaga kependidikan di sekolah tersebut.

Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan guru untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Di era digital saat ini, pendidikan tidak lagi hanya menuntut kemampuan mengajar secara konvensional, tetapi juga menekankan pentingnya strategi pembelajaran yang mampu mengembangkan daya pikir kritis, kreativitas, serta kesadaran diri siswa. Konsep Deep Learning dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat menjawab tantangan tersebut, karena berfokus pada pemahaman mendalam dan penerapan kontekstual daripada sekadar hafalan materi.

Acara dibuka oleh Master of Ceremony Ircham Fahrizal, mahasiswa PLP-KKN yang ditempatkan di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Suasana pembukaan berlangsung hangat, dilanjutkan dengan sambutan Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, Erfin Widyanto, S.IP. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa UAD atas inisiatif menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan semacam ini memberikan nilai tambah bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Setelah sambutan, acara berlanjut dengan pemaparan materi inti oleh Kepala Laboratorium P2K Universitas Ahmad Dahlan, Bapak Fariz Setyawan, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber. Dalam presentasinya, Fariz menekankan bahwa deep learning bukan sekadar metode, melainkan sebuah paradigma pembelajaran. “Dengan pendekatan ini, guru tidak hanya menargetkan capaian kognitif, tetapi juga mendorong tumbuhnya sikap reflektif, kreativitas, serta keterampilan kolaboratif pada siswa. Tujuannya agar peserta didik dapat memahami materi secara komprehensif dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menghafal,” ujarnya.

Penjelasan tersebut disambut antusias oleh para guru. Mereka menilai materi yang dibawakan relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, khususnya bagaimana menghadirkan pembelajaran yang bermakna di tengah beragam karakter dan minat siswa. Fariz juga menekankan pentingnya peran guru sebagai fasilitator yang mampu menciptakan lingkungan belajar kondusif, interaktif, dan menyenangkan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Pada sesi ini, peserta berkesempatan menyampaikan pertanyaan, pengalaman, maupun kendala yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Salah satu guru, Rafik Tri Hardian, mengajukan pertanyaan mengenai penerapan mindful learning atau kesadaran diri dalam pembelajaran. Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak siswa masih enggan membaca maupun menulis, padahal dua hal tersebut sangat penting dalam menyerap ilmu pengetahuan. Pertanyaan ini memicu diskusi menarik antara pemateri dan peserta mengenai strategi pembelajaran yang dapat memotivasi siswa.

Menanggapi hal tersebut, Fariz menjelaskan bahwa guru perlu melibatkan siswa secara aktif melalui metode yang kontekstual dan kreatif, seperti permainan edukatif, simulasi, maupun proyek sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka. “Guru harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan. Ketika siswa merasa terlibat, mereka akan lebih termotivasi untuk membaca, menulis, dan mengeksplorasi pengetahuan lebih dalam,” jelasnya.

Selama diskusi, para guru saling berbagi pengalaman mengenai penerapan strategi pembelajaran di kelas masing-masing. Beberapa guru mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah menumbuhkan minat belajar di tengah gempuran teknologi digital yang sering membuat siswa kehilangan fokus. Namun, melalui pelatihan ini mereka mendapatkan wawasan baru bahwa deep learning justru dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu yang efektif bila digunakan dengan tepat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Tidak hanya aktif bertanya, mereka juga berbagi praktik baik yang pernah dilakukan di kelas, seperti penggunaan media interaktif, pembelajaran berbasis proyek, serta integrasi nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran. Suasana diskusi menjadi ajang tukar gagasan yang memperkaya pemahaman semua pihak.

Menjelang akhir acara, MC menutup kegiatan dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk kelancaran proses pendidikan di sekolah. Sesi dokumentasi pun digelar dengan penuh kehangatan, menandai berakhirnya rangkaian pelatihan.

Koordinator mahasiswa PLP-KKN UAD 2025 menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung inovasi pendidikan di sekolah mitra. “Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini saja, tetapi benar-benar menjadi bekal bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa dan tantangan zaman,” ujarnya.

Dengan adanya pelatihan ini, guru diharapkan semakin termotivasi untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. Harapan besarnya, kualitas pendidikan di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta akan terus meningkat, sehingga mampu memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan peserta didik dan kemajuan sekolah secara keseluruhan.

Sumber : Dio Sapta Pratama / Mahasiswa UAD

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow