Penyintas Bencana Sumut Alami Guncangan Berlapis, Dukungan Psikososial Mendesak

Penyintas Bencana Sumut Alami Guncangan Berlapis, Dukungan Psikososial Mendesak

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Bencana yang melanda wilayah Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian material, tetapi juga menyisakan tekanan psikologis yang mendalam bagi para penyintas. Psikolog Klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi, mengungkapkan bahwa dampak psikologis tersebut tidak hanya dirasakan oleh warga yang berada di pusat bencana, tetapi juga merembet hingga masyarakat pada lingkar terluar yang memiliki keterikatan emosional dengan para korban.

“Ada tiga tingkatan warga yang terdampak ketika terjadi bencana. Yang paling berat tentu mereka yang berada di titik pusat kejadian karena hidupnya berubah secara langsung. Namun lapisan kedua dan ketiga juga tetap merasakan tekanan, meskipun bentuknya berbeda,” ujar Cahyo saat dimintai keterangan pada Selasa (1/12) di UMY.

Kelompok pertama umumnya menghadapi perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari, seperti hilangnya rasa aman, terputusnya rutinitas, hingga kehilangan tempat tinggal atau harta berharga. Kondisi ini dapat menjadi semakin berat ketika mereka juga kehilangan orang-orang terdekat. Situasi tersebut memunculkan reaksi psikologis berupa syok, ketakutan intens, hingga perasaan kehilangan yang mendalam.

Pada kasus yang lebih parah, penyintas bahkan dapat kehilangan semangat hidup dan tampak “kosong” secara emosional, sebuah tanda guncangan psikologis serius yang membutuhkan penanganan segera. Cahyo menegaskan bahwa dukungan psikososial memiliki peran krusial dalam proses pemulihan. “Saya melihat layanan ini tampaknya belum sepenuhnya memadai. Saat ini masyarakat masih sangat fokus pada bantuan fisik, padahal dukungan emosional juga sama pentingnya,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian hangat, dan tempat berlindung memang memberikan dampak positif terhadap kondisi mental penyintas. Namun, setelah kebutuhan primer terpenuhi, layanan psikososial seharusnya segera hadir sebagai bagian dari respons awal bencana. “Posko bencana perlu dilengkapi dengan layanan konseling, terutama _Psychological First Aid_ (PFA). PFA bukan sekadar trauma healing seperti yang sering dipahami sebagai aktivitas pengalihan, tetapi merupakan langkah awal untuk mengenali kondisi psikologis penyintas secara lebih terstruktur,” tegasnya.

Cahyo juga menekankan pentingnya melakukan _screening_ psikologis agar pemerintah dapat mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan penanganan lanjutan. Tidak semua penyintas mengalami reaksi psikologis dengan intensitas yang sama, sehingga penentuan prioritas harus dilakukan secara sistematis. Selain itu, pelibatan komunitas lokal, tokoh masyarakat, relawan setempat, dan pemuka agama sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana aman dan tidak asing bagi para penyintas.

“Proses pemulihan emosional warga Sumatera Utara membutuhkan kolaborasi jangka panjang. Karena itu, pemerintah, relawan, komunitas lokal, dan tenaga ahli perlu menjalin koordinasi yang kuat agar penyintas dapat bangkit dengan dukungan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow