Selamat Jalan Bu Ahang, Kami Semua Ikhlas
BANTUL - Muhammadiyah berduka dengan berpulangnya Nahar Miladi, S.E., ke Rahmatullah, seorang kader dan pejuang aktif di lingkungan persyarikatan, pada Ahad (7/7).
Bu Ahang -sapaan akrabnya yang dikenal selalu bersemangat dalam setiap kegiatan dan pengayom bagi seluruh kader muda itu diantar oleh keluarga, kerabat, serta pimpinan dan warga Muhammadiyah ke tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Makam Husnul Khatimah, Nanggulan, Kulon Progo, Senin (8/7) pagi.
Dalam malam takziah pada Senin (8/7) malam, Arif Jamali Muis, M.Pd. (Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta) selaku suami almarhumah, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dukungan yang diberikan dari seluruh komponen persyarikatan Muhammadiyah dan warga sekitar.
“Atas nama keluarga, saya mengucapkan beribu terima kasih atas segala bantuan support doa dari semuanya, dari PP Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, PWM dan PWA DIY, AMM, tetangga di RT 02, PRM PRA, semuanya telah mensupport dan membantu kami,” ucapnya dalam takziah yang digelar di kediamannya.
Bahkan, ketika Arif berada di Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah Haji dan anaknya yaitu Tsabita Ikrima Al Arify sendirian menemani almarhumah, ia dan keluarga selalu disupport oleh semua pihak
Sehingga saat Arif pulang dari ibadah Haji, ia dapat ikut di saat detik-detik terakhir almarhumah. Arif dan anaknya serta adik dari almh. Nahar, senantiasa berada disampingnya dan tak henti melafalkan kalimat-kalimat Allah.
“Saya bilang kepadanya kalau kami berdua ikhlas, kalau Ibu ingin menghadap Allah, kami doakan khusnul khatimah dan kami berdua kuat. Tsabita juga bilang akan melanjutkan perjuangan di ‘Aisyiyah,” ucap Arif.
Beliau juga menuturkan kalau sang istri melontarkan pesan penting terkait perkaderan keluarga. Kedua pernah berdialog, bahwa sang anak yaitu Tsabita adalah kader biologis kader karena lahir dari orang tua seorang aktivis Muhammadiyah dan tidak mungkin jadi kader lain,
Namun, tidak cukup jadi kader biologis, anak juga harus jadi kader ideologis. Maka dari itu, sejak kecil, Tsabita kerap diajak oleh sang Ibu untuk ikut Muktamar Nasyiatul ‘Aisyiyah, acara-acara ‘Aisyiyah. Bahkan, ketika kemudian sudah besar, sang ibui pontang-panting mencarikan info kegiatan perkaderan Taruna Melati (TM) 1 di IPM Kota Yogyakarta dan TM 2 di PD IPM Bantul.
Hasil dari perjuangan sang ibu berbuah. Kini, Tsabita sangat aktif di Muhammadiyah, salah satunya dengan menjadi Sekretaris Umum PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah DIY. Organisasi sama yang turut membentuk jiwa aktivis dan bermuhammadiyah kedua orang tuanya.
“Anak adalah investasi kami, salah satu jalan investasi kami di akhirat, sehingga anak ini akan menjadi aktivis ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Mohon saya dikuatkan agar sabar membimbing dan saya bersyukur dia jadi aktivis Muhammadiyah,” kata Arif.
Arif juga menuturkan bahwa almarhumah sang istri sebagai pribadi yang tidak mau merepotkan siapapun. Hal itu ditunjukkan dengan ketika almarhumah sakit tidak Memberitahu siapapun.
Bahkan, ketika mengajar sebagai guru Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah Krembangan, tugas pun tetap dia lakukan. Karena kondisinya yang sakit, almarhumah sampai memanggil siswa-siswanya ke rumahnya.
Ada hal menarik yang diungkapkan, ketika mengajar, almarhumah kalau cerita tentang KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), tidak menyebutnya “Kiai Dahlan” melainkan “Mbah Dahlan”.
“Sampai ada siswa yang tanya ‘Ibu kenal kenal dengan Kiai Dahlan, kok kayaknya akrab banget?’ begitu. Jadi itu adalah cara almarhumah untuk mendekatkan sosok KH. Ahmad Dahlan kepada siswa,” lanjut Arif.
Sebelum menutup, Arif memohon doa untuk almarhumah agar diterima amal shalihnya serta diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan almarhumah.
“Sekali lagi, mohon doa untuk istri saya dan untuk kami berdua melanjutkan cita-cita berbuat baik di muka bumi. Kami sudah ikhlas dan kehidupan harus tetap berjalan,” tandas Arif. (*)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
2
Sad -
0
Wow