Pengajian Ramadhan PWM DIY Dorong Reformasi dan Transformasi Perkaderan Muhammadiyah

Pengajian Ramadhan PWM DIY Dorong Reformasi dan Transformasi Perkaderan Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Persoalan kader menjadi topik yang abadi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Hal ini wajar mengingat kader merupakan penggerak dan inti dari organisasi Muhammadiyah itu sendiri. 

Pada Pengajian Ramadhan 1446 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) pada Sabtu (8/3) sesi 1 tentang “Reformasi Kaderisasi dalam Mewujudkan Kader yang Berintegritas”, dua narasumber yaitu Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil., MPA. (Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani PP Muhammadiyah) dan Dr. Iwan Setiawan, M.S.I. (Wakil Ketua PWM DIY) membahas banyak hal terkait kaderisasi di lingkungan Muhammadiyah.

Secara reputasi tak diragukan bahwa Muhammadiyah memiliki catatan yang positif dan telah dikenal secara luas. Tidak hanya jadi fenomena lokal di Jogja saja, tapi juga di kancah nasional dan global. Ibarat cikal pohon kelapa, Muhammadiyah bisa ditanam dan tumbuh di mana saja, bahkan di lingkungan minoritas, abangan, dan sebagainya.

Lalu, dari segi perkembangan amal usaha sangat luar biasa, semakin besar, kuat, dan mandiri. Bahkan, tanpa akselerasi pemerintah pun, Muhammadiyah mampu berkembang, 

Akan tetapi, dengan perkembangan amal usaha dan kiprah Muhammadiyah yang makin pesat ini tidak membuat jumlah anggotanya jadi lebih banyak. Terlihat dari jumlah anggota dan pengikutnya –termasuk di media sosial kurang memuaskan, tidak berbanding lurus dengan kemajuan gerak dan peran Muhammadiyah.

“Ini perlu evaluasi, apakah kita terlalu baik dan boros terhadap aktivisme sosial tapi tidak merangkul mereka untuk menjadi bagian dari Muhammadiyah,” kata Bachtiar Dwi Kurniawan.

Gus Bach –sapaan akrabnya memaparkan level pengikut Muhammadiyah, mulai dari simpatisan, warga, anggota, kader, aktivis, hingga pimpinan. Ia melihat para simpatisan ini yang harusnya berpotensi untuk diajak gabung ke Muhammadiyah

“Mereka dapat layanan langsung dari Muhammadiyah. Simpatisan ini kalau beribadah sering ikut Muhammadiyah, jadi mereka potensi jadi anggota,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjut Gus Bach, engagement atau jalur kaderisasi Muhammadiyah perlu diperluas, tidak hanya melalui jalur Ortom saja. Bisa melalui tiga jalur lainnya, yakni keluarga, amal usaha, dan komunitas.

“Perluasan jalur kaderisasi akan berdampak pada bagaimana memperluas anggota Muhammadiyah,” jelas Gus Bach. 

Pada Muktamar ke-48 di Surakarta tahun 2022 lalu, telah dicanangkan sebuah Reformasi Kaderisasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Ada tiga ranah yang disasar, pertama ideologisasi dimana pelaksanaan Baitul Arqam akan direformasi, sebab tidak mungkin mengandalkan pelaksanaan satu orang dikumpulkan pada satu tempat dalam waktu yang lama. Sehingga, dari MPKSDI merancang pelaksanaan Baitul Arqam dengan durasi waktu yang bisa disesuaikan namun konten materinya tetap sama.

Kedua, Internasionalisasi, ini penting karena ideologi Muhammadiyah harus diekspor, dipromosikan, dan didakwahkan di belahan dunia manapun oleh kader Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang sekolah dan bekerja di luar negeri. Dengan kata lain menjadi duta Muhammadiyah dalam menyebarkan gagasan Islam berkemajuan, sehingga bisa diterima di berbagai negara lain dan menjadi epistem global. 

Ketiga, diaspora, artinya mendelegasikan kader ke berbagai sektor termasuk politik dan birokrasi pemerintahan. Saat ini Muhammadiyah sudah sangat terbuka diaspora di dunia politik, dibanding 10-15 tahun lalu. Dari pimpinan sudah memfasilitasi dan menginventarisir data para kader yang aktif di politik praktis dan birokrasi. 

Di sisi lain, Iwan Setiawan menyoroti soal transformasi kader yang jadi tema Pengajian Ramadhan PWM DIY tahun ini. Arti dari transformasi kader adalah memindahkan kader di Muhammadiyah ini tidak sekadar menjadi kader persyarikatan, tetapi menjadi kader umat dan bangsa.

Terlebih, saat ini banyak kader Muhammadiyah yang berdiaspora di berbagai sektor dan duduk di pemerintahan, baik sebagai eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Banyaknya diaspora kader ini, menurut Iwan, akan berpengaruh pada Muhammadiyah di 5 - 10 tahun mendatang.

“Dengan diaspora, akan berdampak signifikan pada pengembangan kader Muhammadiyah. Ini merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah yang secara transformatif akan berdampak pada tahun-tahun mendatang,” tutur Iwan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow