Republika dan LAZISMU Luncurkan AI Keislaman 'Aiman & Aisha'
JAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Melihat peluang tersebut, Republika meluncurkan platform AI berbasis keislaman bernama Aiman & Aisha dalam acara grand launching yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3).
Peluncuran platform kecerdasan buatan tersebut didukung oleh LAZISMU serta mitra teknologi BytePlus. Kehadiran Aiman & Aisha diharapkan menjadi sarana baru untuk memperkaya khazanah keislaman sekaligus memudahkan masyarakat mengakses pengetahuan agama di era digital.
Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengapresiasi peluncuran AI berbasis keislaman tersebut. Menurutnya, perkembangan AI merupakan peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan manfaat bagi umat manusia.
“Karena itu, etika manusia harus membingkai pemanfaatan akal imitasi ini agar nilai manfaatnya digunakan secara baik,” ujarnya.
Ia menilai, perkembangan informasi digital turut memengaruhi dinamika wacana keislaman. Di era digital, sumber-sumber otoritas keagamaan mengalami pergeseran karena masyarakat kini memiliki banyak referensi dari berbagai platform.
“Di era digital ini muncul praktik keagamaan yang sering kali menghadirkan kritik terhadap sumber rujukan yang dianggap tidak sepenuhnya kapabel,” jelasnya.
Menurut Mujadid Rais, AI perlu diperkaya dengan sumber-sumber otoritatif, terutama ketika menyangkut persoalan agama. Dengan demikian, teknologi tersebut dapat menjadi sarana edukasi yang tetap terarah.
“Kita perlu membimbing pemanfaatan AI ini sebagaimana membimbing generasi milenial yang menjadi pengguna utama teknologi digital,” katanya.
Ia menambahkan, kehadiran Aiman & Aisha diharapkan dapat memperkaya khazanah dakwah Islam serta menghadirkan pemahaman keagamaan yang harmonis dan berdampak sosial melalui teknologi informasi.
“Lebih jauh lagi, teknologi ini dapat mendorong kesalehan tidak hanya secara individual, tetapi juga kesalehan sosial,” ujarnya.
LAZISMU, lanjutnya, bersyukur dapat terlibat dalam pengembangan platform tersebut sebagai bagian dari upaya memaknai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam gerakan dakwah digital, khususnya yang berkaitan dengan filantropi Islam.
Sementara itu, Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menyambut gembira peluncuran platform Aiman & Aisha. Ia menilai ketergantungan manusia terhadap AI merupakan realitas yang tidak bisa dihindari di era digital.
“Pertanyaannya, apakah AI akan menjadi teman ngobrol atau sekadar perpustakaan digital? Ini menyangkut arah peradaban dan kehidupan manusia di era AI yang kini ada di mana-mana,” ujarnya.
Menurutnya, AI memang mampu memberikan jawaban dengan cepat, tetapi tidak selalu kontekstual dan belum tentu berbasis nilai.
“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen nilai, tetapi harus menjadi produsen nilai. Apalagi AI global belum tentu memahami Islam moderat yang menjadi kekhasan Indonesia,” katanya.
Andi menegaskan bahwa Aiman & Aisha dirancang dengan pendekatan bahasa yang ramah. Platform tersebut bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan sebagai pintu awal bagi masyarakat dalam belajar agama.
“Penting kami tegaskan bahwa Aiman dan Aisha adalah pintu awal untuk belajar. Untuk pendalaman ilmu, tetap kembali kepada otoritas keagamaan sebagai rujukan,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow