PP IPM Bangun Gerakan Pelajar Bahagia Tanpa Bully Melalui Advokasik Camp

PP IPM Bangun Gerakan Pelajar Bahagia Tanpa Bully Melalui Advokasik Camp

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) membuka kegiatan Advokasik Camp #Happytanpabully Batch Yogyakarta di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPPMPV) Seni dan Budaya DIY, Ngaglik, Sleman, pada Jumat (3/9). Batch Yogyakarta menjadi titik kelima dari tujuh rangkaian kegiatan nasional yang diinisiasi PP IPM.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari guru dan siswa berbagai sekolah, tidak hanya dari sekolah Muhammadiyah tetapi juga SMK Taman Siswa, SMK Piri 1 Yogyakarta, dan SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada. Keberagaman peserta ini mencerminkan semangat inklusivitas dalam menyebarkan gerakan #Happytanpabully.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan, Sekretaris Direktorat Jenderal Vokasi, Diskus, dan PLK Kemendikdasmen RI Muhammad Hasbi, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Kemendikdasmen Mariman Darto, serta Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya DIY Mashrukan Budiyanto.

Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibentuk secara instan. “Perubahan yang masif harus melalui rekayasa yang panjang. Karakter disiplin dan tertib tidak bisa muncul secara tiba-tiba,” ujarnya.

Menurutnya, pembentukan karakter membutuhkan proses berkelanjutan dan terencana agar menghasilkan pelajar yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati sosial.

Sekretaris Ditjen Vokasi, Diskus, dan PLK Kemendikdasmen RI, Muhammad Hasbi, mengapresiasi langkah PP IPM yang aktif menggerakkan pelajar melawan praktik perundungan di berbagai daerah. “Program ini bukan sekadar forum belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan empati di kalangan pelajar,” kata Hasbi.

Ia menambahkan, di era digital saat ini perundungan bisa muncul dalam berbagai bentuk, termasuk di dunia maya. Karena itu, pelajar perlu dibekali kesadaran dan kemampuan mengendalikan diri dalam berinteraksi. “Kita ingin menanamkan nilai saling menghargai sejak dini. Dari hal kecil, seperti menghormati teman dan mendengarkan tanpa menghakimi, kita bisa menumbuhkan budaya saling menolong,” imbuhnya.

Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Kemendikdasmen, Mariman Darto, mengajak seluruh kader IPM menjadi agen utama dalam isu pencegahan bullying. Ia menilai perilaku agresif sering kali muncul dari energi yang tidak tersalurkan dengan baik, bahkan dapat dipicu oleh kondisi keluarga yang tidak harmonis atau kekerasan yang tidak disengaja di lingkungan rumah.

“Saya berharap guru menjadi panglima utama dalam memastikan kualitas dan mutu pendidikan. Budaya belajar yang aman dan nyaman harus diberlakukan,” tegasnya. Mariman juga menyoroti kasus-kasus perundungan yang berdampak luas hingga ke ranah kekerasan seksual. Karena itu, ia menilai penting adanya sistem safeguard di lembaga pendidikan untuk melindungi peserta didik.

Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya DIY, Mashrukan Budiyanto, menyoroti fenomena bahwa perilaku yang sejatinya merupakan bibit bullying justru sering dijadikan konten hiburan di media. “Ada perilaku yang mestinya dihindari justru dijadikan program acara, seperti roasting. Fenomena ini menarik, dan melalui kegiatan ini kita berharap lahir generasi emas yang berkarakter,” ungkapnya.

Ketua pelaksana Advokasik Camp, Sakinah Fitrah Rahmah, menuturkan bahwa meskipun kegiatan ini diinisiasi oleh IPM, sekolah non-Muhammadiyah juga turut berpartisipasi.

“Teman-teman di sini hadir sebagai sosok fundamental yang berjuang memberantas bullying dan menjadi guardian yang terpercaya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum PW IPM DIY, Naufal Labiba Wildan, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara mencegah perundungan, tetapi juga menumbuhkan empati dan kebersamaan.

“Bullying bukan hanya tentang sikap kasar atau ledekan, tapi juga tentang bagaimana kita menghargai orang lain,” katanya. Naufal berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat saling menghormati dan mendukung antarpelajar, sehingga mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya.

Dengan beragam pandangan dan dukungan dari berbagai pihak, Advokasik Camp #Happytanpabully menegaskan bahwa pencegahan perundungan bukan sekadar kampanye sesaat, tetapi proses panjang yang menuntut sinergi antara pelajar, pendidik, pemerintah dan masyarakat luas.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow