Panen Raya di Tengah Wabah Tikus, JATAM Tulung Mampu Panen Jagung 2.000 Kg
KLATEN — Di tengah serangan hama tikus yang masih melanda kawasan pertanian, Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Cabang Tulung, Kabupaten Klaten, tetap berhasil menggelar panen raya jagung di lahan wakaf produktif seluas sekitar satu patok atau ±2.000 meter persegi, Senin (29/6).
Meski dihadapkan pada ancaman hama, panen tersebut mampu menghasilkan sekitar 2.200–2.300 kilogram jagung pipil kering dengan harga jual mencapai Rp6.200 per kilogram.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulung, Muslim Subagyo, menjelaskan bahwa lahan yang dipanen merupakan tanah wakaf milik Sriyono yang dikelola JATAM sebagai bagian dari pengembangan pertanian produktif untuk kemaslahatan umat.
Menurutnya, keberhasilan panen ini diraih melalui perjuangan yang tidak mudah. Para petani harus berjaga hampir setiap malam, bahkan rela bermalam di sawah untuk menghalau serangan tikus yang hingga kini belum mereda.
"Alhamdulillah, meski wilayah kami sedang dilanda wabah tikus, kami masih diberikan hasil panen yang baik. Panen ini kami raih dengan berjaga setiap malam, bahkan bermalam bersama tikus," ujarnya.
Panen raya tersebut juga dihadiri Koordinator Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Wahyudi Nasution. Ia menilai potensi pertanian di Tulung perlu dikelola secara lebih terarah dengan menjadikan jagung sebagai komoditas unggulan berbasis jamaah.
Menurut Wahyudi, JATAM harus mampu menghimpun para petani dalam satu gerakan, meningkatkan kapasitas anggota melalui pendampingan, pelatihan, serta inovasi budidaya, sekaligus membangun kemitraan pemasaran yang berkelanjutan.
"JATAM harus mampu menghimpun para petani dalam satu barisan, meningkatkan kapasitas anggotanya melalui pendampingan, pelatihan, dan inovasi budidaya, sekaligus membangun kemitraan pemasaran yang berkelanjutan," katanya.
Ia menambahkan, JATAM saat ini mulai menjajaki kerja sama dengan industri pengolahan jagung guna memperkuat rantai pasok. Dengan adanya kepastian pasar, petani diharapkan tidak hanya memperoleh hasil panen yang optimal, tetapi juga memiliki jaminan pemasaran yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Wahyudi menegaskan, panen raya ini menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem pertanian Muhammadiyah yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan lahan, peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran hasil panen.
"Ke depan, model wakaf produktif dan pengembangan sentra jagung di Tulung diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi cabang-cabang JATAM lainnya dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi umat," ujarnya.
Kecamatan Tulung sendiri memiliki potensi besar untuk pengembangan jagung. Mayoritas petani menerapkan pola tanam Padi–Jagung–Jagung, yakni menanam padi pada Musim Tanam (MT) I, kemudian beralih ke jagung pada MT II dan MT III. Pola tersebut menunjukkan bahwa jagung telah menjadi komoditas strategis sekaligus sumber penghidupan utama bagi petani di wilayah tersebut.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow