Perkuat Kolaborasi Kesiapsiagaan Bencana, Muhammadiyah Gelar HKB 2026 di Yogyakarta
YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menggelar peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 pada Ahad (26/4) di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro No. 23, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini dihadiri oleh relawan Muhammadiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta, jajaran MDMC PP Muhammadiyah, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah, serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY. Acara berlangsung secara hybrid (luring dan daring), terhubung dengan peringatan HKB nasional bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan berbagai organisasi relawan di seluruh Indonesia.
Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, H. Budi Setiawan, S.T. menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Upaya penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kita harus bersatu dalam sistem yang kuat, terkoordinasi, dan saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengalaman Muhammadiyah dalam merespons berbagai bencana, khususnya di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh dalam beberapa bulan terakhir, menjadi pembelajaran penting untuk memperkuat sistem yang ada.
Salah satu perhatian utama, lanjutnya, adalah penguatan logistik kemanusiaan. Menurutnya, logistik bukan sekadar ketersediaan barang, tetapi juga ketepatan distribusi dan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat.
“Bantuan harus tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan anak-anak. Kita tidak ingin bantuan justru tidak bermanfaat karena tidak sesuai kebutuhan,” tegasnya.
Melalui berbagai elemen, termasuk ‘Aisyiyah, Muhammadiyah juga aktif memastikan kualitas layanan kemanusiaan, seperti pendampingan dapur umum agar makanan yang disajikan layak dan memenuhi kebutuhan gizi.
Selain respons darurat, Muhammadiyah juga terus mengembangkan program masyarakat tangguh bencana di berbagai wilayah rawan, seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Program ini mencakup pembangunan infrastruktur tahan bencana sekaligus penguatan kapasitas sosial dan spiritual masyarakat.
Menariknya, di wilayah dengan komunitas minoritas Muslim, program tersebut turut mempererat hubungan lintas agama. Dukungan dari masyarakat setempat, termasuk pemimpin non-Muslim, menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan mampu melampaui perbedaan.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah, dr. H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes. dalam amanatnya menegaskan bahwa peringatan HKB harus dimaknai sebagai gerakan nyata, bukan sekadar seremonial.
Ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah telah membangun sistem One Muhammadiyah One Response (OMOR) sebagai bentuk integrasi gerakan kebencanaan yang melibatkan seluruh komponen persyarikatan.
“(OMOR) ini bukan sekadar omon-omon, tetapi wujud nyata respons kebencanaan Muhammadiyah yang didukung semua unsur,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut Muhammadiyah juga telah mendapatkan kepercayaan untuk mengembangkan Emergency Medical Team (EMT) yang telah diakui secara internasional oleh World Health Organization (WHO).
Menurutnya, kesiapsiagaan bencana harus menjadi gerakan bersama lintas sektor di Muhammadiyah. Mulai dari Pemuda Muhammadiyah melalui KOKAM, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), hingga merancang kurikulum dan pembinaan sumber daya manusia yang siap siaga melalui Majelis Dikdasmen dan PNF serta Majelis Diktilitbang.
Berbagai inisiatif pun telah dijalankan, seperti Sekolah Tangguh Bencana, Rumah Sakit Tangguh Bencana, Jamaah Tangguh Bencana, hingga pengembangan konsep Masjid Tangguh Bencana. Agus juga mengajak seluruh elemen Muhammadiyah untuk menjadikan momentum HKB sebagai penguat komitmen dalam membangun ketahanan bencana.
Rangkaian kegiatan HKB 2026 ini juga diisi dengan sarasehan kesiapsiagaan bencana. Sejumlah majelis dan lembaga Muhammadiyah memaparkan berbagai program strategis sesuai bidangnya, mulai dari Majelis Dikdasmen-PNF dan Majelis Diktilitbang di bidang pendidikan atau riset, MPKU di sisi medis, LLHPB 'Aisyiyah soal peran strategis perempuan untuk siap siaga, LAZISMU untuk urusan filantropi, serta MDMC dari sisi aksi relawan di lapangan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow