Self-Worth dan Self-Love dalam Islam: Khatib Ingatkan Generasi Muda agar Tidak Meremehkan Diri
YOGYA - Fenomena rapuhnya kesehatan mental generasi muda kembali mendapat sorotan dalam khutbah Jumat (28/11) yang disampaikan oleh Dosen Magister Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Syifa Amin Widigdo, S.Ag., Ph.D. Khutbah yang berlangsung di Masjid Ahmad Dahlan UMY tersebut mengangkat tema “_Self-Worth_ dan _Self-Love_ dalam Islam” serta menekankan pentingnya memahami nilai diri dari perspektif Islam.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Syifa memaparkan data UNICEF yang menunjukkan bahwa 2% penduduk Indonesia usia 15–24 tahun mengalami depresi. Mirisnya, hanya 10% dari mereka yang mencari bantuan profesional, sedangkan 60% lainnya sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Menurutnya, angka ini menunjukkan betapa serius dan mendesaknya isu kesehatan mental generasi muda saat ini.
“Rasa tidak berharga dan hilangnya cinta terhadap diri sendiri menjadi penyebab utama rapuhnya mental generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam telah memberikan fondasi kuat dalam memandang harga diri manusia. Ia mengutip QS. Al-Isra ayat 70 yang menegaskan bahwa manusia dimuliakan oleh Allah dengan kedudukan yang tinggi serta rezeki yang baik. Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah bahwa Allah tidak memandang rupa dan harta manusia, melainkan hati, akhlak, dan amalnya.
“Persepsi bahwa diri tidak berharga bertentangan dengan pesan Al-Qur’an. Manusia adalah makhluk mulia, bukan entitas yang tidak bermakna,” ujarnya.
Ustadz Syifa turut mengidentifikasi sejumlah faktor yang memperburuk kondisi mental generasi Z dan Alpha, seperti paparan digital yang berlebihan, budaya validasi melalui _likes_ dan _views_, hingga tekanan sosial dan ekspektasi keluarga yang tinggi. Faktor-faktor tersebut, menurutnya, memicu kecemasan, kesepian, dan bahkan perilaku merusak diri.
Meski begitu, Islam tidak hanya menggambarkan masalah, tetapi juga menawarkan solusi. Ia mendorong jamaah untuk kembali pada prinsip taubat dan memperbaiki relasi dengan Allah ketika merasa rendah diri atau kehilangan arah hidup.
“Ketika perasaan tidak berharga muncul, berarti kita sedang menzalimi diri sendiri. Jalan keluarnya adalah istighfar, memperbaiki hati, dan kembali mengingat kemuliaan yang Allah berikan,” jelasnya.
Di akhir khutbah, Syifa menegaskan bahwa mencintai diri sendiri dalam Islam bukan berarti terjebak pada narsisme atau egoisme, melainkan menjaga keseimbangan antara mengenali potensi diri dan tetap rendah hati.
Khutbah Jumat ini diharapkan menjadi pengingat bagi civitas akademika UMY, khususnya mahasiswa, agar terus menghargai dirinya sebagai makhluk yang dimuliakan Allah serta menjaga kesehatan mental sesuai nilai-nilai Islam. (Jeed)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow